Reportase Khusus Perjalanan Wisata Religi ke Kota Pariaman (Memperingati 1 Muharram 1435 H)

Oleh Al Amin Putra Zaen 

Hari ini Selasa, bertepatan pada tanggal 5 November 2013 secara hitungan Masehinya, namun hitungan Islamnya adalah 1 Muharram 1435 Hijriyah. Berangkat menuju Pariaman dengan cuaca yang seperti biasa di Kota Padang Tercinta ya sedikit mendung dan kadang juga panas, namun saya pun yakin bahwa akan tetap hujan di sore harinya. Pilihan lokasi ke Pariaman memang disepakati dengan tujuan selain berlibur juga ingin mengetahui seluk beluk lebih dalam mengenai kebudayaan yang ada di Kota Pariaman. Karena Kota Pariaman menyimpan suatu hal yang sangat berharga, apalagi khusus untuk wisata religinya cukup menarik yaitu Makam Syekh Burhanuddin di daerah Ulakan. Sosok tokoh ini sangat berarti sekali bagi orang Pariaman, karena dipercayai dialah yang membawa agama Islam langsung ke ranah Minang tentunya. 

Setiba di Kota Pariaman saya menyempatkan diri untuk sholat di salah satu mesjid di Kota Pariaman di daerah Aia Pampan namanya denga gaya dan struktur bangunan yang klasik dibangun puluhan tahun yang lewat dan tetap mempertahankan bentuk klasiknya serta berada di daerah yang strategis sejuk dan indah. Tidak hanya mesjidnya saja yang begitu menggoda saya untuk ingin sholat zhuhur berjama’ah, kawasan yang begitu sejuk membuat saya untuk ingin beristirahat sementara menunggu adzan berkumandang di teras bagian dari mesjid ini. Bunyi kicauan burung dan alunan udara yang sepoi-sepoi mengayun begitu indah. Terasa nyaman, tentram dan tenang bukan berarti sepi. Sepi berarti hampa saja tanpa ada perasaan yang begitu tentram dan merasakan sesuatu hal energi positif yang lebih baik. 

Seketika suara adzan mulai berkumandang, saya langsung mengambil wudhu’ dan bergegas menuju mesjid kembali untuk sholat. Melihat didalam mesjidnya begitu indah dan megahnya salah satu Istana Allah ini. dengan sentuhan klasik namun tidak membosankan membuat saya ingin berdiam diri sejenak untuk beribadah kepada Allah. Selesai sholat berjama’ah saya pun masih tergila-gila dengan kesan yang menyentuh dinding-dinding yang terukir begitu indah. Memandangnya berdecak kagum sekali. Betapa tidak, inilah salah satu mesjid dari beberapa mesjid yang saya kunjungi diberbagai daerah begitu klasik namun indah dipandang. 

Setelah menyelesaikan tugas wajib saya dari Allah, saya bergegas ingin menghampiri Makam Syekh Burhanuddin, yang mana kata orang sosok tokoh ini memiliki daya tarik yang begitu dalam. Tidak hanya orang lokal saja yang tertarik dengan sosok ini namun dari berbagai daerah luar Sumatera Barat bahkan Mancanegara pun ikut tertarik dengan sosok ini. Jarak yang saya tempuh dari pusat Kota Pariaman menuju daerah Ulakan lebih kurang berjarak 5 KM. Meski jauh tapi tetap saja hati saya ingin berkunjung ke tempat ini karena memiliki daya tarik sendiri tentunya. 

Setiba di daerah Ulakan saya dihampiri beberapa orang penjual dagangan keripik yang terbuat dari Udang, Kepiting dan Ikan. Hal ini tentu menjadi wisata kuliner yang asli dari Kota Pariaman, tidak hanya berupa keripik, namun ada juga disebut makanan “Sala Lauak”. Entah mengapa mereka menamakan makanan itu namun bagi saya sangat elok juga wisata kuliner macam ini dan Kota Pariaman bisa menjadi destinasi dari wisatawan mancanegara dan lokal. Tidak hanya berupa wisata kuliner, namun ada wisata budaya yaitu “Hoyak Tabuik” yang memiliki cerita sendiri. 

