Tips Memilih Program Studi/Jurusan Pada Sebuah Perguruan Tinggi

Catatan Ringan Boy Yendra Tamin 

Tidak jarang siswa SMU/SMK  setelah menamatkan sekolahnya bingung mau masuk perguruan tinggi mana atau lebih khusus mau memilih program studi/jurusan apa.  Ada banyak tips yang diberikan berbagai kalangan terkait soal memilih perguruan tinggi dan program studi/jurusan. Meskipun  bila direnungkan dari sisi keilmuan, sebenarnya tidak ada tips yang benar-benar tepat karena pada dasarnya setiap program studi/jurusan yang ada pada sebuah perguruan tinggi  jelas maksud dan tujuan pembentukanya. Setiap program studi/jurusan  yang ada pada sebuah perguruan tinggi  dibentuk dengan misi, maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Persoalannya kemudian adalah penting pula sejauh mana seorang calon mahasiswa mengetahui secara menyeluruh apa dan bagaimananya sebuah program studi yang akan diambil, termasuk akreditasinya.

Dari beberapa tulisan yang sempat saya baca yang memberikan tips memilih jurusan/program studi yang ditujukan kepada para calon mahasiswa dengan meminta agar calon mahasiswa mempertimbangkan mana program studi yang akan mengantarkan mereka untuk mendapatkan pekerjaan dan karir yang gemilang dimana datang atau setelah tamat. Bahkan ada juga yang memberikan tips memilih program studi/jurusan seraya mengingatkan calon mahasiswa  bahwa banyak lulusan dari suatu jurusan/program studi yang menganggur alias tidak bekerja. Tips seperti itu adalah tips yang keliru dan bisa jadi membuat calon mahasiswa bisa salah dalam memilih program studi/jurusan pada sebuah perguruan tinggi.  Mengapa ?  Bahwa pendidikan nasional tidaklah bertujuan untuk menyiapkan para lulusannya untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi  pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta  didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, krratif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 

Dari tujuan pendidikan nasional itu  jelas sejumlah tips yang diberikan kepada calon mahasiswa dalam program studi/jurusan dengan embel-embel agar memikirkan masa depan dan lapangan pekerjaan adalah sebuah kekeliruan. Meskipun dipahami seorang yang  melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi kelak setelah tamat butuh pekerjaan, dan karir yang baik dimasa depan. Akan tetapi lapangan pekerjaan bukanlah menjadi pertimbangan utama pembukaan sebuah program studi/jurusan, meskipun sisi ketersediaan lapangan pekerjaan  turut dipertimbangkan dalam pembukaan sebuah program studi. 


Sejalan dengan UU Sistem Pendidikan Nasional itu, maka dalam UU tentang Perguruan Tinggi disebutkan bahwa pendidikan tinggi bertujuan:
  1. mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia;
  2. menghasilkan  lulusan  yang  menguasai bidang ilmu, teknologi, dan/atau seni yang dipelajari  serta  mampu mengaplikasikan dalam peningkatan daya saing bangsa serta memiliki sikap  toleran, demokratis, berkarakter tangguh, serta  berani  membela  kebenaran untuk kepentingan nasional; dan
  3. menghasilkan karya penelitian dalam bidang ilmu, teknologi, dan/atau seni  yang bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa, negara, dan umat manusia
Memilih Program Studi
Add caption
Dari tujuan perguruan tinggi tersebut, maka tentulah seorang calon mahasiswa dalam memilih sebuah program studi/jurusan tidak seharusnya digiring disaat mereka memilih program program studi dengan memikirkan lapangan pekerjaan nantinya setelah tamat. Padahal dengan memahami fungsi sebuah perguruan tinggi –tentu sekaligus program studi/jurusan-- , dimana perguruan tinggi tidaklah berfungsi untuk mencetak tenaga kerja. Artinya sebuah perguruan tinggi bukanlah sebuah istitusi yang menyiapkan seorang mahasiswanya sebagai calon-calon tenaga kerja, tetapi sebuah perguruan tinggi berfungsi membentuk dan mengembangkan ranah kognitif, afektif,  dan  psikomotorik, serta sikap kooperatif  mahasiswa  melalui pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.  Oleh sebab itu, di dalam memilih sebuah program studi/jurusan pada sebuah perguruan tinggi tidak seharusnya pula dikaitkan-kaitkan dengan soal dapat pekerjaan atau menganggur nantinya setelah tamat kuliah. Memilih sebuah program studi/jurusan bagi seorang calon mahasiswa adalah soal  pilihan keilmuan  sejalan minat dan bakat calon mahasiswa,  

