Lebih Dekat dengan HIDAYAT, SS Menuju Garis Lurus Perjuangan

HIDAYAT, SS, lahir di Sijunjung 20 April 1973, putra sulung dari tiga adik perempuan yang terlahir dari ayah bernama H Muchtar yang sudah pensiun sebagai PNS di Departemen Agama Kabupaten Sijunjung dan Ibu Hj Djasni berprofesi bidan.
Bagi-bagi sembako
Hidayat SS dan  Eko Muhardi bagi-bagi sembako

Sejak tahun 1989, HIDAYAT, SS sudah merantau ke Padang melanjutkan pendidikannya di SMA 6 Padang. Di SMA yang terletak di lintasan jalan menuju objek wisata pantai Air Manis, Mata Air Kecamatan Padang Selatan itu HIDAYAT, SS sempat aktif sebagai pengurus inti di OSIS. Ketua OSIS SMP 1 Sijunjung ini pun kemudian tamat SMA pada tahun 1992 dari jurusan Fisika (III-A1). Pada tahun yang sama HIDAYAT, SS ikut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) Jurusan Elektronika di ITB Bandung, namun gagal. “Biarlah saya coba pada tahun depan, saya mau kuliah di Perguruan Tinggi Negeri karena selain alasan kualitas, juga alasan biaya berhubung adik-adik juga sedang membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit, jika di Perguruan Tinggi Swasta tentu biayanya besar,” demikian kata HIDAYAT, SS menjawab tanya teman-temannya ketika itu.
 
Caleg DPRD Provinsi Sumbar Partai Gerindra
Hidayat SS
Tahun 1993 HIDAYAT, SS kembali mencoba tes Sipenmaru dan dinyatakan lulus di Jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia pada Fakultas Sastra Universita Andalas Padang. “Saya tidak tahu rahasia Allah, Jurusan Sastra ini bukanlah pilihan dan saya tidak punya referensi memadai soal dunia Sastra sebelumnya. Tapi ini harus saya jalani walau sangat berat menjalaninya terutama pada semester-semester pertama,” kata HIDAYAT, SS.

Mungkin bukan HIDAYAT, SS namanya jika harus kalah dengan keadaan yang ada. Ayah dari Bening Fatih Ataya (9 tahun) dan Sania Putri Hidayat (7 tahun) terus mencari dan mencari apapun yang dirasakannya berarti dan bermakna baik buat diri sendiri maupun kawan-kawannya. Sekitar pertengahan tahun 1993 itu HIDAYAT, SS masuk organisasi Himpunan Mahasiswa Islam dan mengkuti LK I di HMI Cabang Padang. Berproses dan berorganisasi di HMI kian membuka cakrawala dan ilmu lain di luar jurusannya serta memperlebar jaringan sesama mahasiswa antar Jurusan baik dari Unand maupun perguruan tinggi lainnya di kota Padang.

Selain masuk dan aktif diajak senior dan dosen Sastra pada Grup Kesenian Bumi Teater pimpinan (Alm) Wisran Hadi, Bunda Upita Agustin dan Abang Darman Munir. HIDAYAT, SS juga aktif di Senat Fakultas, terakhir sebagai Wakil Ketua I Senat Fakultas Sastra, kemudian juga dipercaya sebagai Sekretaris Unit kegiatan Mahasiswa Kesenian Unand yang ketika itu bermarkas di Fekon Jati Unand bersama UKM-UKM lain seperti Mapala, Menwa dan Pendekar. Dari sinilah jiwa aktivis kampus mulai menggelora dalam jiwa HIDAYAT, SS. Momen reformasi pada tahun 1996- 1998 benar-benar menjadi pengalaman dan sejarah yang tidak bisa terulang. Saya aktif mengikuti gelaran-gelaran diskusi terkait rencana aksi demo turunkan Presiden Soeharto bersama kawan-kawan pengurus SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi Unand) (kala itu diketuai Indra SG Lubis, Sekum Budi Kurniawan, ada Bung Teddy Alfonso, Adiknya Om Isa Kurniawan kemudian dilanjutkan oleh Bung Jii dan kawan-kawan).

