Keterbatasan Sains

Oleh Boy Yendra Tamin

Bertolak dari pemahaman terhadap sains dan fenomenanya serta kaitannya dengan dunia Barat dan dunia Islam, pembicaraan mengenai keterbatasan sains menjadi tidak relevan, kecuali dalam ruang gerak sains sebagai ilmu murni yang dikembangkan atau dipahami ahli sain dunia Barat. Bahkan nyaris tidak ada pembicaraan mengenai keterbatasan sains, jika kita pahami apa yang dikemukakan Horal H. Titus, dkk, bahwa pada umumnya tidak ada sesuatu yang dinamakan sains, kecuali jika perkataan tersebut dipakai secara kolektif untuk menunjukkan bermacam-macam natural science atau kumpulan fakta-fakta yang telah terkumpul.

alam semesta yang luas
Alam semesta
Jika kemajuan sains dan teknologi murni hasil pencapaian penyelidikan ilmuwan memberikan faedah bagi kehidupan manusia sebagaimana yang kita rasakan dan pergunakan saat ini, ia hanyalah sebagian kecil dari sains yang dimiliki Allah swt. Kemajuan sains dan teknologi seperti yang dinimkati manusia diberbagai belahan dunia, seperti seseorang dari tempat dan jarak yang jauh bisa menyaksikan kegiatan atau aktivitas manusia seperti apa yang sedang berlansung melalui siaran lansung televisi, ia adalah merupakan hasil kerja keras ilmuwan. Apabila manusia sebagai ciptaan Allaw Swt bisa menciptakan teknologi yang memungkinkan orang dapat menyaksikan aktivitas manusia dari tempatnya yang jauh, atau para ilmuwan dapat melihat aktivitas atsronot di laur angkasa, atau para ilmuwan dapat melihat kumpulan bintang-bintang dengan teknologi ciptaannya, maka sangatlah mudah bagi Allah untuk menyaksikan segala aktivitas manusia dibelahan mana pun di alam semesta ini. Artinya dalam hakikat ilmu Allah adalah suatu yang tidak bisa ditandingi oleh manusia –bahkan mustahil— manusia bisa melihat pergerakan dan aktivitas segala makluk dan benda di alam semesta sebagaimana Allah melakukannya.


Dalam perspektif lain, jika manusia ciptaan Allah swt, termasuk ahli sains dan teknologi mampu menciptakan alat yang memungkinkan orang berbicara lansung dalam jarak jauh melintasi benua, bahkan sampai keluar angkasa tanpa kabel, maka sangat mudah bagi Allah swt dengan ilmu untuk berbicara dengan setiap makluk ciptaannya sebagaimana Allah swt menurunkan firmannya kepada Nabi Mumamad saw, atau kepada nabi–nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Masih banyak contoh lain yang dapat dikemukakan, namun yang terpenting sebenarnya adalah bahwa keterbatasan sains hanyalah dalam perspektif manusia dan tidak dalam perspektif Ilmu Allah swt. Meskipun kalangan sekuler kemajuan sains yang mereka capai acap kali dipahami sebagai penguasaan mereka atas dunia, namun sesungguhnya mereka hanyalah membuat replika-replikasi kecil dari sains Allah swt. Pandangan ini tentu tidak mudah diterima kalangan ahli sains sekuler, apalagi jika mereka memiliki paham yang kuat yang memisahkan sains dengan agama.

