Khutbah yang Menggelisahkan

Oleh: Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Khutbah artinya pidato. Tetapi menurut rasa bahasa kata khutbah selalu diartikan sebagai pidato keagamaan. Dalam tradisi Islam yang paling banyak dijumpai adalah khutbah Jum’at. Tentang perkembangan khutbah Jum’at di Tanah Air akhir-akhir ini menarik untuk dicermati, baik dari segi pelaksanaan jumlah salat Jum’at yang semakin bertambah maupun materi khutbahnya yang warna-warni.

Menurut ajaran fiqihnya, mendengarkan khutbah dan melaksanakan salat Jum’at hukumnya sama-sama wajib, meskipun pada praktiknya banyak juga orang yang datang terlambat mendengarkan khutbah. Yang mengagetkan, ada beberapa orang yang sengaja mau salatnya saja, namun enggan mengikuti khutbahnya. Mengapa? Karena isi khutbahnya bukannya menenangkan hati dan pikiran, tetapi malah menggelisahkan. Demikian seorang eksekutif muda menyampaikan keluhannya pada saya.

Kritik dan keluhan terhadap materi khutbah Jum’at tidak sulit ditemukan. Belum lama ini lembaga penelitian Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta mengadakan penelitian profil masjid di Jakarta dan Solo. Sengaja masjid-masjid Solo diteliti karena di wilayah ini muncul gerakan radikal keagamaan. Bahkan beberapa pelaku teroris memiliki kaitan dengan faham keagamaan yang berkembang di Solo.

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa masjid di Jakarta dan Solo – dan mungkin sekali juga di kota lain -  terbagi ke dalam beberapa kategori. Ada masjid yang dikuasai oleh jamaah NU, Muhammadiyah, pemerintah, independen, dan kelompok-kelompok keagamaan tertentu. Perbedaan afiliasi pengurusnya akan berpengaruh pada pilihan khatibnya serta materi khutbahnya. Bahkan sampai pada tingkat tertentu juga faham fiqih ubudiyahnya dan jamaah tetapnya.

Umumnya masjid NU dan Muhammadiyah faham keislamannya lebih moderat. Dulu, antara dua komunitas ini memang saling kritik dan serang, termasuk ketika ulamanya berkhutbah atau ceramah keagamaan. Tetapi sekarang semakin menipis konflik itu dan bahkan dua ormas ini dikenal sebagai penjaga tradisi Islam Indonesia yang moderat serta pengawal Pancasila yang konsisten. Hanya saja ketika masuk ke wilayah politik dan kekuasaan, polarisasi antara keduanya masih muncul.

Membajak Mimbar Masjid

Khususnya menjelang pemilu, forum dan mimbar Jum’at sering dibajak untuk kampanye terselubung. Kata “dibajak” mungkin terlalu keras, tetapi itulah yang terjadi, yaitu penyalahgunaan mimbar ibadah untuk tujuan politik golongan. Terlebih lagi jika pengurus masjid itu memiliki afiliasi kuat dengan parpol tertentu. Mimbar Jum’at ini memang strategis untuk kampanye dan melakukan indoktrinasi karena yang ada adalah monolog, khatib sebagai pembicara tunggal yang tidak boleh ada interupsi dan pertanyaan. Saya dengar kasus serupa juga terjadi di lingkungan mimbar gereja. Tetapi di masjid lebih terbuka sifatnya karena khutbahnya menggunakan loud-speaker sehingga orang lewat pun bisa mendengarkan.

Yang menjadi perhatian dalam tulisan ini adalah tampilnya khatib-khatib yang isi khutbahnya provokatif, sehingga membuat jamaah bukannya malah tenang melaksanakan ibadah Jum’at, melainkan malah gelisah. Dalam penelitian itu ditemukan isi khutbah yang sering menjelekkan sesama umat Islam yang berbeda faham mengenai hal-hal yang tidak prinsipiil dan memang dimungkinkan berbeda.

Ada lagi khutbah yang provokatif mengajak perang, padahal kita hidup di daerah damai (darussalam). Kutukan pada Israel selalu muncul pada setiap khutbah Jum’at. Dan umat Islam mesti bangkit melawan mereka di manapun berada. Lebih lanjut lagi, siapa yang bersahabat dengan umat Yahudi adalah musuh Islam, sementara Amerika Serikat adalah pendukung setia Israel negaranya bangsa Yahudi. Maka siapapun yang bersahabat dengan AS dan belajar ke AS adalah musuh umat Islam. Oleh karena itu hati-hati dengan agen dan antek AS yang berbaju Islam.

Logika dan provokasi di atas tentu menyesatkan. Mereka tidak menyadari bahwa di AS dan Eropa sendiri saat ini justeru tengah dihadapkan pada proses Islamisasi yang sangat intens. Kalau di sini bermunculan gereja, maka di Barat bermunculan masjid. Jadi, sebaiknya khutbah Jum’at itu yang mencerahkan dan mencerdaskan jangan malah menggelisahkan tanpa data dan logika yang akurat.

Kalau tidak, orang akan enggan ke masjid untuk mendengarkan khutbah, dan kalaupun datang hanya untuk tidur menunggu salat. Hasil penelitian UIN dimaksud menarik direnungkan oleh para khatib dan pengurus masjid, janganlah masjid yang suci dan mulia dibajak oleh agenda kelompok yang malah meresahkan umat.(***) Sumber: metrotvnews.com/read/analisdetail/ 2011/11/08