Warna Budaya Minangkabau dalam Sajak-Sajak Hartojo Andangdjaya

Oleh :  Drs. Dasril Ahmad


Warna sastra Indonesia mutakhir masih terlihat orientasi yang kuat kepada sastra tradisional. Boleh disebut, yang dikatakan sastra Indonesia mutakhir itu rupanya masih bertolak dari hal-hal yang berbau tradisional juga. Kendati ada inovasi.

Para sastrawan Indonesia mutakhir mempunyai animo serta tatapan yang besar juga untuk memberi warna (lokal) tradisional dalam karya-karyanya. Hal ini terutama terlihat jelas pada sastrawan yang berada di daerah, di mana pengaruh sastra dan budaya tradisional daerahnya masih erat melilit dan dipegang teguh dalam kehidupan sehari-hari.Namun secara global dapat dikatakan bahwa sastrawan masa kini mempunyai kecenderungan besar untuk menjadikan salah satu unsur sastra tradisional sebagai warna sastranya, dan juga sebagai pangkalan bertolak kreativitasnya.
warna Minangkabau dalam sajak
Dasril Ahmad

Kita lihat sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri dan (juga)  Ibrahim Sattah yang  bertolak dari tradisi mantra.Sajak-sajak Rusli Marzuki Saria bertolak dari kaba (sastra lisan di Minangkabau). Cerpen-cerpen Danarto bertolak dari Tasawuf Kejawen Jawa.Karya-karya Putu Wijaya, terutama dalam teater, bertolak dari budaya tradisional Bali. Beberapa sajak Darman Moenir bertolak dari tokoh-tokoh utamadari kaba-kaba yang amat terkenal di Minangkabau, dan novel Bako Darman Moenir bertolak dari sistem budaya masyarakat Minangkabau yang matrilineal.Serta banyak lagi karya-karya sastra Indonesia kita masa kini yang   menunjukkan gejala serupa.

Fenomena di atas juga kita temuidalam sajak-sajak Hartojo Andangdjaya. Hartojo yang oleh HB Jassin dikelompokan ke dalam sastrawan Angkatan 66 itu, dilahirkan di Solo pada tahun1930. Selama beberapa tahun (1957 – 1962) ia menetap di Sumatera Barat, yakni mengajar di SMP Negeri Simpang Empat Pasaman. Dalam era yang relatif singkat ini, ia berhasil menatap dan merekam tata budaya kehidupan masyarakat Minangkabau yang dapat kita lihat dalam sajak-sajaknya yang terbit kemudian.(lihat kumpulan Buku Puisi, Pustaka Jaya, 1973).

Tema-tema yang digarap Hartojo dalam beberapa sajaknya pada kumpulan ini adalah masalah kehidupan rakyat sehari-hari di  Minangkabau. Kehidupan rakyat yang dipayungi oleh suasana sepi. Sepi yang menjelma di kampung-kampung dan sepi yang bertolak dari percikan budaya setempat, yang dirasakan sayup-sayup ditengah kehidupan masyarakatnya yang damai dan tenteram. Sementara itu, warna budaya Minangkabau yang kelihatan dalam sajak-sajak dari penyair kelahiran Solo ini lebih kuat berorientasi kepada struktur pantun (sastra lisan Minangkabau).Mursal Esten (1982 : 78) mengatakan, gejala untuk berorientasi kepada kebudayaan tradisional (dalam  hal ini puisi tradisional) tidak hanya terlihat dalam tema-tema yang digarap di dalam puisi, tapi juga menyangkut masalah struktur dari sajak-sajak yang ditulis.

Kita lihat sebuah sajak Hartojo Andangdjaya yang berpola pantun berikut.
            Pantun Tidak Bernama
            1
            Tak seorang mau melempar pandang
            bunga mekar di sela lalang
            Tak seorang tahu di sebuah ladang
            cinta berpendar di siang lengang
            2
            Ada layar putih kemilau
            menuju ke pulau bernyiur hijau
            Ada debar kasih mengimbau
            ke hari lampau di sebuah dangau

            Ada mendung tergantung tebal
            di ujung selatan di batas tapal
            Ada untung sudah diramal
            di ujung penghabisan: selamat tinggal
            3
            Ada pantai di ujung Pasaman
            ada bukit melingkar hutan
            Ada sangsai di ujung angan
            ada sakit dilingkar rawan

            Ada bunga meratap di ladang
            tertinggal jauh nun di seberang
            Ada mata menatap berlinang
            tertinggal jauh di balik kenang

                        (Buku Puisi, 1973 : 15)

Pantun merupakan bentuk sastra lama yang amat digemari oleh masyarakat Minangkabau. Dalam pantun tergambar segala aspek kehidupan masyarakat sehari-hari. Justru itulah, bagi masyarakat Minangkabau (dahoeloe) tidak pandai berpantun merupakan sesuatu yang aneh dalam masyarakat,seperti diungkapkan dalam sebuah pantun Minang yang berbunyi: “Saelok sarancak iko parak/ indak basukun agak ciek /saelok sarancak iko mah awak/Indak bapantun agak ciek.”

