Terkenang Diskusi Tentang “Masa Depan Minangkabau “ Yang Terbengkalai

Catatan: Boy Yendra Tamin

Lebih dari setahun yang lalu, persisnya  tanggal 22 Agustus 2010 jam 17:51 saya meng-tag sebuah pemikiran ringkas yang diberi judul “Minangkabau Di Masa Depan” disebuah group “facebook” bernama  MINANGKABAU FORUM. Sebenarnya saya boleh dibilang sudah lupa, tetapi saya diingatkan lagi akan diskusi itu ketika ada pemberitahuan di Fb saya dari Uda Amrizal Zein yang kini bermukim di Australia memberikan tag jempal pada topik diskusi tersebut.

Saya mencoba menjelajahi pemberitahuan dari Uda Amrizal Zein di Facebook saya itu, rupanya topik diskusi itu ditag kembali di sebuah grup media sosial Facebook bernama “PALANTA RANAH MINANG” dengan me-link-annya ke group MINANGKABAU FORUM yang diurusi Yurnaldi Paduka Raja dan Edy Utama (pendiri).

Riwayat singkat dari sebuah topik diskusi di media soal itu sengaja saya urai terkait dengan apa yang saya pikirkan saat membaca kembali topik diskusi itu dan sontak terucap “diskusi tentang masa depan minangkabau yang terbengkalai”.  Artinya pembicaraan diskusi terhenti begitu saja,padahal ada beberapas  hal yang sangat mendasar dari pembicaran diskusi itu meskipun yang terlibat dalam diskusi itu hanya beberapa orang saja, yakni Edy Utama, Marindo Palar Vinkoert, Yulian Hasmir, dan saya.  Diskusi itu hemat saya sebenarnya sudah mulai mendalam, tetapi sayang terhenti dan sampai saya kembali melihat setelah setahun lebih tidak ada yang meresponnya lebih lanjut. Padahal sebenarnya bisa dikembangkan lebih jauh bagi kepentingan ranah Minangkabau.

Sebagai keterkenangan saya pada diskusi yang terbengkai tentang “Minangkabau Di Masa Depan” yang ditag di facebook lebih setahun yang lalu di group  MINANGKABAU FORUM, berikut saya nukil dialog dalam diskusi dimaksud apa  adanya  per tanggal 26 September 2011;

Boy Yendra Tamin Full.
Adakah yang bisa memberikan gambaran seperti apa Minangkabau 10, 20, dan 50, 100 tahun ke depan, saat kita yang hidup sekrang mungkin tidak menyaksikannya lagi. Pertanyaan ini melintas dalam benak saya ketika lahir konktruksi minangkabau dengan latar belakang aspek-aspek temporer. Kita belum --atau setidaknya saya-- belum pernah membaca atau mendengar estate Minangkabau dimasa datang ada yang merancang. Merancang Minangkabau tentu sangat berlainan dengan rancangan program pembangunan pemerintah yang cenderung kepada pelayanan publik.
lebih dari setahun yang lalu

Edy Utama
Pertanyaan yang bersifat futuristik ini memang cukup menggoda Boy. Jika melihat kondisi sekarang, memang agak susah membayangkannya, karena kita sebagai masyarakat Minangkabau belum memiliki sebuah grand-disain atau strategi kebudayaan yang bisa dipakai sebagai acuan.

Boy Yendra Tamin Full
kalau demikian halnya Bang Edi ada kemungkinan estate dan identiti minangkabau dimasa datang mungkin saja hanya tinggal dalam sebuah catatan sejarah

Edy Utama
Belum tentu juga, tergantung bagaimana pengertian atau definisi identitas itu sendiri. Apa yang kita maksudkan dengan identitas? Sama artinya, apa yang kita maksudkan dengan Minangkabau itu?