Dalam berbagai bentuk dan fakta, sains dalam perspektif manusia sesungguhnya memiliki keterbatasan. Apalagi kemampuan manusia dalam menguasai dan mengembangkan sains bermula dari menemukan beberapa hubungan yang bersifat empiris yang memungkinkan mereka untuk mengerti keadaan dunia. Sebagaimana dikemukakan George J.Mouly, bahwa usaha mula-mula di bidang keilmuan yang tercatat dalam lembaran sejarah dilakukan oleh bangsa Mesir, dimana banjir Sungai Nil yang terjadi setiap tahun ikut menyebabkan berkembangnya sistem almanak, geometri dan kegiatan survey. Keberhasilan ini kemudian di ikuti oleh bangsa Babylonia dan Hindu yang memberikan sumbangan-sumbangan yang berharga meskipun tidak seintensif kegiatan bangsa Mesir. Setelah muncul bangsa Yunani yang menitik beratkan pada pengorganisasian ilmu dimana mereka bukan saja menyumbang perkembangan ilmu astronomi, kedokteran dan sistem klasifikasi Aristoteles, namun juga silogisme yang menjadi dasar bagi penjabaran secara deduktif pengalaman-pengalaman manusia.[1] Apa yang dikemukakan George J.Mouly itu adalah memperlihatkan keterbatasan ilmu yang diklaim sebagai hasil daya pikir manusia. Dalam ungkapan lain, para ilmuwan mungkin bisa menyelidiki apa yang menjadi sebab penyakit pada manusia, tetapi ahli sain tidak akan berhasil menjelaskan mengapa manusia bisa sakit. Bahkan para ilmuwan sibuk mencari formula bagi penyebuhan penyakit yang diderita manusia yang sama tidak menjawab mengapa manusia bisa sakit.

Sampai dimana ilmu manusia berkembang dan dapat mengungkap rahasia alam semesta, tampaknya tidak akan pernah terwujud. Hal ini dikarenakan Ilmu pengetahuan modern hanya menitik beratkan objek penelitian pada bidang kematerian, sama sekali mengabaikan dan sesungguhnya sama sekali tidak memikirkan isi spiritual benda hidup. Walaupun banyak praktisi Falun Gong setelah latihan dapat menggunakan mata ketiga dengan jelas melihat wujud konkrit "De" dan "Karma", akan tetapi hingga saat ini, dengan metode ilmu pengetahuan modern tidak mampu membuktikan keberadaan "De" dan "Karma" secara nyata, maka tidak mendapat pengakuan dari kalangan ilmuwan. Keilmiahan dari supernormal Falun Dafa juga tidak dapat lebih luas lagi memberi manfaat kepada manusia. Karena manusia lebih percaya pada keobjektifan ilmu pengetahuan, dan teori yang masih belum dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern, nampaknya sulit diterima. Akan tetapi persoalan utama adalah kesubjektifan dalam penelitian ilmu pengetahuan modern adalah manusia menganggap perumpamaan sebagai kenyataan.[2]  Lebih jauh Lei Shu Hong memberikan contoh, dalam penelitian terhadap molekul, atom, electron, manusia dengan sendirinya menganggapnya sebagai partikel yang tidak bernyawa, hanya menyebut tingkah laku mereka sebagai sifatnya. Cara demikian sendiri sudah sangat tidak ilmiah. Karena tidak ada orang membuktikan bahwa mereka bukanlah kehidupan yang mempunyai pikiran. Bila tubuh manusia sebesar galaksi, bumi dalam tubuh manusia juga akan dianggap sebuah partikel yang sangat kecil, dunia spiritual makhluk hidup diatas bumi ini, apakah akan diperhatikan oleh ilmuwan manusia ? Hanya meniliti sisi yang kita anggap sebagai sifat kematerian dari partikel, justru telah mengabaikan bagian yang lebih penting. Umpanya, kita setiap orang mempunyai kepala dan empat anggota badan, diatas kepala ada sebuah hidung, dua mata, dua telinga semua orang sama. Akan tetapi seseorang menghadapi suatu masalah, tindakan dan akibatnya sama sekali tidak sama, ini adalah disebabkan taraf kondisi spiritual, cara berpikir telah menentukan tindakan mereka, maka jiwa seseorang, yaitu pikirannya bagi seseorang justru malah lebih penting. Ilmuwan sekarang biarpun mereka dengan jelas sekali mengetahui struktur internal mata, bentuk hidung manusia dll detailnya, juga selamanya tidak akan dapat menilai perilaku orang tersebut. Dengan menyamakan semua protein yang sejenis atau semua gen keturunan yang sejenis, apakah tidak sama salahnya bila mengabaikan sisi spiritual manusia, dan menganggap tingkah laku semua manusia oleh karena paras mukanya sama lalu disamakan dengan benda yang tidak mempunyai pikiran.[3]  Dengan demikian semakin jelas betapa dunia ilmu yang sekaran dikebangkan dan ”didewakan” Dunia Barat mempunyai keterbatasan yang amat sangat, namun diproyeksikan sebagai sesuatu yang luar biasa dan menjadikan sebuah ukuran bagi tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa.