Pantun di atas membawa pengertian kepada kita, bahwa seorang anak di Minangkabau  haruslah pandai berpantun dalam situasi yang bagaimana pun juga. Bagi muda-mudi di Minangkabau pada zaman lampau, mereka dalam bercinta selalu mempergunakan pantun untuk menyatakan isi hati di hadapan sang kekasih. Bagitu indah dan menariknya pantun, apalagi kalau dinyanyikan.

Begitu juga dengan sastra lisan Kaba. Bakaba bagi masyarakat Minangkabau tempo dulu merupakan bagian tak terpisahkan dari rutinitas  kehidupan sehari-hari.  Kaba disusun dalam bentuk prosa berirama (prosa liris). Bentuk serupa itu mengutamakan kalimat yang pendek-pendek dan tepat. Dan lebih mementingkan unsur bunyi. Kaba Minangkabau seperti; Sabai Nan Aluhi, Malin Kundang, Anggun Nan Tongga, Sitti Baheram,Rancak di Labuah merupakan kaba-kaba yang amat terkenal dan digemari masyarakat, di samping kaba-kaba lainnya. Karena itu dapat dikatakan bahwa sastra lisan kaba sejak dahulu sampai sekarang tak pernah usang di hati masyarakat. Apalagi bagi seseorang yang berada jauh dari alam Minangkabau, atau dari kultur yang berbeda. Ini menandakan bahwa alam Minangkabau sangat kaya dengan tradisi sastranya, yang merupakan bagian terbesar sebagai pendukung darikebudayaan Minangkabau itu sendiri.

Sajak Hartojo berjudul Minang dengan cermat menatap dan mengungkapkan hal itu. Kita simak sajak itu dalam kuplet bertikut:

            “Inilah tanah, di mana Sabai dilahirkan
            Di mana Malin, si durhaka, menerima kutukan
            Di mana kaba ialah sebagian dari kehidupan
            Dan beragam pantun mengalun dalam nyanian”
                                   
                                    (Buku Puisi,1973 : 16)

Kesadaran akan hakekat kaba sabagai sastra lisan; sastra yang dilisankan penyampaiannya, maka seperti dikemukakan di atas, sebuah kaba disusun dalam bentuk prosa liris. Kalimatnya dipotong-potong menurut susunan tertentu dalam upaya untuk menciptakan unsur bunyi yang indah. Karena itu, memanglah kaba lebih enak dan menyenangkan didengarkan bila dinyanyikan. Apalagi bila diiringi dengan seperangkat alat musik tradisional pula.

Bertolak dari dan untuk kepentingan ini, penyair Hartojo Andangdjaya mencoba memberikan makna kehidupannya di alam Minangkabau dengan menulis sajak yang identik dengan struktur sebuah kaba. Kita lihat sajak Hartojo berikut.

Nyanyian Kembang Lalang

Putih dipadang-padang
putih kembang-kembang lalang
putih rindu yang memanggil-manggil dalam dendang
orang di dangau orang di ladang
putih jalan yang panjang
kabut di puncak Singgalang
sepi yang menyayup di ujung pandang
putih bermata sayang
wajah rawan tanah Minang

            (Buku Puisi, 1973 : 21)

Ada pepatah berbunyi, “Jauh berjalan banyak yang dilihat, lama hidup banyak yang dirasakan.” Bagi Hartojo, hidup di tanah Minangkabau dirasakan sebagai hidup dalam dunia baru, yang melumpuhkan ingatan dan kenangannya terhadap masa lampau yang dilaluinya di tanah kelahirannya sendiri. Sajak Hartojo berjudul Jalan Setapak menyiratkan hal demikian. Kita lihat bait keempat dari sajak itu. 
            “Seperti akupun tak pernah tinggal di Solo
            menyusuri jalan-jalannya, tak kenal ngaso
            dan seperti kita sama sekali tak punya masa lampau
            dan berada kini di sini, di sudut tanah Minangkabau”

                                                (BukuPuisi, 1973 : 14).
Begitulah, sekelumit tinjauan terhadap sajak-sajak Hartojo Andadjaya dalam konteks orientasi penyairnya yang kuat kepada budaya Minangkabau. Sajak-sajak Hartojo Andangdjaya lainnya masih banyak yang memperlihatkan warna budaya Minangkabau  demikian, namun dengan beberapa sajak di atas,sajak-sajak lainnya itu telah terwakili. Di samping tema-tema yang digarap berorientasi pada alam Minangkabau, juga Hartojo tak abai terhadap tradisi sastra lisan Minangkabau sendiri yakni pantun dan kaba. Pola-pola sajak Hartojobanyak berorientasi ke sana. Sayang, kini Hartojo telah tiada. Semoga arwahnya tenang di alam sana, sebagaimana ketenangan yang memancar dari sajak-sajaknya,yang sampai saat ini masih dapat kita nikmati dan jadi milik kita senantiasa.***  (Padang, 23 Januari 1991).
  
 *) Tulisan ini pernah dimuat di Harian Haluan(Padang) dan Harian Pelita (Jakarta) tahun 1991.
**) Dasril Ahmad,penulis sastra, tinggal di Padang.

Artikel Terkait