Kato: Metoda Berfikir Khas Minangkabau

Oleh:Emral Djamal Dt Rajo Mudo

Orang Minangkabau secara teoritis mempunyai pola fikir yang bisa ditelaah secara filosofis. Wawasan berfikir menurut pola fikir Minangka bau tersebut, dinamakan “Alam Fikiran Minangkabau”, bersifat filosofis.

Alam Fikiran Minangkabau tersebut, tidak hanya tinggal sebagai sebuah teori, tetapi telah diaplikasikannya dalam kehidupan sehar-hari, sebagai sarana komunikasi dan edukasi masyarakatnya.

Sarana komunikasi ini terungkap dan diungkapkan dalam bentuk sas tra yang unik. Keunikan sastra tradisi lisan Minangkabau terlihat jelas dari beragamnya ungkapan-ungkapan adat dalam bentuk pidato adat, kulindan, gurindam, pantun, mamang, bidal dan berbagai pepatah-petitih adat yang penuh dengan symbol-simbol, kias dan ibarat.
 
Metode Berfikir
Emral Djamal
Untuk mengetahui Alam Fikiran Minangkabau, maka kita perlu mene laah ungkapan-ungkapan adat itu. Sesuai dengan pesan adat yang meng isyaratkan adanya pengertian-pengertian tersurat, tersirat dan tersuruk. Dari penelaahan ungkapan-ungkapan adat inilah baru tampak bagaimana alam fikiran khas Minangkabau sesungguhnya bisa dijelaskan, secara teoritis.

Kias dan Ibarat

Para Cati Bilang Pandai, pemikir-pemikir adat dan ahli perenungan menyari, dan merefleksikan berbagai analogi, mengambil kias dan ibarat dari hukum-hukum yang tersurat dalam alam, kemudian diaplikasikan dalam kehidupan ini sesuai dengan maksud dan tujuannya, seperti disam paikan petuah :

Ba-kato ba-umpamo,
mangecek ado kiasannyo
Malantiang manuju tampuak,
manembak ado sasarannyo

Ungkapan perasaan dan pemikiran manusia Minangkabau, tentang suka duka, susah senangnya berbagai pengalaman kehidupan kemudian diekspresikan dengan tutur bahasa yang halus, etis dan estetis, indah penuh kias dan ibarat-ibarat alami, yang dapat dikategorikan sebagai puisi. Bah kan sebagian diantaranya dalam penampilan didukung oleh laku dramatik tertentu sehingga dapat pula dirasakan dan dihayati oleh orang lain.

Laku dramatik merupakan ekspresi kesusasteraan yang pertama dalam konflik antara masyarakat tradisional dengan kebangkitan sikap individu. Tutur bahasa yang indah itu bahkan puitis hanya mampu didapat kan oleh orang-orang yang birahi, dan tulus hatinya, dalam perenungan-perenungan hakiki yang jernih :

Lilin jo loyang kok disapuah
di sinan pati mangko tagok
Tatkalo kato kiasan jolong katumbuah,
alamko birahi ka nan elok.

Tutur bahasa yang indah dan puitis itu , bukan sebentuk kato bakila yang pahamnya nafi belaka (tidak ada arti dan maknanya). Kato kiasan itu, untuk mengkomunikasikannya kepada orang lain, kadang kala diperlukan laku tematik atau dramatik yang sesuai dan pas. Karena setiap komunitas masyarakat mempunyai pola warisan ekspresi laku dramatik , khususnya Minangkabau seperti kita dapatkan dalam randai, bakaba, dendang, dan dalam acara alek-alek tradisional lainnya.

Laku dramatik juga digunakan dalam bidang sosial seperti komunika si sambah manyambah dalam dialog adat peminangan, penyambutan tamu dalam alek-alek adat, serta terapi penyembuhan, psikoterapi, pendidikan pribadi, dan sebagai kaedah membangkitkan kesadaran intelektual, dll.

Sistim Budaya Alam Minangkabau

Para ahli secara umum mengatakan tentang tradisi : “Sebagai sistem budaya, nilai tradisi merupakan sistem yang menyeluruh, terdiri dari pemberian arti terhadap laku ajaran, laku ritual, dan berbagai jenis tindak laku dan perbuatan lainnya dari manusia atau sejumlah manusia yang me lakukan tindakan satu dengan yang lain. Unsur terkecil dari sistem itu ada lah simbol, meliputi simbol konstitutif (yang berbentuk sebagai keper cayaan), simbol penilaian moral, dan simbol ekspresif atau simbol yang me nyangkut pengungkapan perasaan. Setiap masyarakat tradisional memiliki simbol yang membedakannya dari masyarakat (tradisional) lainnya. Karena itu mereka bersungguh-sungguh pula menghormati dan menjaga simbol-simbol yang menjadi identitas mereka.”