Marindo Palar Vinkoert
Terus terang saja sanak(s), ambo indak mengerti bnar dgn budaya. Yang saya tahu, diusia yg 3 bulan lagi genap 50 thn, saya merasa kehilangan sesuatu. Saya merasa ingin kembali ke asal-muasal saya, Minangkabau. Sejak kecil saya di Padang sampai selesai kuliah thn 1986. Akhir 1986 saya keluar Padang, merantau sampai sekarang 2010. Orang bisa tahu saya orang Padang kalau udah bicara. Si lawan bicara pasti kemudian menebak, "Pak Marindo orang Sumatra..ya...., Sumateranya Padang..ya..?". Artinya identitas saya sebagai orang Minang, tinggal dilidah aja, yg tidak bisa meninggalkan logat Minangnya. Selain dari itu enggak ada lagi. Dilihat dari Nama saya orang bingung ada Palar nya, nama Menado. Karena Bapak saya memang punya darah Menado. Ibu saya asli orang Piaman, karena Bapak Ibu nya (kakek Nenek saya) asli Urang pariaman, Kurai Taji.

Rasanya, selama saya tinggal di ranah (selama 26 thn dari kehidupan saya), tidak ada yg mengajarkan kepada saya bagaimana abc nya menjadi urang Minang. Kehidupan berjalan begitu saja. Yang saya masih ingat, kalau pulang kampung, ke KuraiTaji, Buya saya (kakek kami dipanggil Buya), selalu marah dan menegor Ibu saya yg suka pake celana panjang dirumah. Pake celana panjang boleh, tapi pake baju kurung, itu selalu kata buya kalau menegor ibu saya. Sholat, dirumah, tidak boleh tinggal, beliau, kakek saya akan keliling kamar demi kamar mambaok tambala barisi air, sambil memercikan air ke muka cucu2 nya untuk sholat subuh berjamah. Tapi dalam masyarakat sendiri, tidak ada tuh yg menegor kalau saya nggak sholat. Dikampung juga, saya sering dibawa oleh ibu saya ke Mamak-Mamak. Saya nggak mengerti mereka itu siapa, tapi diceritakan kepada saya kemudian hari, bahwa mereka itu adalah saudara, famili dari keluarga besar kita, dan yang satu itu adalah Penghulu dari Anduang Mato Aia (keluarga saparuik) kita. Terus terang aja bagi saya itu hanya sekedar info. Saya nggak ngerti sepenuhnya apa artinya secara Adat.

Dari cerita ini, yg saya mau sampaikan adalah : Begitulah caranya saya mengetahui bahwa saya ini urang Minang. Artinya, tidak ada institusi khusus yang mengajarkan bagaimana harusnya menjadi Urang Minang.

Apakah ini relevan dgn topik diskusi ini ?. kalau tidak relevan saya mohon ma'af. lebih dari setahun yang lalu ·

Edy Utama
Biografie kehidupan orang Minangkabau memang ada yang terputus, dan generasi setelah PRRI, saya kira adalah generasi yang dibesarkan dalam keterputusan itu. Pertanyaan tentang, "bagaimana harusnya menjadi Urang Minang", dalam konteks kekinian, saya kira juga menjadi pertanyaan besar. Mungkin yang perlu dirumuskan secara bersama, nilai-nilai apa saja yang harus melekat pada diri orang Minangkabau, meskipun ini juga tidak bisa digeneralisir, karena fitrah manusia juga berbeda.

Yulian Hasmir
sebenarnya kalau kita bercermin dari pepatah "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah" sangat jelas bahwa identitas orang minangkabau adalah islam. jadi kalau ada pertanyaan "bagaimana harus menjadi orang minangkabau" jawabnya, jalankanlah islam dengan kaffah maka itulah orang minangkabau yang sebenarnya. tetapi dalam kehidupan sehari2 pertanyaan tadi menjadi ruwet karena ulah sekelompok orang , yang kalau di jawa disebut abangan, mereka jelas tidak setuju kalau identitas minangkabau itu adalah islam. kelompok ini terus menerus menggali peninggalan masalampau masarakat minangkabau (walaupun bertentangan dengan ajaran islam) lalu berteriak supaya dilestarikan atau di pertahankan dengan berbagai alasan. yang anehnya mereka semua menganut agama islam. kalau dibilang kafir mereka marah tapi adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran islam menurut mereka harus dipertahankan. orang2 yang mempertahankan adat istiadat yang tidak sesuai dengan ajaran islam sangat takut apabila adat istiadat itu direvisi maka mereka akan kehilangan pengaruh ditengah masarakat atau kehilangan jabatan dalam hirarki adat.

