Dunia Islam dan Sains (Sebuah Catatan)

Oleh: Boy Yendra Tamin


Dalam kehidupan sosial dan peradaban umat Islam, sains sebenarnya lebih dahulu maju dari apa yang terlihat pada masyarakat sekuler atau dunia Barat. Fakta ini tidak bisa dipungkiri, Islam pernah berjaya dengan sains pada masa sebelum abad 15. Namun mengalami masa-masa kemunduran setelah itu dan dunia Islam hanya menggeluti ilmu-ilmu agama. Apakah kemunduran sains dan teknologi di dunia Islam terjadi karena kalangan Islam mengambil sikap memisahkan agama dari kehidupan praktis manusia sebagaimana diklaim Dunia Barat atas kemajuan ilmu pengetahuan yang mereka capai ? Sepanjang sejarah Eropa, kekuatan gereja telah banyak menindas dan memperlakukan rakyat dengan semena-mena, sehingga tidak ada sedikit pun kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang berhasil diraih. Oleh karena itu, agama dianggap tidak praktis, tidak fleksibel, dan penuh dengan pertentangan sehingga dipandang sebagai penghambat perkembangan dan kemajuan manusia. Apa yang diklaim Dunia Barat atas kemajuan ilmu pengetahuan yang mereka capai pada satu sisi mungkin benar, namun tidak sepenuhnya benar.

Ada fakta yang menunjukkan, bahwa apa yang dialami oleh umat Islam terdahulu, telah tercatat dalam sejarah bahwa mereka telah mengukir zaman keemasannya dengan terang bendarang dan gemilang. Pada abad ke-10, kemajuan sains dan teknologi serta peradaban telah mencapai puncak kemajuan dan perkembangannya. Pada abad itu pusat-pusat perkembangan sains telah muncul di berbagai tempat. Ada tiga tempat yang dapat memicu perkembangan sains yang sangat gemilang, yaitu Timur Tengah Mesir, Pantai Utara Afrika, dan Andalusia. Saat itu dunia Islam memiliki gaya hidup khas yang lebih superior daripada dunia Barat. Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah yang tetap merupakan kota terbesar dan merupakan kosmopolitan yang menjadi perantara antara dunia Mediterania dan Hindu-Cina di Timur.( ) Karena itu tesis dari adanya kemajuan ilmu pengetahuan sebagai akibat langsung dari pemisahan agama dan sains tidaklah benar. Dengan demikian, kemajuan sains tidaklah terjadi seperti klaim Dunia Barat. Dalam hubungan ini, perkembangan ilmu pengetahuan pada masa pemerintahan Islam tersebut antara lain karena adanya definisi yang jelas tentang ilmu pengetahuan (science). Islam membedakan dua wilayah bahasan yang berkaitan dengan pengetahuan. Wilayah pertama berkaitan dengan urusan-urusan kemanusiaan yang mencakup politik, sosial, ekonomi, hukum, peribadahan, dan lainnya. Wilayah kedua berkaitan dengan ilmu pengetahuan murni.( ) 


Kejayaan Islam dalam dunia ilmuAkan tetapi fakta tersebut belum menjelaskan, mengapa dunia Islam sekarang ini sangat mundur dalam sains dan teknologi, bahkan terpuruk dalam segala bidang kehidupan, termasuk sains (?) Benarkah keadaan yang mengkhawatirkan ini merupakan akibat langsung dari umat Islam yang meninggalkan agamanya dalam mengatur seluruh kehidupannya, terutama dalam bernegara. Undang-undang negara, hukum, dan cara pandang yang berlaku di negeri-negeri Islam saat ini diambil dari faham ideologi sekuler dan kapitalis ? Pandangan ini penulis pikir bisa menjadi salah satu penyebab namun tampaknya bukan menjadi penyebab satu-satunya. Sebab yang masuk akal adalah kemungkinan berkembangnya pandangan Islam yang membedakan dua wilayah bahasan yang berkaitan dengan pengetahuan. Salah satu dari dua wilayah ilmu pengetahuan itu tercecer, yakni wilayah ilmu pengetahuan murni. Pendapat yang menyatakan mundurnya sains dan teknologi pada dunia Islam merupakan akibat dari praktik yang salah dalam pemahaman dan penerapan Islam, boleh jadi menjadi penyebab utama.( ) Bagaimana dimensi dari praktik yang salah itu tentulah tidak selalu identik dengan menggunakan hukum Islam sebagai sistem kehidupan atau ideologi. 