Atas kesadaran ingin menghemat biaya orang tua karena masih mengkuliahkan tiga adik perempuannya, Hidayat pun resmi menyandang gelar Sarjana Sastra (SS) setelah kuliah kurang 5 tahun. Namun setahun menjelang wisuda lelaki berambut tegak ini sempat aktif mengurus Koperasi Serba Usaha Bersama Lintas Sumatera.

Pria yang pernah ikut Diklat LPPM ini mendapat tugas mengelola anak asongan dan pedagang kaki lima di kawasan Lintas Andalas (kini sudah disulap jadi Plasa Andalas). Kemudian sempat menjadi Manajer Koperasi SUB Rawang yang membidangi usaha keperluan harian para buruh termasuk buruh angkat Teluk Bayur dan sekitar tahun 1999 tersebut dia pun mulai berkenalan dengan politisi PDI Perjuangan dan mengantongi KTA partai tersebut pada 2000.

Masuk Dunia Pers

Tahun 2000 merupakan tahun perkenalannya dengan dunia Pers sebagai reporter pada tabloid IDENTITAS yang dipimpin wartawan senior Fadril Aziz Isnaini INFAI, hanya berumur 1,5 tahun tabloid tak lagi bergerak, kemudian bersama INFAI juga mendirikan Harian Semangat Demokrasi dengan jabatan terakhir Wakil Pemimpin Redaksi. Dan pada tahun 2002 itu pula HIDAYAT, SS menyunting gadis asal Sungayang Batusangkar namun sudah berdomisili di Kota Padang sejak belum masuk SD dan satu Fakultas lagi, namanya Eva Himyati, SS.

Senasib dengan media sebelumnya, Harian Semangat Demokrasi juga tidak berumur panjang, lalu bersama wartawan bisnis Awaluddin (disapa Awe) mendirikan Mingguan Forum Bisnis yang konsen terhadap materi pemberitaan ekonomi dan bisnis. Konsentrasi pada materi pemberitaan ini merupakan tantangan baru karena sebelumnya lebih cenderung menyorot persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi/supremasi hukum, kebijakan publik dan pelayanan publik serta perkara politik dan sosial kemasyarakatan lainnya.

Sebagai Redaktur Pelaksana yang bertanggungjawab terhadap materi dan isi liputan setiap edisinya, Hidayat, SS pun mulai merasakan asiknya berselancar pada materi pemberitaan sektor perbankan, regulasi ekonomi, properti, air line, perhotelan, travel agen, bisnis pendidikan, potensi daerah, peluang invetasi, dan liputan ringan lainnya yang berkaitan dengan usaha dan perekonomian di Sumatera Barat. Bahkan, gara-gara liputan perbankan suatu kali HIDAYAT, SS sempat diajak main golf oleh Pimpinan Bank Indonesia Sumatera Barat ke Anai Resor Padang Pariaman, terang saja Hidayat, SS bingung karena jangankan main golf, memegang stick golf saja belum pernah, akhirnya ajakan tersebut ditolak dengan alasan sedang menyiapkan halaman untuk edisi selanjutnya.

Akhirnya Forum Bisnis juga bernasib sama, tak berumur panjang, menjelang umur dua tahun akhirnya berhenti terbit pada akhir tahun 2005 karena persoalan manajemen. Forum Bisnis pun menyandang status almarhum. Hidayat, SS pun galau dan bingung serta kecewa berat kenapa tiga media tempatnya bekerja tersebut tidak berumur panjang. Saat itu sebagai pengangguran memang terasa pahit dan membuat kepala pusing dan pening , apalagi istri baru melahirkan anak pertama pada 6 Januari 2005. Di tengah kebutuhan keluarga meningkat, sementara HIDAYAT, SS dan istri Eva Himyati masih pengangguran.

Menjelang akhir tahun 2005 tersebut hidup terasa begitu berat, apalagi kami (suami-sitri) masih menyandang status kontraktor alias masih ngontrak rumah di kawasan Jati Padang. Dan pada tahun itu pula banyak pilihan-pilihan sulit yang dihadapi, terakhir adalah tawaran salah seorang teman pimpinan media massa harian di Provinsi Riau dengan tawaran honor sebulan Rp2,5 juta, diberi perumahan dan satu unit sepeda motor untuk operasional dengan jabatan Redaktur. Seminggu lamanya ia belum bisa memtuskan apakah menerima tawaran tersebut atau bagaimana. Di satu sisi, asap dapur keluarga harus mengepul dan sang bayi jelas tidak mau tahu dengan kondisi dompet papanya, baginya yang penting ada susu campur roti. Merk susu kaleng yang disukainya pun harus child kids pula yang harganya tidaklah murah, seolah si bayi ini berkata “Papa, ada susu tangis reda”.