 jadi kalau kita ingin menyelamatkan generasi muda minangkabau saya mengajak kita sekalian mari kita selaraskan adat minangkabau dengan ajaran islam. segala yang bertentangan kita campakkan.

Marindo Palar Vinkoert
@Edy Utama : Terima kasih atas tanggapannya, tapi saya pikir, kita perlu meninjau ulang, apakah benar setelah PRRI, kita menjadi generasi yg terputus dgn adat ?. (saya menangkap, maksud terputus disini adalah terputus dengan tatacara hidup beradat). Apakah benar PPRI membuat kehidupan kita beradat urang Minang, menjadi berantakan karena kalah perang ?. Kalaupun iya disebabkan karena kalah perang, yg membuat mental urang Minang down begitu rupa, saya nggak mengerti bagaimana hubungannya kekalahan tsb dgn kehidupan beradat ?. Sebagai ilustrasi aja, Bapak saya (alm) walaupun bukan urang Minang asli, tapi beliau begitu bangga menjadi tentara PRRI. Ya.. Bapak saya, diumurnya yg baru sekitar kelas 1 SMP, diangkat anak oleh Panglima Dewan Banteng, LetKol Ahmad Husein. Tapi kebanggan tsb mungkin juga karena Bapak saya masih muda waktu itu..ya. Menurut cerita Bapak saya, PPRI kalah karena adanya intervensi "orang-orang politik", pada militer PRRI, termasuk diantaranya Moch. Hatta yg ikut "melemahkan" semangat Militer. Tapi Sanak, itu cerita sepihak dari Bapak saya almarhum) (link: http://pdri.multiply.com/journal/item/30/Dewan_Banteng_dan_PRRI )

 @Yulian Hasmir : Sanak, ambo satuju bana dgn pandapek bahwa untuk menjadi urang Minang sejati, jalankanlah Islam secara kaffah. Tapi persoalan menjalankan Islam secara kaffah ini merupakan fenomena global didunia Islam. Dimanakah negara berpenduduk mayoritas Islam, yg menjalankan Islam secara kaffah ?. Kalau ada, apakah kita berani menirunya dengan segala konsekuensi nya ?. Nada pertanyaan saya memang kedengarannya agak pesimis, karena secara realitas saat ini, kita baru bicara, belum sampai pada implementasi. Kekaffahan yg paling jauh kita capai barangkali baru sampai pada tahap ibadah wajib individu. Tapi bermuamallah secara Islami, sudahkan kita melakukannya secara kaffah ?. Karena kalau kita bicara masyarakat, didalam masyarakat ada kelompok yang kuat, ada kelompok yg kaya, ada kelompok yang lemah. ada kelompok yang miskin. Apakah dalam masyarakat kita, semua orang kaya telah menyantuni orang miskin. Semua yang kuat telah melindungi yang lemah ?. Barangkali dari sini kita bisa menyusun langkah strategis untuk ber ABS-SBK dalam konteks kekinian.