Persoalan kemunduran sains pada dunia islam penulis cenderung memahaminya sebagai akibat dari pembedaan dua wilayah ilmu pengetahuan dalam dunia islam pada masa kejayaannya dengan sains. Pemisahan dua wilayah ilmu pengetahuan pada dunia Islam yang diperkenalkan pada masa sebelum sains mengalami masa kemunduran, mengakibatkan sains tidak berjalan secara integral dengan wilayah keilmuan berkaitan dengan urusan-urusan kemanusiaan yang mencakup politik, sosial, ekonomi, hukum, peribadahan, dan lainnya. Sebenarnya soal sains yang dalam dunia Islam wilayahnya terbelah menjadi dua wilayah itu harusnya tidak dibiarkan bergerak saling menjauhkan diri, tetapi mestinya makin terintegrasi. Agama Islam sebenarnya tidak membuat garis pemisah wilayah Ilmu pengetahuan sebagaimana terjadi pada zaman kejayaan sains pada dunia Islam. 

Tidak ada penjelasan yang memuaskan, dan setidaknya bagi penulis, apa latar belakang terjadi pembagian dua wilayah ilmu pengetahuan dalam dunia Islam pada masa kejayaan sains. Alquran sendiri memuat berbagai petunjuk atas seluruh aspek kehidupan manusia secara menyeluruh. Dalam soal ilmu pengetahuan, sebagaimana dikemukakan Mumammad as Sayyid Yusuf dan Ahmad Durrah, bahwa tidak diragukan lagi kata al-”ilm (ilmu) dalam Al-Quran al-Karim mengandung banyak makna, baik yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu dunia (umum). Memang, banyaknya makna untuk kata al-I”ilm ini adakalanya membingungkan sebagian orang. Namun demikian, perlu digarisbawahi bahwa pada hakikatnya, semua ilmu itu menginduk pada satu sungai besar, yaitu sungai kehidupan, yang pada gilirannya akan mengantarkan manusia menuju muara kehidupan akhirat. Dalam pada itu, ilmu-ilmu dunia, baik yang bersifat teoritis maupun praktis, tidak dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu agama. Sebab seorang Muslim dituntut untuk mencari setiap ilmu yang dapat menghubungkan dirinya dengan Allah swt, menjadikan hidupnya dimuka bumi ini sejahtera dan bahagia, membuatnya meraih kehidupan mulia di akhirat, serta hidup kekal di akhirat kelak di dekat pada nabi, as-Siddiqin, para kekasih Allah dan syuhada-karena sesungguhnya mereka adalah sahabat terbaik.( ) Dengan demikian maka Ilmu pengetahuan yang terbagi dalam dua wilayah dalam masa kejayaan sains dunia islam, memang bukan sesuatu yang terpisahkan satu dengan lainnya. 

Persoalan ilmu dalam Al-Quran sungguh merupakan sumber yang sangat kaya dan menjadi potensi bagi dunia Islam untuk berjaya dalam sains. Bahkan perihal ilmu-ilmu yang tertuang dalam Al-Quran melampaui batas-batas kemampuan akal dan daya pikir manusia. Perkembangan sains yang dicapai masyarakat Barat belumlah seberapa dibanding dengan petunjuk-petunjuk keilmuan yang dituangkan dalam Al Quran. Secara ekstrem, dunia Barat mengklaim diri telah berjaya dengan sains dan teknologi saat ini, tapi banyak petunjuk-petunjuk ilmu yang lebih besar yang terdapat dan digambarkan Allah swt dalam Al-Quran yang belum bisa digali para ahli sains dunia Barat. 