Ilmu pengetahuan modern yang hanya menitik beratkan objek penelitian pada bidang kematerian yang dikembangkan dunia Barat yang sekuler telah membentuk peradaban pemujaan terhadap benda-benda atau alat-alat yang dikira manusia sebagai yang bisa memenuhi kebutuhan manusia dan memberikan penyelesaian terhadap masalah yang mereka hadapi. Dalam perkembangan lebih jauh, ilmu modern yang hanya menitik beratkan objek penelitian pada bidang kematerian telah menutup pengertian dan pemahaman manusia akan ruang ilmu yang lebih luas dan tidak terjangkau oleh daya pikir mananusia. Misalnya, saja para ilmuwan bisa menyelidiki akan pergerakan gempa dengan segala teori dan peralatan yang mereka kembangkan dengan bantuan ilmu yang mereka miliki. Tetapi tidak seorang pun ilmuwan yang bisa menentukan kapan dan seberapa besar gempa akan terjadi dan hal itu sebenarlah cukuplah bagi ilmu modern yang materialis yang dikembangkan manusia (ilmuwan) sebagai sesuatu yang terbatas. Dengan bergantung pada penggunaan metode ilmiah, maka ilmu modern bukanlah segala-galanya, apalagi untuk dijadikan kecenderungan hidup dan nilai peradaban manusia. Dalam sejarahnya ternyata ilmu modern tidak memberikan suatu kepastian kepada manusia. Lihat saja misalnya, bagaimana perjalanan suatu kesimpulan ilmu yang pada akhirnya menyatakan bumi ini bulat.

Bahwa ilmu yang dikembangkan manusia sejak berabad-abad yang lalu dan kemudian secara intensif digerakkan Dunia Barat yang sekuler, ternyata cenderung mengantarkan manusia memiliki watak kebendaan yang sangat kuat. Disisi lain sangat memuja kemampuan daya pikir manusia dan logika dengan metode-metode ilmiah sebagai andalannya. Dampak dari intensitas dunia ilmu yang dikembangkan Dunia Barat yang sekuler itu sudah sama-sama kita saksikan dan rasakan akibatnya dan pada waktu-waktu mendatang akan membawa manusia kehilangan sense sebagai makluk ciptaan tuhan. Dalam konteks ini, Bacon dengan metode dekuktifnya setidaknya cukup memberikan peringatan kepada Dunia Barat yang sekuler, dimana Bacon merasa yakin bahwa logika tidaklah cukup untuk menemukan kebenaran, karena menurut dia ”kepelikan alam jauh lebih besar dari kepelikan argumen”. Dalam hal ini logika dimulai dengan suatu anggapan yang sudah jadi yang menyebabkan terjadinya suatu kesimpulan yang menyimpang dari keadaan yang sebenarnya. Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa jika seseorang mengumpulkan keterangan yang cukup tentang sesuatu tanpa anggapan yang sebelumnya sudah terbentuk tentang hal tersebut –atau dengan perkataan lain mencoba mempertahankan objektivitas yang sempurna— maka hubungan-hubungan yang terkait secara asasi akan muncul sebagai kesimpulan bagi pengamat yang tekun.[4]


Meskipun demikian pandangan Bacon itu tentu mendapat tantangan dan kritik dari ilmuwan yang berseberangan paham dengannya. Akan tetapi sumbangan Balcon kepada kemajuan ilmu adalah penting yakni sebagai perintis yang menembus kubu pemikiran deduktif yang penggunaannya secara berlebihan menyebabkan dunia keilmuan mengalami kemacetan. Dia adalah pelopor dalam kurun dimana orang-orang seperti Galileo, Lavoisier dan Darwin, menolak logika dan pendapat ahli yang berwenang sebagai sumber kebenaran dan berpaling ke alam nyata untuk menemukan pemecahan masalah-masalah keilmuan. Penulis tidak berada dalam pertentangan tersebut, sebab yang terpenting dalam kesempatan ini adalah bahwa dalam perspektif keilmuan masih terjadi perdebatan mengenai motode berfikir ilmiah yang benar. Mana yang benar dan mana yang salah satu metode berfikir ilmiah itu, toh hasilnya kesimpulan-kesimpulan dari suatu penyelidikan yang dilakukan kalangan ilmuwan tetap saja tidak absolut dan terbatas dan berubah dari waktu ke waktu.

