Waspada Penipuan Lewat HP Berkedok Keluarga Ditangkap “Polisi”

Penipuan lewat SMS sudah banyak yang tahu. Penipuan dengan menggunakan alat telekomunikasi HP mulai merobah gaya dengan menelpon lansung sasaran. Jika suatu kali kita menerima telphon dari nomor yang tidak dikenal dan sipenelpon mengatakan ada keluarga seperti anak, keponakan, adik , singkat orang terdekat dengan kita, mendapat masalah atau berusan dengan pihak berwajib, haraplah berhati-hati dan jangan lansung cepat percaya. 

Anda akan bisa tertipu ketika berita yang disampaikan sipenelphon ada keluarga dekat kita yang ditangkap polisi karena terjaring razia dan kedapatan mebawa ganja misalnya. Sipenelpon mengaku teman dari keluarga kita dan sedang bersama dengannya. Kemudian sipenelpohon tidak bisa menjelaskan ketika ditanyai, dan ia hanya mengatakan lebih baik bicara lansung sama polisinya. Kemudian HP pun dipindah tangankan, lalu seseorang dengan logat bicara “polisi” menyapa dan menjelaskan ada keluarga kita yang sedang bermasalah dengan hukum dan meminta klarifikasi identitas sikeluarga dekat kita itu. Kemudian ia meminta kita bicara lansung dengan kelaurga kita yang mereka sebutkan. Hp berpindah lagi, seseorang dibalik telphon menangis dan terisak-isak minta bantuan dan minta diurus kasusnya, dan seseorang yang menangis terisak itu mengatakan ia dijebak. Hp pun berpindah lagi ke sang “polisi” dibalik Hp.

Penipuan lewat hp
Menipu lwat hp
Setelah panjang lebar, seseorang yang mengaku polisi dibalik Hp, menawarkan bantuan mumpung berita acara razianya belum disampaikan kepada komandan, dan ia ingin membantu. Si “polisi” itu menawarkan antar mengantar ke rumah , tapi karena dalam razia ia tidak sendiri, ia minta kita untuk membantu dua temannya. Karena dua temannya akan kembali kekantor dan melaporkan Berita Acara razia, maka untuk itu kita diminta untuk bisa paham maksudnya. 

“Bapak bantu saja dulu, kirimkan saja pulsa untuk dua teman saya itu, gunanya juga untuk komunikasi dengan saya sebelum saya mengantar keluarga bapak kerumah”, ujar si “polisi” dibalik Ho. Si “polisi” menyampaikan lagi, “mohon bapak catat dua nomor hp ini . No yang pertama atas nama Brigadir Ibrahim dan nomor kedua atas nama Briptu Budi.” Harap bapak kirimkan pulsanya, biar ada rasa perhatian bapak kepada mereka.
Kemudian si “polisi” menegaskan ia segera mengantar keluarga kita kerumah dan ia minta kalau bisa sebelum sampai dirumah pulsa untuk temannya untuk berkoordinasi sudah dikirim. 

Jika anda menerima telphon seperti di atas, harap berhati-hati dan jangan cepat percaya. Biasanya orang mendengar ada anak, ponakan atau adik ditangkap polisi karena nakorba misalnya pasti kaget, panik, apalagi dengan scenario ditelphon dulu oleh seseorang yang mengaku teman dari keluarga kita, Disamping itu ada lagi yang berperan sebagai polisi dan kemudian ada yang berperan sebagai saudara kita yang berbica sambil menangis terisak, saat bicara. 

Biasanya kalau anggota bermasalaah apalagi berurusan dengan hukum, orang biasanya cepat panik dan los control diri. Langkah yang harus dilakukan, dengarkan saja ucapan sipenelphon dengan tenang. Lakukan pembicaraan seraya menyelidiki logika pembicaraan, dan perhatikan dengan cermat, biasanya di dalam dialog itu terselip permintaan tertentu. Lalu yakinkan diri anda ada yang aneh dan ganjil dari isi pembicaraan si penelphon. Dia anda harus lebih waspada, jika sipenelphon mendesak dan berharap kasus yang disampaikannya tidak diberitahu pada orang lain dulu, karena masalahnya masalah hukum dan sedang menjadi target pihak berwajib. 

Selain itu anda iya-iyakan saja permintaannya dan sebaiknya bergegas lah menutup telphon karena bisa jadi bisa ada kemungkinan hipnotis. Dan yang paling penting jangan biarkan diri kita kosong dan terhanyut dalam pembicaraan si penelphon jika kita tidak ingin tertipu. Kemudian setelah menutup telphon,hubungi saudara atau seseorang yang disebut sipenelphon itu, jika kita merasa was-was . Tapi kalau anda yakin , telphon itu adalah penipuan itu lebih baik, karena pihak kepolisian mempunyai mekanisme formal dan diatur secara hukum ketika ada anggota keluarga kita terlibat dalam kasus hukum. (***).

Artikel Terkait