Edy Utama
Bung Marindo, kalau pelaku PRRI kelihatannya memang ada yang "bangga" disebut "pemberontak". Tapi masalah yang saya katakan sebagai keterputrusan sejarah ini, adalah bagaimana sikap orang Minang--terutama elitenya-- setelah PRRI. Sebetulnya hal ini telah terjadi sejak kemerdekaan, yang didorong oleh romantisme demokrasi dan nasionalisme yang menggebu-gebu. Mungkin sikap para pemuka masyarakat zaman revolusi itu tidak sepenuhnya salah, karena mereka begitu bersemngat untuk mengindonesia, sebagai sebuah negara baru yang ikut mereka perjuangkan. Dengan kata lain mereka abai dengan keminangkabauan, bahkan Kerapatan Nagari yang menjadi model dari demokrasi Minangkabau, diganti menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Nagari (DPRN) yang idenya pastilah dari demokrasi Barat.

 Kemudian setelah PRRI--kebetulan ambo ikut menulis buku Sumatera Barat di Panggung Sejarah 1945-1995, dan melakukan survey untuk fase sejarah ini, melihat bagaimana kemudian secara politik orang Minangkabau di-Orde Baru-kan. Para ninik mamak kemudian menjadi Kuning, bahkan para ulama juga dikuningkan. Golkarniosasi sebagai instrumen penting kekuasaan Orde Baru terjadi dengan sangat luar biasa di Minangkabau dan Sumatera Barat. Mungkin sama dengan Pilpres kemaren, SBY mendapat lebih 82 persen suara di Sumbar. Sepanjang yang saya tahu, di awal Orde Baru itu, menjelang Pemilu kedua (1971), hanya seorang Ulama kharismatik yang tidak masuk ke Golkar, yakni Datuak Palimo Kayo. Yang lainnya, bisa kita lihat lagi catatanya. Nah dalam mengordebaru inilah kemudian keminangkabauan "dinamaikan" dengan prinsip-prinsip pusat yang sentralistik dan feodalistik. Kalau tidak salah sekitar akhir tahun 80-an, sejarawan Taufik Abdullah menyentil orang Minang, dengan mengatakan bahwa orang Minangkabau sekarang (juga Sumatera Barat) telah mengukur keberhasilannya dengan ukuran oran lain (Pusat) sebagai acuannya. Atau, urang Minang telah memakai baju urang lain.

 Kasus berikutnya yang sangat mempengaruhi adalah keputusan Pemda Sumbar memecah nagari menjadi desa-desa, sesuai dengan UU No.5 tahun 1979, yang sentralistik. Sikap yang luar biasa akomodatif terhadap Pusat ini tentu saja memperlemah rasa keminangkabauan ini, karena tidak hanya berpengaruh pada kehidupan politik tapi juga pada kehidupan lainnya. Bisa kita lihat, Minangkabau tidak lagi diajarkan di sekolah, lembaga pendidikan budaya runtuh. Kondisi inilah yang melahirkan dan membentuk generasi Minangkabau sekarang ini. Untuk informasi yang lebih luas, bisa di baca buku Sumbar di panggung sejarah 1945-1995 atau buku Audrey Kahin, "Sumatera Barat, dari Pemberontakan ke Integrasi" Salam


Marindo Palar Vinkoert
Kalau memudarnya ke-Minangkabau-an karena politik Kuningisasi dan Seragamisasi Orde Baru, ambo setuju bana. Tapi Seragamisasi dan Kuningisasi tersebut terjadi diseluruh Indonesia, bukan hanya di Minang saja. Dan TIDAK ADA yang bisa berkutik pada periode 1971-1990 an itu. Jadi manuruik ambo, hilangnya ke-Minangkabau-an urang Minang, tidak berkorelasi dengan Kekalahan PRRI, kalaupun ada korelasinya tidak signifikan.