Hal yang kita kemukakan di atas tentu saja terkait dengan konsepsi keilmuan yang dikembangkan Dunia Barat yang sekuler, dimana ilmu-ilmu modern telah mengungkung penyelidikannya yang bersifat material. Bahkan sebagaimana dikemukakan Lei Shu Hong, persoalan utamanya adalah kesubjektifan dalam penelitian ilmu pengetahuan modern adalah manusia menganggap perumpamaan sebagai kenyataan. Keterbatasan ilmu yang bersadar kepada metode-metode ilmiah yang dikembangkan para ilmuwan akan semakin terasa bila dikaitkan dengan beberapa masalah yang dihadapi manusia yang tidak terpecahkan oleh ilmu sebagaimana didefenisikan para ilmuwan. Betapa banyak pula fakta-fakta kehidupan yang terjadi sepanjang sejarah kehidupan manusia tidak bisa diungkap ilmu mengetahuan yang dipandang sebagai sesuatu yang tidak rasional, padahal yang benarnya tidak terjangkau oleh kemampuan daya pikir dan logika manusia.

Keterbatasan ilmu yang dikembangkan Dunia Barat sebenarnya akan sangat nyata bila ditilik dari isi kandungan Al Quran, seperti big bang theory misalnya yang merupakan kesimpulan yang terlambat. Artinya, dimensi keilmuan dalam Al Quran jauh meninggalkan kemampuan penyelidikan manusia dengan senjata metode ilmiahnya. Ilmu telah dijadikan para nabi Allah swt sebagai obor yang membuka (menerangi) akan manusia, menciptakan berbagai peradabatan dimuka bumi ini, serta menghasilkan keimanan yang mampu menanamkan dalam diri manusia serangkaian nilai, akhlak dan keiklasan kepaa Allah Swt. Konsep keilmuan para nabi ini tentu saja sangat berbeda dengan konsep keilmuan ilmuwan Dunia Barat yang mengandalkan metode ilmiah dan cenderung menjadikan manusia mencintai kebendaan (materialistis). Namun janganlah mengira, ilmu tidak penting dalam Islam, persoalannya terletak pada perlakuan terhadap ilmu dan bagaimana menempatkan serta memberikan nilai terhadap ilmu itu.
 

Apabila kita perhatikan Al-Quran (QS.Al Baqarah (2):247), dalam ayat ini ilmu disebutkan lebih dahulu dari pada kekuatan. Karena ilmu merupakan sumber kekuatan dan faktor yang dapat menghasilkan kekayaan material. Sebuah peradaban yang hanya ditopang unsur kekayaan material dan tidak disangga unsur ilmu merupakan peradaban yang bersifat temporer (sementara) dan bakal lenyab. Sementara itu, kekuatan yang didasarkan pada unsur selain ilmu juga pasti akan musnah dan tidak sanggub bertahan lama. Konsepsi memahami ilmu dalam Islam tentu berbeda dengan konsepsi memahami ilmu dalam Dunia Barat. Konsepsi Ilmu yang dikembangkan di Dunia Barat mengandalkan kemampuan manusia melakukan penyelidikan dengan metode ilmiahnya, sehingga memiliki kertebatasan. Sementara dalam pandangan Islam, dalam Al Quran kata ilmu mengandung banyak makna, baik yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu dunia. Dalam konteks ini, haruslah kita pahami bahwa pada hakikarnya semua ilmu menginduk satu sungai besar, yaitu sungai kehidupan, yang pada gilirannya akan mengantarkan manusia menuju muara kehidupan akhirat, baik yang bersifat teoritis maupun praktis, tidak dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu agama.***.