Dengan demikian dalam memilih program studi/jurusan pada sebuah perguruan tinggi yang pertama-tama harus didahulukan adalah minat dan bakat  akan suatu hal tertentu dan baru kemudian disesuaikan dengan program studi/jurusan yang mana minat dan bakat itu bisa dikembangkan dan di asah. Meskipun sebuah program studi yang dipilih belum tentu program studi favorit atau diminati banyak calon mahasiswa. Karenanya  harus dihindari memilih sebuah program studi/jurusan atas dasar favoritas, karena dipandang menjajikan masa depan yang cemerlang atau karena diperkirakan kesempatan kerjanya luas. Dalam kaitan ini tidak sedikit juga seorang tamatan perguruan tinggi bekerja pada bidang yang tidak sejalan dengan program studi yang dipilihnya dulu. Tidak sedikit juga yang bekerja dan berkarir sesuai dengan program studi/jurusan yang dipilihnya tetapi  karirnya tidak maju-maju. Tidak sedikit juga para lulusan perguruan tinggi tidak ingin bekerja dengan orang lain, tetapi menciptakan lapangan kerja sendiri dengan bekal pengetahuan yang diperolehnya selama kuliah program studi yang dipilihnya dulu dan lain sebagainya. Singkat kata, minat, bakat  kecdnderungan pada suatu bidang keilmuan yang ingin diwujudkan  adalah hal yang utama dan lebih penting di dalam memilih program studi/jurusan, ketimbangkan mengait-ngaitkannya dengan  pekerjaan dan karir nantinya setelah usai kuliah.

Bahkan seorang calon mahasiswa mesti mempunyai cadangan minat kedua dalam memilih program studi/jurusan yang dikarenakan tidak lolos pada pilihan program studi/jurusan sesuai minat utama atau disebabkan berbagai faktor lainnya misalnya alasan ekonomi dan sebagainya. Meskipun merupakan pilihan program studi/jurusan altenatif, namun sikap dan pandangan terhadap pilihan program studi alternative itu haruslah diposisikan sama sebagaimana adanya pada pilihan program studi/jurusan pertama.  Ada banyak oang sukses dalam hidupnya dengan latar belakang keilmuan sebuah program studi yang dulunya hanya merupakan pilihan kedua (altenatif), dan intinya kesusksesan seseorang dalam menjalani pekerjaan dan karirnya adalah kesungguhan dan ketekunannya dalam mendalami suatu bidang keilmuan serta mampu mengelola manajemen dirinya dengan baik. Inilah satu kunci penting dari  penempuhan pendidikan di perguruan tinggi, yakni terbentuk dan berkembangnya ranah kognitif, afektif,  dan  psikomotorik, serta sikap kooperatif  mahasiswa dan menjadi  modal dalam mendapatkan pekerjaan atau menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Sesungguhnya tidak ada tips yang benar-benar  tepat dalam memilih suatu program studi/jurusan pada suatu perguruan tinggi, apalagi diawali dengan mengedepan masa depan akan pekerjaan dan karir, yang terpenting sebenarnya adalah agar calon mahasiswa mengenali apa dan bagaimananya suatu program studi/jurusan dan menyelarasakannya dengan minat, bakat dan kecenderungan yang ada dalam diri seorang calon mahasiswa itu sendiri. Hal demikian lebih baik, ketimbang  memilih program studi/jurusan pada sebuah perguruan tinggi dari atas dasar pertimbangan-pertimbangan lainnya. Pertimbangan mutu dan kualitas sebuah perguruan tinggi tentu bukan tidak penting, tetapi dengan dikembangkannya sistem akreditasi program studi/jurusan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan nasional, hal itu setidaknya memberikan jawaban kepada calon mahasiswa akan eksistensi sebuah program studi pada sebuah perguruan tinggi yang akan dipilih. Bahkan belakangan standar penilaian akreditasi sebuah program studi yang makin ketat, maka perguruan-perguruan tinggi terus melakukan berbagai upaya untuk mencapai peringkat akreditasi terbaik. Selain itu soal kemampuan calon mahasiswa menghadapi  atau menjalani dan mengikuti proses pembelajaran pada suatu program studi tentulah harus dijadikan pula pertimbangan tersendiri.* Dunia Hukum.

Artikel Terkait