 Apalagi Sanak Edy Utama mengatakan :
 >Tapi masalah yang saya katakan sebagai keterputrusan sejarah ini, adalah bagaimana sikap orang Minang--terutama elitenya-- setelah PRRI. Sebetulnya hal ini telah terjadi sejak kemerdekaan, yang didorong oleh romantisme demokrasi dan nasionalisme yang menggebu-gebu. Mungkin sikap para pemuka masyarakat zaman revolusi itu tidak sepenuhnya salah, karena mereka begitu bersemngat untuk mengindonesia, sebagai sebuah negara baru yang ikut mereka perjuangkan<

Ambo tangkok dari kalimat ini, keterputusan sejarah Minangkabau sudah terjadi sejak kemerdekaan, terlihat dari Sikap Elite Minang yg lebih ingin mengindonesia ketimbang meminangkabau. Itu menjadi pertanyaan besar saya :

Apakah para elite Minangkabau yg berperan di kancah Nasional pada periode Merebut, Memproklamirkan, Menegakan, Republik Indonesia ini (Agus Salim, Moch. Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, M. Yamin, dan lain-lain itu) muncul kepermukaan karena mereka orang Minangkabau, atau karena mereka adalah individu-individu berbakat yang kebetulan adalah berasal dari etnik Minangkabau ?. Orang-orang dari daerah lain juga punya kebanggan seperti itu. Orang Manado, apalagi yg punya Fam Palar, itu bangganya setengah mati pula, karena mereka punya L.N.Palar yg jadi Dubes Pertama RI untuk PBB. Tapi apakah Lumbertus Nikolas Palar tersebut jadi Duta Besar RI untuk PBB, disebabkan karena kulturnya sebagai orang Menado, atau karena dia memang individu berbakat yg kebetulan terlahir sebagai anak menado ?.

Jadi maksud ambo, mengaitkan banyaknya urang Minang yg menjadi orang Hebat di zaman kemerdekaan dengan kultur Minangkabaunya, barangkali signifikansi nya tidak sebesar yg selama ini kita besar-besarkan. Perlu kajian juga ini, saya rasa. Berapa persen kontribusi adat budaya mereka terhadap kesuksesan mereka di kancah Nasional ?.

Tapi, Okelah, itu masalalu..., kini kito mancaliak ke depan. Mau jadi apa Minangkabau ini 10, 20, 30 bahkan 100 tahun kedepan ?. Yg jelas nilai-nilai luhur yg terkandung dalam ABS-SBK harus tetap menjadi landasan budaya kehidupan urang Minangkabau.
 Ambo usulkan, dari sekarang :
 1. Masukkan matapelajaran Minangkabau sebagai muatan lokal dalam pendidikkan dari SD sampai, minimal SMA di Propinsi SUmatera Barat. (Apaboleh buat, pendidikan Minangkabau untuk Generasi Muda di Rantau, belum tau kayak apa bentuknya nanti)
 2. Para Pakar Kebudayaan Minangkabau diminta untuk urun rembug menyusun kurikulum matapelajaran Minangkabau ini.
 3. TAGAKKAN SUARAU AWAK baliak. Surau harus difungsikan lagi, dengan adaptasi kekinian. Antar SUrau harus terhubung dgn adanya "Surau Network" . Guru yg mengajar apalagi Tuanku yang memimpin harus diberi penghargaan yg layak, sesuai ukuran zaman sekarang. Jan sampai uang les Matematika, les Piano, les Organ, dll, labiah gadang pulo dari uang mangaji.
 4. Buat hubungan antara SURAU dgn Pendidikan Formal. Caranya: Pelajaran Agama dan mungkin Pelajaran Minangkabau, dilakukan di Surau. (Catatan : Ambo dulu sempat sekolah di SMP Frater Padang selama 2 thn, itu SMP Katolik. Pelajaran Agama Islam sekali seminggu dilakukan di sebuah Madrasah, yg menjalin kerja sama dgn SMP Frater tsb). Nah, pola seperti ini bisa dilakukan.
 5. Pelajaran Ekstra Kurikuler, diarrange sedemikian rupa sehingga "muatan lokalnya" lebih menonjol. Misalnya Silek Minang, Randai, Talempong, dll.