Sandi Pandirian

Manusia Minangkabau dalam kehidupannya berpegang teguh kepada Azaz Nan Ampek, yang terakumulasi ke dalam Sandi Azas yang Satu, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Maksudnya azas yang empat harus utuh menyatu dalam wujud idealnya untuk dikembalikan kepada Azas Yang Satu. Mengapa demikian ?

Bagaimana asumsi orang Minangkabau tentang Yang Empat, karena Yang Empat itu mengandung pemikiran yang berlapis-lapis adanya. . Oleh karena itu orang Minangkabau kalau disindir tidak tahu di empat, maka mereka akan tersinggung. Mengapa nilai-nilai yang empat itu, begitu pen ting dan berharga sekali ? Karena esensi falsafah hidup orang Minang kabau tertuang dalam azas falsafah serba empat. Bagi orang Minangkabau azas falsafah serba empat ini kalau diuraikan banyak sekali, tetapi azas yang utama antara lain adalah :

• Undang yang empat
• Adat yang empat,
• Kato yang empat,
• Jalan yang empat,
• Kalimah yang empat.
• Bana yang empat
• Dan seterusnya …

Itulah sebabnya orang Minangkabau kalau dikatakan tidak tahu di empat, berarti tidak tahu adat. Kalau tidak tahu adat, berarti tidak beradat. Kalau tidak beradat berarti jahil (bodoh). Pembodohan terjadi karena tidak tahu dan tidak mau tahu dengan adat !

Pusako Kato

Pusako orang Minang dalam konteks pemikiran filosofis adalah Kato. Sehingga ada yang mengatakan bahwa sebenarnya orang Minang itu tidak mewarisi / memiliki apa-apa, karena Pusako orang Minang yang sebenar nya adalah Kato. Pada dasarnya kriteria pusako orang Minang itu ada 2 (dua) : Pertama, pusako yang berupa : jauah dapek diliek, dakek dapek dikakok-an. Kedua, pusako yang tidak berupa : yakni Pusako Kato.

Sebagai pusaka maka kato tersebut dinamakan Kato Pusako. Sebagai Kato Pusako di Alam Minangkabau amat banyak sekali. Ada jenjang tang ganya (bajanjang naiek batanggo turun), ada klasifikasinya dan banyak macam ragamnya yang perlu dipilah-pilah, sesuai jenis, maksud dan tujuan nya . Begitupun di dalam menuntut ilmu Adat Nan Kawi yang harus di Kitabullah, yang selalu diingatkan adalah :

Partamo, Kato Pusako
nan bajanjang naiek
batanggo turun,
babarih babalabeh
bacupak balukisan,
bapandam panguburan..

Kaduo, Kato Limbago,
Limbago Jalan Batampuah
di ateh Cupak Nan Tatagak

Ragi Nan Takambang
di Suri Tuladan Kain
Limbago jalan batampuah,
itu karajo Niniek Mamak.
sarugo di iman taguah
narako di laku awak

Katigo, Kato Perbuatan,
 “…tibolah karajo nan baiek,
dicari hari nan elok,
mupakaik diganggam
niaik dipasampai,
dipatuik dan dijangko
Kato putuih dek sapakaik,

Limbago handak menuang (limbago dituang)
Adaik nan handak maisi (adaik diisi)
warih nan handak menurun
adat nan handak mamakai.

lalu di-anta-kan ka janjang tanggonyo,
diiringi rukun jo syaraik-nyo
iyolah minta ditarimo sajo
jo hati nan suci muko nan janieh.
habih dayo badan talatak
tibo paham aka baranti
ujuik satu pangana bunta
Kato, putuih sandiriNyo.”

Kato Nan Kuat,
nan dikaluakan dari pado limbago
tiok-tiok suatu nan tumbuah
sapakat sagalo ninik mamak pangulu
alim ulama, cadiek pandai, pandeka
sarato jo urang mudonya
katonyo kuat.
Kato Mufakat,
Kato putuih dek sapakaik.

Salimbado Grup

Pengasuh

Artikel Terkait