“Platonis” dalam Kepenyairan

Oleh : Drs. Dasril Ahmad

Di Indonesia,  usia produktif kreativitas kepenyairan seseorang sangatlah relatif, dan tidak  selalu berbanding lurus dengan usia hidupnya.Penyair yang mulai produktif menulis puisi sejak usia remaja, adakalanya hanya mampu bertahan sampai usia 30-an atau 40-an tahun. Di saat itu, mungkin saja mereka telah puas karena beberapa puisinya telah dimuat di  koran terbitan Jakarta dan/atau di majalah sastra Horison yang notabene sampai kini masih dipandang sebagai  barometer kepenyairan, atau mungkin saja saat itu setelah  memiliki sebuah buku puisi sendiri, maka mereka sudah merasa puas, dan kreativitas mereka dalam menulis puisi pun  mulai menurun dan kemudian tenggelam sama sekali.

Banyak faktor penyebab menurun atau terhentinya kreativitas seseorang di dunia sastra, salah satu di antaranya adalah faktor kesibukan yang bejibun di dunia kerja, apalagi kalau masuk ke lingkungan birokrat.  Seperti diungkapkan sastrawan/budayawan Mochtar Lubis, bahwa sistem birokrasi yang meningkat luas dewasa ini, baik di kalangan pegawai negeri maupun swasta, merupakan salah satu faktor yang membuat orang kehilangan minat terhadap dunia sastra. “Kalau sudah jadi birokrat satu kali,maka sudah hilang minatnya kepada dunia sastra, karena macam-macam service yang harus diberikan kepada atasannya, dan kepada tempat bekerjanya,” tegas MochtarLubis  dalam suatu kali wawancara  di Padang, 1990 lalu.

Akan tetapi tidak demikian halnya dengan penyair Rusli Marzuki Saria. Mungkin ia termasuk salah seorang dari sedikit penyair di Indonesia yang masih produktif menulis puisi sampai menjelang  78 tahun usianya kini. Padahal, Rusli Marzuki Saria yang lahir di Kamang, Bukittinggi, 26 Pebruari 1936 ini mulai menulis puisi sejak usia 19 tahun (tahun 1955), dan sampai sekarang masih produktif menulis puisi. Beragam pekerjaan pun telah dilakukannya seperti; mantan agen  polisi kepala (brimob), mantan anggota DPRD kota Padang (1986-1991), dan juga mantan wartawan dan redaktur budaya di harian Haluan Padang (1969-1999).  “Keistimewaan lain yang hanya dimiliki dan tetap dilakukan oleh segelintir penyair Indonesia,juga dimiliki Rusli Marzuki Saria, yaitu tetap terus berkesinambungan menulis puisi, bahkan ketika usianya mencapai 73 tahun pada tahun 2009 ini. Puisi-puisi Rusli Marzuki Saria yang ditulis akhir-akhir ini (tahun 2009) tidakmemperlihatkan penurunan kualitas dibanding sajak-sajak yang ditulisnya pada tahun 1980-an, misalnya. Beberapa di antaranya justru tampak geliat Rusli Marzuki Saria dalam menulis puisi dengan lirik yang lebih panjang dengan diksi berpola dan penuh variasi,” kata Hasanuddin WS, Guru Besar Ilmu Sastra UNP Padang, dalam catatan pengantarnya untuk buku kumpulan puisi Rusli Marzuki Saria “Mangkutak di Negeri Prosaliris”, 2010: 128)

Menanggapi vitalitasnya dalam menulis puisi yang masih tinggi di usia menjelang 78 tahun itu, Rusli Marzuki Saria yang akrab dipanggi Papa ini menyatakan,  “Menyair adalah dunia yang sunyi, beda dengan dunia seni pop yang sebentar nama melambung tinggi. Dalam seni murni seperti puisi ini, kita  harus tahan nafas, karena puisi dunia pergulatan terus-menerus. Memerlukan dunia baru, sehingga  passi (passion) haruslah  diperlihara dengan cinta. Kadang-kadang kita seperti (Nabi) Isa As. Mencintai setiap ragaku sebenarnya senang bohemian,seperti Chairil. Untuk itu, harus dipelihara kesehatan. Memelihara kesehatan tidaklah mahal,” kata penyair “parewa” ini ketika ditemui di kediamannya,Selasa, (27/8/13) lalu.

Dunia Kepenyairan
Rusli yang sampai sekarang masih senang menulis puisi menggunakan mesik tik, (karena bunyi mesin ketik itu sangat merdu seperti nyanyi yang  dapat merangsang inspirasi) ini, mengakui, untuk memelihara passion (semangat/gairah  kerja) dalam menulis puisi, ia selalu bersikap“platonis”, memelihara cinta yang bersifat persaudaraan. “Platonis itu perlu untuk memelihara passion dan  meningkatkan vitalitas dan kreativitas  kepenyairan. Platonis itu  berguna bagi saya, terutama  untuk memelihara suasana hati, agar selalu jernih ketika menulis puisi, sehingga  kita bisa tulis surat-surat cinta yang tidak diposkan, seperti surat-surat cinta Chairil Anwar. Sudah memasuki 78 tahun usia saya kini, namun saya masih tetap menulis puisi. Banyak puisi saya yang rancak,” jelasnya. 

Penyair yang telah menerbitkan sepuluh buku puisi dan esei, serta  Penerima Hadiah Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI  (1997) atas kumpulan puisinya “Sembilu Darah” ini, sama sekali tidak mau memandang rendah nilai puisi-puisi penyair pemula yang ramai di jejaring sosial facebook dan malah ada yang  telah diterbitkan dalam bentuk  buku puisi  dewasa ini. Menurutnya, biarkanlah seleksi zaman yang akan menilainya. Suatu waktu, mereka akan tahu mana puisi yang bagus dan mana yang hanya sampah. “Ketika inspirasi dan imajinasi itu muncul, tak heran kalau seseorang di usia muda bisa menulis puisi sampai 10 puisi dalam sehari. Tetapi kelak ketika sudah memasuki usia 40-an, mereka tentu akan lebih matang dan selektif dalam menulis untuk dipublikasikan. Di saat itu kelak mereka akan tahu mana puisi yang bagus dan mana yang hanya sampah saja,” tegasnya sambil gelak terkekeh-kekeh. *** (Padang,26 September 2013)

 * Dasril Ahmad, Penulis Sastra, tinggal di Padang

Artikel Terkait