Kembali ke Makam Syekh Burhanuddin yang katanya banyak orang yang ingin mengunjungi tempat makam ini untuk memohon penyampaian do’a kepada Allah melalui sosok Syekh Burhanuddin ini. Tentu ini merupakan ciri khas kebudayaan masing-masing daerah yang memiliki keyakinan mereka sendiri-sendiri. Namun bagaimana pun juga inilah kebudayaan aslin Indonesia yang menyimpan rahasia yang sangat cemerlang jika ada seseorang yang ingi mengoreknya lebih dalam dan diangkat menjadi sebuah kisah khusus yang bisa menjadi peningkatan wisata khusus di daerah Kota Pariaman. Mengingat kunjungan wisatawan ke Kota Pariaman cukup meningkat dari tahun kemarin meski sedikit demi sedikit menurut Dinas Pariwisata di Kota Pariaman. Kota Pariaman yang sangat strategis dan membentang menyilang di bagian Barat Sumatera memiliki pantai yang begitu indah karena ada beberapa pulau yang bisa dilihat dari pusat kota Pariaman tersebut di kawasan Pantai Gandoriah. 

Masjid di komplek Makan Syekh Burhanuddin

Makam Syekh Burhanuddin bertempat di daerah ulakan. Tempatnya dilihat mungkin sedikit kurang terurus dan kebersihannya sedikit terjaga. Dengan konsep bangunan yang ada di samping makam yang tak jauh yang kini ditunggu-tunggu pembangunannya yang katanya mesjid ini besar dan akan menggantikan mesjid yang ada di sekitar Makam Syekh Burhanuddin dengan usia terbilang sangat lama sekali beratusan tahun lamanya. Namun mesjid yang dibangun kondisinya pada saat ini belum mencapai penyelesaian yang lebih baik. Mengingat banyaknya jumlah orang yang akan berkunjung ke tempat ini pada hari-hari tertentu maka orang tersebut tentu tidak ingin menyia-nyiakan untuk ingin beribadah sholat di mesjid Syekh Burhanuddin ini. Meski Makam Syekh Burhanuddin diberikan perlindungan berbentuk rumah khusus namun tetap saja kurang terurus dengan baik. Hal ini tentu tidak menggangu ibadah saya dan kunjungan saya ke Makam Syekh Burhanuddin ini. 

Setelah menuju ke Makam Syekh Burhanuddin saya pun langsung menuju Pantai Gandoriah yang katanya memiliki kawasan yang sangat indah dengan sentuhan beberapa pulau yang menghiasi pantai ini. Setelah sampai di pantai ini saya pun bergegas ingin menikmati kuliner di salah satu tempt pondok-pondok ini. Memilih tempat yang bersih, menarik dan bisa view langsung ke pantai yang katanya ada beberapa pulau. Setelah memilih tempat saya pun memesan kuliner yang ada. Setelah menduduki kursi yang tersedia, saya pun melihat-lihat ke arah pantai dan benar ada beberapa pulau yang menawan menemani pantai ini menjadi begitu indah dan elok di pandang mata, apalagi ditemani dengan beberapa kuliner yang menarik dan lezat. Tidak ketinggalan juga angin sejuk nan sepoi-sepoi tentu menemani saya dalam keramaian yang membuat udara terasa sejuk. 

Setelah menikmati makan di tepi pantai Gandoriah saya pun bergegas menuju mesjid untuk melaksanakan sholat ashar. Sedikit agak lebih jauh dari kawasan kota Pariaman yaitu di daerah Kabupaten Padang Pariaman yang tak kalah menariknya lagi juga memiliki mesjid yang sangat-sangat indah dipandang. Di daerah Pauh Kambar namanya terletak salah satu mesjid milik seseorang. Tempatnya bersih denga ornamen modern eropa oriental namun tetap merupakan tempat ibadah umat Islam tentunya. Gaya khasnya yang elegan membuat saya menghampiri mesjid ini. meski hujan sedikit mengguyur tetap menuju mesjid ini. 

Gerbang Bercoarak Minangkabau
Gerbang
Setelah mampir di mesjid ini saya pun langsung menuju ke kota Padang untuk mengakhiri kunjungan saya ke Pariaman dengan reportase khusus mengenai wisata religi. Banyak hal yang sangat menarik dari kota Pariaman sendiri. Tidak hanya budaya, wisata lainnya seperti religi dan kuliner sangat amat didambakan juga oleh semua wisatawan yang mengunjunginya. Mereka pun puas namun ada yang perlu disarankan untuk pengembangan wisata di kota Pariaman adalah, masalah kenyamanan yang lebih baik, masalah kebersihan harap diperhatikan oleh pihak terkait dalam hal ini agar terciptanya sapta pesona dari cerminan pribadi Kota Pariaman Kota Tabuik... **

Artikel Terkait