Di sisi lain, bila tawaran ke Riau disanggupi, lantas bagaimana dengan kondisi anak dan bini yang tidak mungkin ditinggal pergi, dan jika pun pulang bisanya satu kali dua minggu. Uang dapat dan bisa dikirim namun jiwa saya sebagai suami dan ayah jelas tidak bisa dijarakkan dengan keluarga, buat apa punya uang bila kebutuhan jiwa terganggu. Keputusannya, tawaran tersebut saya tolak.

Guna mengisi hari dan berharap rezeki, HIDAYAT, SS pun diminta membantu sebagai editor di beberapa media massa milik teman-temannya, diantaranya Mingguan BAKINNews, tanpa honor yang jelas karena media ini juga belum begitu lama terbit dan masih berjuang mempertahankan rutinitas terbit. Namun Allah, SWT tidak sia-sia, ada usaha rezeki pun datang walau belum begitu memadai memenuhi kebutuhan namun Alhamdulillah semua itu adalah rezeki dan wajib hukumnya untuk disyukuri.

Lalu, karena merasa tidak puas melakukan kreasi di media teman itu, kemudian HIDAYAT, SS dengan beberapa teman bersepakat menerbitkan mingguan bernama mingguan BiNNews terhitung sejak Juni 2006, hingga akhirnya selalu terbit hingga saat ini. Hidayat pun terdaftar sebagai pemilik utama dengan posisi Direktur Utama pada perusahaan sekaligus Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi. Di sela-sela kegiatan penerbitan BiNNews ini ia pun sempat melanjutkan studi S2 Program Hukum Bisnis di UNES Padang pada 2007 selama 1,5 semister dan akhirnya cabut tanpa menamatkannya. Selain berkonsentrasi di BiNNews, HIDAYAT, SS juga anggota PWI Cabang Sumatera Barat yang sudah mendapatkan sertifikasi sebagai Wartawan Utama dari Dewan Pers, kemudian juga menjadi Sekretaris Aliansi Media Sumbar (wadah berhimpunnya 9 media mingguan terbitan Sumbar), termasuk di Perhimpunan Media Sumatera Barat yang dipimpin Anggota DPRD Sumbar, Drs. H. Marlis, MM, sebagai Ketua Litbang.

Berkecimpung di Politik

Sesungguhnya bagi HIDAYAT, SS motivasi untuk masuk dan aktif di partai politik berangkat dari pengalamannya sebagai aktivis kampus dan pekerjaan sebagai wartawan di mana bahasan diskusi maupun materi-materi pemberitaan ternyata tidak terlepas dari persoalan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan agama dan seterusnya yang pada gilirannya juga menjadi bahan dan materi kerja bagi anggota dewan.

Bahwa, pengalaman berjuang di luar sistem dengan turun ke jalan sudah kerap kali dilakukan, namun hasilnya juga tidak begitu mengembirakan. Aksi demo atau melakukan gugatan class action saat aktif di beberapa LSM terkadang hanya menguras energi berikut mengandung resiko tinggi, namun tujuannya cenderung menjauh.

Akhirnya, HIDAYAT, SS memilih berjuang dengan masuk ke iklim ketatanegaraan yang menganut sistem demokrasi dimana wadah untuk mengimplikasikan idelogi dan niat di GARIS LURUS PERJUANGAN melalui partai politik. Sebab berbagai persoalan rakyat yang diperjuangan partai politik adalah untuk membangun bangsa dan negara di seluruh sektor kehidupan ke arah lebih baik tersebut sesungguhnya sudah menjadi menu sehari-hari bagi HIDAYAT, SS dalam menjalankan pekerjaan sebagai seorang wartawan.

