Tamu Berdatangan Ke Surau Guguk Salo Termasuk Dari Singapura Dan Kisah Syekh H Abdul Majid Bertukar Ilmu Dengan Datuk Sirangkak

Tags

Disusun Oleh : Haji Ramli; M.Nur Engku Mudo; Almanar Ham

Semenjak dimulainya pemakaian Surau Guguk Salo tahun 1927, semakin banyaklah orang-orang berdatangan dari berbagai daerah. Ada yang ingin belajar semata-mata, ada yang menjadi tamu biasa, bahkan ada pula yang menjadikan surau itu sebagai tempat pelarian karena mereka bersalah.


Selain dari itu juga datang orang-orang ‘alim seperti : Iman Nurdin dari Candung, Haji Muhammad Syarif dari Sianok Bukit Tinggi, Haji Kadirun Yahya dari Medan, Abdul Munaf bin Jamil dari Singapura, Abdul Malin dari Palembang.


Terhadap tamu-tamu yang belum pernah sholat walaupun usia mereka sudah di atas 50 tahun seperti Bapak Dukun dari Pincuran Puti, Engku Gadang dari Sungai Jambu, Datuk Sirangkah dari Salimpaung dll. Kepada mereka tidak disuruh sholat , tetapi disarankan apa apa bisa dibuat , memasakkah, merebus air atau tidur, terserah kepada mereka. Lama kelamaan baru mereka mau belajar dan akhirnya pandai juga.

Berbeda halnya dengan Datuk Sirangkak yang tak pernah mandi, rambut panjang, kuku panjang, ilmunya banyak tentang kedukunan. Bila makan yang disuapi adalah sela-sela jariny, baik jari kaki maupun jari tangan.

Sekian lama beliau Datuk Sirangkak tinggal disurau belum tertarik hatinya untuk belajar apalagi Sholat jangan disebut-sebut. Kalau disebut/disuruh orang lain sholat  pasti dia marah.

Suatu saat diajak Datuk SIrangkak ini untuk bertukar ilmu dengan Syekh Haji Abdul Majid. Datuk Sirangkak bersedia,  “kalau benar-benar Buya (Syekh Abdul Majid) mau”,  Ujar Datuk Sirangkak.  “Berikan ilmu Datuk kepada saya dan saya akan berikan ilmu saya  kepada Datuk”. “Kalau begitu baiklah !”, kata Datuk Sirangkak. “Ilmu kedukunan, khususnya ilmu obat-obatan berikan kepada saya , yang lainnya dibuang, tak dipakai lagi”.

Surau
Datuk Sirangkak setuju, “lalau bagaimana caranya Buya”.  “Datuk harus mandi tengah malam nanti. Selesai mandi barulah datuk saya beri ilmu”. “ Baiklah, kalau begitu, buya benar-benar mau mengajar saya”. “ Yaaa..”. Selesai mandi baru saya berikan ilmu saya  kepada Datuk. Dan sekarang baca dulu dan ikutilah perkataan saya; Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah, saya mengaku bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah”.

Begitu selesai mengucapkan 2 kalimah syahadad. Datuk Sirangkak minta diajari sholat. Sejak dari kecil Datuk Sirangkak belum pernah sholat sedang umurnya di atas 70 tahun. Wallaahu a’lam bisshowaab, Fa’aalul lima yurid. * (Bersambung)  I Kisah sebelumnya klik disini

Artikel Terkait