Indonesia Hijau (Go Green)

Ulasan Boy Yendra Tamin

Yakinkah anda Indonesia 30 tahun lagi Indonesia akan hijau kembali ? Mungkin ada yang yakin dan mungkin banyak yang tidak. Persoalan Indonesia hijau kembali tentu tidak soal waktu, tetapi lebih pada soal kebijakan dibidang kehutanan dan pemanfaatan lahan. Disisi lain terkait dengan regulasi dibidang pertambangan dan perkebunan juga turut menentukan Indonesia hijau. Meskipun antara mengharapkan Indonesia hingga lestari  dengan pemanfaatan sumber daya alam tidak selamanya bisa singkron yang keduanya sama-masa dalam kerangka kesejahteraan dan kemakmuran bangsa

Dengan demikian mengharapkan Indonesia hijau dalam kurun tiga puluh  mendatang, boleh jadi hanya sebuah harapan ketika pengendalian dan pengawasan pemanfatan hutan dan lahan masih menjadi aktivitas ekonomi. Tetapi Menteri kehutanan  Zulkifli Hasan berkeyakinan dengan kebersamaan seluruh kalangan Indonesia hijau akan terwujud dalam kurun waktu 30 tahun mendatang. Optimisme Menhut Zulkifli Hasan lengkapnya sebagaimana ditulis Republika.co.id  23/2/2012;

Proses Indonesia Hijau ternyata masih membutuhkan waktu yang sangat lama. Saking lamanya, bahkan membutuhkan waktu hingga 30 tahun untuk menghijaukan Indonesia hingga asri.

"Menurut para pengamat, Indonesia akan hijau kembali memerlukan waktu 165 tahun, kalau penangananya biasa-biasa saja. Tetapi dengan kebersamaan seluruh kalangan masyarakat dalam penghijauan, insya Allah hanya butuh waktu sekitar 30 tahun," tutur Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan di Wonosobo, Jumat (24/2).

Ia mengatakan hal tersebut dalam pencanangan kebun bibit sekolah di SMP Negeri 1 Mojotengah, Kabupaten Wonosobo. Hadir pada kesempatan tersebut, antara lain Bupati Wonosobo, Abdul Kholiq Arif dan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mulhim Asyrof.

Menhut mengatajak semua kalangan masyarakat untuk mengembangkan budaya cinta tanah, artinya tidak membiarkan tanah kosong. "Bangsa Indonesia diberi Tuhan tanah yang begitu subur, sepanjang tahun ada sinar matahari, jangan sampai ada tanah kosong yang merana. Kalau ada tanah merana Tuhan marah, waktu musim hujan terjadi banjir dan waktu kemarau terjadi kekering," ujarnya.

Ia mengatakan, walaupun tanah hanya sejengkal harus ditanami, bisa menanam pohon atau sayuran tergantung luasaanya. Bupati Wonosobo, Kholiq Arif mengatakan, Kabupaten Wonosobo merupakan daerah tangkapan air yang menyangga kurang lebih 13 kabupaten/ kota di Jateng yang berada di bawahnya, yakni kabupaten/kota Semarang, Kendal, Batang, Pekalongan, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Temanggung, Kebumen, dan Purworejo.

"Kalau Wonosobo baik maka ketersediaan air di daerah tersebut juga akan baik, tetapi kalau Wonosobo rusak maka ancaman bahaya banjir maupun minusnya ketersediaan air bersih di beberapa kabupaten/kota tersebut akan terancam," ujarnya.
Menurut dia, selama ini pemahaman akan pentingnya kelestarian lingkungan masih kurang, hal ini ditandai dengan adanya pengalihan fungsi hutan yang tidak terpola dengan baik serta pola pertanian yang tidak berpihak pada kelestarian alam, akibatnya berbagai kerusakan lingkungan seperti lahan kritis, berkurangnya habitat dan menurunnya debit mata air semakin memprihatinkan.

Ia mengatakan, program kelompok kebun bibit sekolah (KBS) atau gerakan Pramuka go green serta TNI manunggal lingkungan yang dicanangkan dalam kesempatan ini selaras dengan salah satu substansi pilar dalam penyelamatan lingkungan kawasan Dieng.

Keyakinan Indonesia hijau dalam kurun waktu 30 tahun mendatang –meskipun bukan waktu yang singkat tentu menjadi harapan semua kita. Semoga.