PDI Perjuangan merupakan partai pertamanya, mengantongi kartu anggota sejak 2011 dan pernah mencaleg pada Pemilu 2004 dan 2009 tapi niat menjadi anggota legislatif belum kesampaian. Tentu banyak alasan kenapa akhirnya pada Juni 2011, Hidayat, SS menancapkan dirinya bergabung dengan Partai Gerindra besutan H Prabowo Subianto. Jelas tidak elok juga membicarakan alasannya. Sudahlah, berkiprah di PDI Perjuangan sekitar 11 tahun merupakan pengalaman berharga yang tidak bisa didapati di sekolah manapun. Luar biasa dan banyak hal dinamika yang dilewati di partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri tersebut, termasuk sempat makan satu meja dengan putri sang Proklamator tersebut di sela-sela ajang Kongres di Bali pada 2005 dan 2010.

Atas permintaan Oktavianus Rizwa, SH, mantan Sekretaris DPD Gerindra Sumbar yang juga seorang Advokat pada Juni 2011 itu, akhirnya Hidayat  dipercaya DPP Gerindra sebagai Ketua DPC Kabupaten Sijunjung. Jabatan itu ia emban selama setahun dengan mewariskan struktur kepengurusan tingkat kecamatan di delapan kecamatan di kabupaten Lansek Manih tersebut. Seiring beralihnya kepengurusan di tingkat provinsi, Hidayat pun ditarik Suir Syam (mantan Walikota Padang Panjang/Ketua DPD Gerindra Sumbar) menjadi salah seorang pengurus dengan posisi Wakil Sekretaris I. Kepercayaan Partai pun diikuti dengan menugaskan Hidayat  sebagai Ketua Tim Komunikasi DPD Gerindra Sumbar, posisi ini langsung di SK kan oleh Wakil Ketua Umum, H. Fadli Zon, SS. M.Sc selaku Ketua Badan Komunikasi DPP Gerindra, kemudian juga dipercaya sebagai Ketua Tim Kampanye DPD Gerindra Sumbar dalam rangka menghadapi Pemilu Legislatif 2014 ini.

Motivasi Caleg

Bagi HIDAYAT, SS ikut mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat pada 2014 ini bukanlah merupakan perjuangan aqidah dalam artian memperjuangakn kebenaran mutlak yang hanya diyakini kebenarannya oleh diri sendiri. Namun lebih jauh adalah perjuangan berbagai kepentingan yang bersumber dari keberagaman.

Menjadi caleg bagi Hidayat juga bukan perjuangan hidup dan mati apalagi untuk mencari kekayaan. Jalur legislatif merupakan salah satu sarana perjuangan untuk peningkatan kualitas hubungan dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa dan memperkaya hubungan (ukhuwah) secara sosial. Sebab, ukuran kekayaan bagi HIDAYAT, SS adalah bila butuh ada dan tidak perlu harus mewah dan berlebihan seperti memiliki mobil banyak, rumah banyak, yang penting merdeka secara financial alias tidak berutang untuk memenuhi kebutuhan. Hidup bersandiwara dengan gaya hidup dibuat-buat atau dipaksa-paksakan bagi HIDAYAT, SS adalah suatu penyiksaan diri. Menjadi diri sendiri dan menikmati apa yang ada (bukan menikmati apa adanya) baginya adalah hidup merdeka tanpa beban.

Lebih fokus, menjadi wakil rakyat bagi Hidayat, SS merupakan sarana dan wadah perjuangan untuk bisa berbuat lebih banyak dan kongret baik dalam tataran kebijakan maupun perbuatan langsung ke problem sosial kemasyarakatan. Anggota dewan bukanlah eksekutor yang bisa langsung memerintahkan aparaturnya untuk membangun jalan, jembatan dan irigasi atau membari bantuan langsung ke masyarakat. Fungsinya anggota dewan itu ada tiga yakni legislasi, keuangan dan pengawasan.

Dalam menjalankan fungsi legislasi atau membuat Undang-undang atau peraturan daerah di tingkat provinsi, kabupaten dan kota bersama pemerintah. Seorang anggota dewan harus mampu dan serius mencermati butir-butir kebijakan dalam peraturan daerah tersebut agar tidak berpotensi membrangus hak-hak dan kepentingan masyarakat luas, kebijakan harus dikawal agar pro kepentingan rakyat, bukan semata mengakomodir kepentingan penguasa, pengusaha atau segilitir kelompok tertentu.

