Budi Nan Barago

Tags

Oleh:Emral Djamal Dt. Rajo Mudo

Hasrat mendapatkan “cermin diri”, bagaikan “kaca kristal” pada kemampuan kalbu untuk merefleksikan nilai-nilai kehidupan yang hakiki dari hasil tanggapan yang benar mengenai “cahaya Ilahi” hanya dapat muncul dari jiwa yang sangat tercerahi dengan sinar-Nya. Jiwa-raga yang mentaati dan mematuhi serta mencintai Allah dan RasulNya, serta berharap untuk men dapatkan Nur-hidayahNya yang Maha Agung dan Mulia.

Bagi mereka, hamba-hamba Allah yang berjalan, “di bawah jejak telapak kaki Nabi” dengan sungguh-sungguh, tentu mendapat petunjuk-petunjuk tentang rambu-rambu jalan yang harus ditempuhnya. Dan pada saatnya pula akan dapat menemukan “sesuatu” dengan rasa hati. Kalangan ahli tasawuf menyebutnya sebagai “rasa nurani”, atau “rasa tajalli”.

Apabila pandangan atau visi seseorang sampai tingkat rasa murni, yakni “perasaan kosmis pada tingkat alam ketuhanan yang tinggi” di Arasy Allah Swt., maka keyakinan atas nilai-nilai kebenaran yang hakiki tersebut akan dipertahankannya dengan sungguh-sungguh. Walaupun harus mengorbankan harta, raga dan jiwanya. Tidaklah mereka akan berkeluh kesah dalam pendiriannya, tidak ragu, tidak takut, dan tidak gentar sedikit pun juga . Dalam petuah Minangkabau disebutkan “indak mahantakkan kayu bacupang la-i”.

Maksudnya tidak lagi mendua hati, “indak baralieh tampek tagak”. Tidak lagi bercabang pikirannya, tidak lagi goyang pendiriannya atas keyakinan pada Agama Islam yang Haq karena ia telah “menemukan sesuatu dengan perasaan”. Yakni “perasaan” yang telah melalui proses pensucian dan penjernihan hati, serta fikirannya. Perasaan yang telah dinaikkan ke fikiran dan fikiran yang telah diturunkan ke perasaan, seperti adagium adat mengatakan bahwa “raso dibaok naiek pareso dibawo turun” sebagai timbangan akal budi.

Akhirnya dapat “membangkitkan sesuatu” (potensi - syai’un). Inilah yang dikatakan sebagai menemukan sesuatu dengan perasaan. Perasaan ini menumbuhkan sikap tegas, berani, jujur, satria, dan pantang menyerah. Ini pulalah yang di mak sud Allah dalam firmannya: “Ala anna awliya-allahi laakhaufun ‘alaihim, walahum yahzanun.” Artinya: ketahuilah, bahwa sesungguhnya para Awliya Allah itu, tidak sedikitpun merasa takut dan gentar.

Berbagai tema yang bersangkutan dengan kenyataan, bahwa masalah kehidupan mental, dan emosional seseorang tidak dapat dipahami begitu saja. Jika analisa dan pengamatan ten tang dirinya, dilepaskan dari "sejauh mana" kondisi spritual yang mendorong sikap mentalnya kearah pembangkitan jati diri yang sempurna, telah dicapainya.

Banyak para ahli telah mengakuinya, bahwa meskipun pengaruh budaya global telah merasuki jiwa sebagian manusia dengan derasnya, yang mencampur adukkan pengaruh-pengaruh materialisme, sekularisme, atheisme, dan berbagai tu runan pikiran filosofisnya. Namun, bangkit berbangunnya kesadaran manusia kepada Tuhan, menumbuhkan penalaran baru, yang lebih menguatkan jiwa dan peri kemanusiaan orang - orang beriman.
Kekuatan tembus pandang, daya-basirah atau bobot orientasi dan analisa kesadaran kemanusiaan yang religius telah mem berikan makna baru tentang arti pentingnya hal-hal yang bersifat ruhaniyah, IMAN dan KETAQWAAN kepada Tuhan Yang Maha Esa, dalam diri manusia.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kematangan mental psikologis seseorang dan pertumbuhan spritualnya, tidak dapat dipisahkan dari perwujudan sikap, tindak, laku dan perbuatan jasad jasmaninya dalam kehidupan di dunia ini, yang melahirkan karakter, sifat dan kepribadiannya.

Yang berharga Budi
ilustrasi
Dunia ilmu pengetahuan modern telah memunculkan istilah baru psiko-spritual, yang membuhul dimensi batas keseim bangan antara kematangan psikologis dan pertumbuhan spiritualnya yang kemudian menyatu dalam diri seseorang. Inilah nilai-nilai yang mencakup aspek “budi nan barago”, “budi yang memiliki cahaya jiwa dan terhunjam dalam raganya”.

Kematangan psikologis "budi nan barago" menyangkut budi pekerti yang membentuk kepribadian dirinya yang akan me mancarkan sikap, laku, dan perbuatan seseorang sebagai tindakan kesadaran yang percaya diri. Ini menyangkut masalah religius, sisi kesadaran ketuhanan seseorang, yang terkait erat dengan kadar keIMANannya. Dan IMAN itu, hanya beriman kepada Allah Swt. yang dijalani oleh tubuh raganya, akal- fikirannya yang menembus kalbunya. Karena iman tidak sama dengan kebatinan/klenik. Sesungguhnya iman itulah "KATO PILIHAN, KATO NAN SAPATAH, KAJI NAN SABINJEK" yang di amanahkan kepada kita. Seperti difirmankan Allah dalam Al-Qur’an:

 “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah, dan kepada kalimat-kalimat Nya, dan ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S.Al’Araaf:158)

Laa ilaaha illa Allah, imanan Billah
Laa Ilaaha illa Allah, yaqinan Billah
Laa Ilaaha illa Allah, Amantubillah ...

Semoga Allah meridhoi kita semua, menjadi orang-orang yang berIMAN ... Aamiin... Aamiin Ya Rabb.....

"Jujuanglah langik jo bicaro bumi nan jaan katirisan !"

Catatanku di Pelita Hati - Tabloid Al-Hijrah 2002
Diperbahatui 2012. Emral Djamal Dt. Rajo Mudo

Artikel Terkait