Edy Utama
Para tokoh besar seperti Hatta, Syahril, Tan Malaka, Yamin dan lain sebagainya itu, saya kira selain memang orang yang berbakat, cerdas dan punya sikap, memang ada pola pikir tertentu dari Minangkabau yang mempengaruhi mereka. Misalnya Tan Malaka, seperti yang ditulis Rodolf Mrazek, ataupun yang ditulis Prof Alfian (Alm), dengan nyata memperlihatkan pola pikir yang memang dipengaruhi oleh Minangkabau, yang kemudian berdialektika dengan gagasan-gasasan dan pemikiran modern (Barat), dan pada Hatta mungkin diperkaya lagi pemikiran dunia Islam. Ada seorang peneliti saya lupa namanya, yang mencoba membandingkan gaya dan pemikiran dua tokoh proklamator kita Soekarno-Hatta. Kesimpulannya juga sama, ada sumber-sumber pencerahan pemikiran mereka dari kebudayaan Jawa dan Minangkabau (Sumatera). Memang, secara eksplisit beliau-beliau ini tidak mempresentasikan diri mereka sebagai orang Minang, namun kalau dilacak lebih dalam pengaruh keminangkabauan itu terasa.

Kembali pada dampak PRRI, sebagian besar hidup saya tinggal di Sumatera Barat, dan merasakan betul bagaima hegemoni Pusat itu bergembang di Minangkabau tanpa sebuah pergulatan yang kritis. Ingat, struktur politik yang dibangun selama Orde Baru sebagai peraqngkat kenegaraan kita, termasuk organisasi sosial kemasyarakatan, semua harus mengacu pada hirarki-sentralistik, yang dikontrol melalui tangan-tangan penguasa yang harus menyesuaikan diri dengan kemauan pusat itu. Sampai tahun 1980 awal, pola pikir yang berkembang dalam alam pemikiran politik kekuasaan di Sumatera Barat, bagaimana mereka bisa diterima kembali sebagai bagian yang tidak dicurigai sebagai daerah yang pernah memberontak. Pola pikir kemudian sirna ketika Soeharto memberikan penghargaan Prasamya untuk Sumatera Barat yang dianggap sukses melaksanakan pembangunan selama Pelita III. Suasana i8ni jelas sekali sangat mempengaruhi karakteristik keminangkabauan, yang pernah dimiliki oleh generasi sebelum PRRI. Memang begitu banyak kegiatan yang berbau Minangkabau (kedaerah) yang dilaksanakan setelah tahun 1983 tersebut, namun ytang terjadi sebetulnya hanya kesemarakan yang bersifat di permukaan. Substansi kebudayaan hampir tak tersentuh. Orang takut bicara budaya daerah, karena ini bisa dianggap sara. Jadi saya melihat, ini bukan kasus pribadi-pribadi, tetapi bagaimana sebuah rezim melakukan sterilasi terstruktur terhadap kebudayaan etnik di Indonesia, yang juga dialami hampir semua daerah di Indonesia, termasuk Minangkabau.

Usulan tentang apa yang akan dikerjakan, secara formal semuanya sudah dilakukan. Program kembali ke Surau sudah bertahun-tahun, muatan lokal sudah, bahkan sekarang mesjid-mesjid penuh oleh pesantren Ramhadan. Menurut saya, yang belum ada itu adalah, apakah ada yang betul-betul mau sungguh-sungguh memajukan masyarakat Minangkabau, baik dalam artian adatnya maupun agamanya. Selama ini saya kira kita lebih banyak beretorika tentang itu. Kebudayaan kita sekarang telah menjadi kebudayaan verbal, bukan lagi kata kerja. Selebihnya, yaitu bagaimana kita menformulasikan ajaran adat Minangkabau dalam tataran perubahan sekarang ini.

Itulah sebuah diskusi kecil yang terbengkalai, meskipun demikian jika disimak pembicaraan diskusi di atas, sebenarnya banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah orang Minangkabau dari berbagai elemen, termasuk pemerintah daerahnya ketika kita membayangkan bagaimana Minangkabau dimasa datang. ***

Catatan: beberapa tulisan bawaan facebook dalam tulisan ini tidak disertakan