Begitu juga dengan fungsi keuangan (budgeting) bersama pemerintah menyusun dan membahas struktur dan alokasi keuangan yang akan dituangkan dalam APBD setiap tahunnya, apakah keuangan rakyat tersebut benar-benar akan dibelanjakan sesuai kebutuhan yang bermanfaat untuk kepentingan banyak orang atau hanya menguntungkan segelintir orang saja.

Alokasi belanja publiknya bagaimana, anggota dewan harus serius dan sungguh-sungguh mencermati usulan pemerintah untuk apa saja uang rakyat tersebut dibelanjakan. Harus berani menolak jika ada usulan belanja yang tidak produktif dan bermanfaat seperti beli kendaraan dinas atau kunjungan kerja ke luar negeri atau kegiatan seremonial yang mahal.

Terakhir adalah fungsi pengawasan. Apakah setiap program dan kegiatan yang telah direncanakan dan disepakati dengan pemerintah sudah sesuai kenyataan di lapangan. Jangan sampai, misalnya kegiatan untuk membangun jaringan irigasi semestinya 1 Km ternyata di lapangan panjangnya ditemukan 0,8 Km dengan kualitas pekerjaan rendah. Anggota dewan bila menemui kondisi ini harus berani dan lantang menyuarakan agar semua pihak terkait harus taat aturan dan ketentuan, jika tidak pidanakan saja karena itu salah satu bagian dari aksi perampokan uang rakyat karena telah membelanjakan uang rakyat dengan tidak bertanggungjawab.

Sebagai informasi saja, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Sumbar tahun 2013 hanya sekitar Rp1 triliun lebih sementara total jumlah APBD Rp3,4 triliun. Artinya, ibarat sebuah perusahaan, Sumbar mengalami defisit atau kekurangan anggaran untuk mebiayai kegiatan dan programnya, kekurangan anggaran inilah yang disubsidi dari berbagai instrumen yang sah dari pemerintah pusat melalui APBN. Analoginya, kebutuhan suatu keluarga Rp3,4 juta sebulan namun penghasilan hanya sekitar Rp1,3 juta, terjadi kekurangan selebihnya bersumber dari bantuan atau belas kasihan sanak keluarga atau teman, (bisa saja begitu)

Persoalannya, anggaran yang kurang ini seyogyanya bisa dibelanjakan dengan efektif dan efisien serta tepat sasaran, jangan habis pula untuk kegiatan kunjungan kerja, seminar dan workshop atau kegiatan seremonial lainnya. Sebab, berdasarkan data BPS tahun 2013 masih terdapat sekitar 380 ribu jiwa lebih saudara kita yang masih berada di garis kemiskinan dari sekitar 5 juta kurang lebih penduduk Sumatera Barat.

Memprihatinkan lagi, data BPS per Agustus 2013 lalu terdapat 2,1 juta orang lebih angkatan kerja yang masih mencari pekerjaan, jika tidak boleh dikatakan kini mereka masih pengangguran atau memiliki penghasilan tidak tetap yang bekerja di sektor-sektor informal.

HIDAYAT, SS Caleg DPRD Provinsi Sumatera Barat Nomor Urut 1 Daerah Pemilihan Kota Padang, jelas tidak akan mampu menyelesaikan problem yang dihadapi daerah kita ini. Namun tekad Hidayat, dengan spirit dan jiwa muda yang mengalir dinamis dalam raga, HIDAYAT, SS berkeinginan turut mewarnai dan kanvas demokrasi ini dengan menjadi katalisator untuk sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru untuk kepentingan banyak orang. HIDAYAT, SS ingin menjadi agen atau penghubung kongret antara keluh kesah rakyat dengan para pengambil kebijakan terutama di tingkat provinsi maupun kabupaten kota di Sumatera Barat dan pemerintah pusat.


Dipenghujung pembicaraannya dengan Hidayat, ia berucap“ Dengan Bismillahirrahmanirrahim, kiranya mohon kami Doa dari kita semua, semoga, HIDAYAT, SS diberikan kekuatan dan petunjuk agar tetap berada di GARIS LURUS PERJUANGAN ini.terima kasih, banyak maaf dan Salam Indonesia Raya.” Ujarnya mengakhiri (dh-1) 

Artikel Terkait