Kisah Syekh Haji Abdul Majid Dirampok Penyamun

Sebelumnya telah dikisahkan bagaimana Syekh Abdul Majid dimasa baru belajar di Surau Tanjung Bonai dan Cincin Guru, kali ini kisah Abdul Majid dirampok penyamun yang mencari uang merah.-Dunia hukum-

Disusun oleh: Buya Haji Ramli, M.Nur Engku Mudo, Almanar HAM.

Sebagaimana lazimnya dihari Kamis, murid-murid tidak belajar. Mereka yang jauh dari kampong halaman , berusaha mencari nafkah dengan meminta sedekah ke berbagai nagari di Lintau dan sekitarnya. Maka Abdul Majid pun ikut mencari nafkah dengan meminta sedekah menuju arah Tanjung Bonai Sungayang dan sekaligus ingin menemui Mamak yang menyuruhnya pergi ke Lintau mencari ilmu dahulunya. 

Sesampainya Abdul Majid dirumah mamak yang dituju, maka mamak senang dan gembira karena Abdul Majid telah menjadi orang yang berilmu walaupun belum seberapa. Saat akan kembali ke Surau Tanjung Bonai mamak tersebut memberikan belanja uang dan juga beras dan sambal ala kadarnya. 

Karena hari sudah semakin petang juga beliau minta izin kembali ke Surau sekaligus minta sedekah sepanjang jalan menuju Lintau. Mamak pedagang segera memberi izin dan nasehat supaya rajin-rajin belajar mengaji dan jangan lupa datang seminggu atau 15 hari sekali kerumah Mamak itu. “Baiklah, Mak ! saya akan kembali dulu”. 

Selesai sholat Ashar Abdul Majid melangkahkan kaki menaiki Bukit Marapalam secara berasur-ansur. Setibanya di pertengahan bukit, dekat sebuah tikungan terdengar suara, “Tunggu ! Tunggu!”. Dalam hati terkata bahwa ini adalah suara teman yang akan seiring sampai Lintau nanti. Begitu suara tadi hilang, 2 orang laki-laki datang dari depan, berkata “Beri kami r-okok, dan beri kami uang”. Jawab Abdul Majid, “Saya tidak mer-okok dan uang saya hanya ada sedikit saja”. “ Kamu jangan main-main”, sahut yang seorang lagi.“ Serahkan pada kami yang ada pada kamu”, kata seorang yang baru muncul dari belakang dengan mengacung-acungkan pisaunya. Ketiganya sekaligus mengeroyok Abdul Majid, memegang kantong dan sebagainya. Di dalam kantong yang ada hanyalah uang sebanyak tiga ketip = 50 sen. “Saya serahkan uang 5 ketip ini kepada mamak-mamak. Lepaskan saya, karena saya harus kembali ke surau secepatnya”. 

“Kamu jangan main-main dan jangan pergi dulu kami tak butuh uang yang sedikit ini. Kami perlu uang banyak. Kalau tidak kamu berikan nyawamu akan melayang di ujung pisau ini” kata yang memegang pisau. Begitu matanya terkedip, pisau diambil oleh Abdul Majid dan diarahkannya kepada salah seorang sehingga terjadilah perkelahian yang hebat satu lawan tiga, namun pisau tidak lepas dari tangan Abdul Majid. Begitu hebatnya perlawanan, maka salah seorang diantaranya ditangkap dan digulingkan, dipegang lehernya dan diijak pinggangnya sehingga yang lain lari. Akhirnya yang seorang ini minta maaf, “Jangan bunuh”. Lalu ditanyakannya kenapa mamak-mamak itu menyamun dan kenapa tidak berusaha dengan cara lain seperti bertani, berdagang dan sebagainya. 

Perampok itu bercerita dengan terlebih dahulu mohon dimaafkan teman-temannya yang telah menghindar sekarang. “Baiklah”. “Apa yang sebenarnya maksud mamak-mamak ini. Yang melarikan diri tadi segera datang dan minta maaf. “ Kami ini adalah pemain j-di yang kalah pertaruhan. Sawah dan lading kami habis tergadai, bahkan terjual. Kami bermimpi dimalam yang sama dan isi mimpi yang sama, yaitu untuk menebus kekalahan ambillah uang merah yang ada pada seorang yang meminta-minta sedekah, asal sesudah gadaian harta kembali nanti tidak akan bermain j-udi lagi. 
Dirampok penyamun atau penjahat

Demikianlah mimpi kami. Jadi sebelum ini sudah banyak orang yang kami rampok, tetapi tak juga berhasil mendapatkan uang merah tersebut”. “ Jadi mamak-mamak ini penyamun”. “ Ya kami menyamun hanya untuk mencari uang merah saja. Mudah-mudahan uang merah itu ada pada iri Pakih”. “ Tadinya mamak sudah periksa kantong saya dan sudah menyerahkan semua uang saya”. “ Sebaiknya Pakih cari lagi ditempat lain, kalau-kalau uang merah itu ada. Sekali lagi pakih sendiri yang mencari uang merah itu”. Dan ternyata memang ada sebuah benggol warna merah bernilai 2,5 sen, terbikin dari tembaga. Yang ini sempat di ingat oleh Abdul Majid berasal dari Ibu Saurah sesaat sebelum meninggalkan kampung. 

Akhirnya uang merah itu diberikan kepada penyampun itu sekaligus mereka minta maaf atas keterlaluannya dan mereka pun berpisah (*) Bersambung