Ketika dunia Barat memandang rendah kepada dunia Islam dalam soal sains di abad ini, tentu bisa dipahami. Mundurnya perkembangan sains dan teknologi pada dunia Islam, jelas bukan karena akibat sains dipisahkan dari agama sebagaimana klaim yang terjadi pada dunia Barat. Kemunduran sains dan teknologi dalam dunia Islam, menurut hemat penulis karena sains dan teknologi dikalangan dunia Islam makin berjarak dengan ilmu-ilmu keagamaan. Padahal sain dan teknologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penguatan iman umat Islam akan kebesaran Allah swt. Jika dicermati dengan sungguh-sungguh, Al-Quran menempatkan ilmu (sains) murni sebagai hal yang penting bagi kelangsungan hidup manusia dalam mempersiapkan kehidupan akhirat. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan pandangan sains dalam masyarakat sekuler, yang tergelincir ”mendewakan” sains. Padahal, ahli sain seperti Newton sebagai penemu teori Atom yang sekarang sangat berjasa dalam pengembangan sains di dunia Barat, menyerah pada hasil penyelidikannya ketika ia tidak bisa lagi mengurai partikel terkecil yang disebut Atom. 


Al-Quran sudah jauh lebih dahulu membicarakan sains dibanding para ahli sains dari dunia Barat, tetapi kalangan dunia Islam justru kemudian tahu tentang sains akan apa-apa yang telah dinyatakan dalam Al Qur-an. Namun dalam kenyataannya para ahli sains dari dunia Barat menempatkan diri sebagai penemu suatu teori karena intensitas mereka yang luar biasa mengedepankan sains. Misalnya sejumlah ilmuwan yang senantiasa mempelajari dan melakukan penyelidikan tentang perkembangan yang terjadi dalam alam semesta ini. Para ilmuwan itu selalu memberitahukan kepada kepada penduduk dunia, termasuk kalangan dunia islam hasil-hasil penyelidikan keilmuan mereka. Dalam konteks ini sebutlah misalnya kalangan astronom berkebangsaan Amerika bernama Edwin Hobble (1889-1953) yang pada tahun 1920-an menemukan bahwa alam semesta ini terus berkembang dan mengalami perluasan, yang kemudian lebih populer dengan nama Teori Big Bang. 

Menurut Teori Big Bang dari Edwin Hobble menyatakan, bahwa benda-benda langit yang kini satu sama lain saling berjauhan letaknya, pada mulanya saling berdekatan. Kalangan ilmuwan telah menegaskan bahwa pada awalnya benda-benda itu berasal dari satu titik yang menjadi sumber terjadinya ledakan. Dari ledakan itulah terjadi alam semesta yang kemudian terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu hingga menjadi seperti sekarang. Teori ini sejalan dengan teori relavitas yang dirumuskan fisikawan masyhur abad 20 Albert Einstein (1879-1955). Mereka ini, ahli sains dari dunia Barat telah menjadi sumber pengembangan sains yang sangat berarti bagi kemajuan ilmu dan teknologi dimasa sekarang dan mungkin juga dimasa depan. Penemuan dan pengungkapan teori-teori dari ahli sains dunia Barat itu mencengangkan dan dijadikan referensi dalam pengembangan sains, termasuk kalangan dunia Islam. Padahal, apa yang ditemukan Edwin Hobble pada tahun 1920-an itu, sesungguhnya telah menjadi pengetahuan dunia Islam lebih dari empat belas abad yang yang silam. Dalam hubungan Nabi Muhammad saw telah datang dengan membawa teori penciptaan alam semesta ini. Padahal beliau adalah seorang buta huruf yang tidak dapat membaca dan menulis. Lantas dari mana beliau mengetahui teori yang kemudian dibenarkan kalangan ilmuwan modern setelah empat belas abad berlalu ?. Bahwa penciptaan alam semesta yang diketahui Nabi Muhamad saw empat belas abad yang silam beral dari ilmu Tuhan. Hal ini sebagaimana firman Allah swt yang diterima Nabi Muhammad swa sebagaimana tertuang dalam Al Quran surat al-Ambiya [21] ;30 yang berbunyi: 


”Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman.”


Dengan demikian, sebagaimana dikemukakan Mumammad as Sayyid Yusuf dan Ahmad Durrah, bahwa sesungguhnya teori fisika –astronomi (kosmologi) modern yang terkenal dengan sebutan big bang theory ini telah menetapkan bahwa penciptaan langit dan bumi terjadi secara tiba-tiba sekitar satu milyar tahun yang lalu. Ketepatan ini mendekati pernyataan teks Al-Quran bahwa pada mulanya langit dan bumi saling berhimpitan satu sama lain. Namun kemudian, Allah swt meninggikan langit seraya meratakan bumi. Ayat ini dapat ditafsirkan sebagai berikut; bahwa dahulunya, langit dan bumi saling menyatu, kemudian Allah memisahkan keduanya dengan menggunakan kekuatan udara.( ) Penafsiran Mumammad as Sayyid Yusuf dan Ahmad Durrah tersebut dalam perspektif kalangan sufi, mungkin tidak tepat. Dalam konteks ini, teks dalam Al-Quran yang menyatakan bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, tidak identik dengan berhimpitan. Sesuatu yang padu merupakan satu kesatuan, sehingga bagaimana Allah memisahkan bumi dan langit yang suatu yang padu adalah ilmu dan rahasia Allah. Apakah sains dan ilmu manusia bisa mencari tahu bagaimana cara Allah swt memisahkan sesuatu yang padu menjadi bumi dan langit, menunjukkan keterbatasan sains murni. 

Tetapi yang terpenting dari big bang theory tersebut dalam konteks sains dalam kaitannya dengan dunia Islam adalah bahwa Al-Quran telah memberi petunjuk yang luar biasa bagi umat Islam dalam pengembangan sains sebagai sesuatu hal yang akan melengkapi kehidupan sosial dan kemanusiannya dan sekaligus meningkatkan iman manusia akan kekuasaan Allah swt. Disisi lain menunjukkan sains yang dikuasai manusia saat ini hanyalah sebagian kecil dari ilmu Allah swt. Dari perkembangan sains yang dicapai dunia Barat sebenarnya sudah menjadi pengetahuan dunia Islam. Masalahnya dunia Islam tidak melakukan apresiasi sebagaimana dilakukan ilmuwan dunia Barat atau setidaknya seperti yang pernah dilakukan pada masa-masa kejayaan sains pada dunia Islam jauh sebelum kejayaan sains pada dunia Barat di abad 20 ini. Padahal tidak satupun hakikat (teori) ilmiah yang tidak disebutkan Al-Quran sejak dari lebih dari empat belas abad yang lalu. Semua itu tentu pertama-tama dibacakan kepada umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya. (***)

v.Mumammad as Sayyid Yusuf dan Ahmad Durrah Pustaka Pengetahuan Al-Quran Jilid V, PT Rehal Publika, tanpa tahun hlm 47.

Catatan sumber bacaan:
i. Islam dan Ilmu Pengetahuan, islamic.xtgem.com/ibnuisafiles/list/nov08/islam_therapy/0034.htm
ii.Ibid
iii.Ibid
iv.Mumammad as Sayyid Yusuf dan Ahmad Durrah, Pustaka Pengetahuan Al-Quran Jilid V, PT Rehal Publika, tanpa tahun hlm 25