Dari Kritik “Dagang Sapi” Hingga Kritik Sastra Ilmiah

Karya sastra memerlukan kritik sastra dan kritik sastra tiada tanpa karya sastra 

Oleh : Dasril Ahmad
                                 
SEJAK doeloe Sumatera Barat yang dikenal sebagai gudangnya sastrawan (beken) di Indonesia, tampaknya tak berlaku untuk bidang kritik sastra. Masyarakat Sumatera Barat (baca : Minangkabau) yang memang gemar ma-ota/bercerita secara lisan di kedai-kedai, tampaknya enggan menjelaskan pengertian, makna dan bobot dari ceritanya itu kepada orang lain, sebagaimana kaedah sebuah kritik sastra. Namun yang menggembirakan adalah, ternyata masyarakat Minangkabau tak hanya mampu menghidupkan tradisinya bercerita secara lisan, tetapi juga punya hasrat tinggi untuk menulis dalam bentuk karya sastra.

Jakob Sumardjo (1982) mengatakan, hasrat menulis adalah hasrat untuk berkomunikasi, menyatakan impian, kemarahan, kesepian, ide-ide pada orang lain. Orang akan bergairah menulis kalau karya-karyanya berhasil terbit, dikomunikasikan pada publik. Untuk menyalurkan kreatifitas sastra, seorang sastrawan butuh media pengomunikasian. Sebuah karya tulis akan menjadi karya sastra kalau ia sudah diterbitkan dan disebarluaskan kepada publiknya. Terhadap media penyaluran kreativitas sastra di daerah, maka koran adalah penyelamat bagi sastrawan. 

Kritik Sastra Kritik Ilmiah
Karya Sastra

Mencermati kegiatan penulisan sastra di Sumbar pada dekade 1970-an,  kehadiran koran Haluan memang sangat berarti. Dalam pengamatan saya, pada waktu itu, Haluan telah menyediakan ruangan “Remaja Minggu Ini” (RMI) pada edisi Minggu, dan “Budaya Minggu Ini” (BMI) setiap hari Selasa. Kedua ruangan budaya ini diasuh oleh penyair Rusli Marzuki Saria. Dari rubrik BMI Haluan kita menemui munculnya karya-karya penyair dari Sumbar, antara lain sajak-sajak ; Zaidin Bakri, Raudha Thaib, Harris Effendi Thahar, Abrar Yusra, Hamid Jabbar, Darman Moenir, Ediruslan Pe Amanriza, Alwi Karmena, Syaiful Usmar, Zulfikar Said, Tini Tamzil, Resa Kamesywara, dan Sukrino. 

Kemudian di Haluan Minggu selalu dimuat cerita pendek. Beberapa penulis yang rajin menulis cerpen pada waktu itu adalah, Darman Moenir, dengan cerpennya antara lain “Anjing Peburu” dan “Tangis yang Durja”; Harris Effendi Thahar menulis cerpen “Anjing Kurap” ; Musthafa Ibrahim menulis “Tuan Kepala”; Zulfikar Said dengan “Anakku yang Pertama”; Saharwardi menulis“Bunga-Bunga Turut Tersenyum” dan “Aku Pergi”; serta Ariyanto Thaib menulis“Aku Harus Kembali” dan “Seberkas Kenangan”. Ini berarti bahwa kreativitas menulis sastrawan Sumbar pada waktu itu cukup menggembirakan secara kuantitas. Lalu bagaimana kualitasnya? 

Berbicara tentang kualitas (mutu) sebuah karya sastra, kita mesti berurusan dengan kritik sastra. Hardjana (1981) mengatakan, karya sastra sudah diciptakan orang jauh sebelum orang memikirkan apa hakekat sastra dan apa nilai dan makna sastra. Sebaliknya kritik sastra baru dimulai sesudah orang bertanya apa dan di mana nilai dan makna karya sastra yang dihadapi. 

Menurut Hardjana, kegiatan penulisan kritik sastra selalu datang kemudian dari kehadiran karya sastra. Ini menandakan bahwa kritik sastra timbul setelah melalui proses membaca, memahami, menghayati karya sastra tesebut. Setelah orang kemudian merasa bahwa kritik sastra mustahil lahir, kalau orang tak membaca karya sastra terlebih dahulu. Sebab, kritik merupakan hasil usaha pembaca dalam mencari dan menentukan nilai hakiki karya sastra lewat pemahaman dan penafsiran sistematik yang dinyatakan dalam bentuk tertulis.

Kegiatan penulisan kritik sastra di Sumbar pada dekade 1970-an, kebanyakan dilakukan oleh kalangan sastrawan sendiri yang membicarakan karya-karya sastra dari rekan-rekan mereka sesama sastrawan. Kritik semacam ini lebih dikenal sebagai kritik “dagang sapi”, yakni kritik yang berusaha memuji dan/atau mencaci-maki karya orang lain tanpa menggunakan perangkat/pendekatan yang jelas. Menjelaskan keadaan ini dapat kita lihat seperti kritik yang ditulis oleh Syaiful Usmar terhadap sajak Zaidin Bakri, “Desi, Oh! Desiku Yang Sepi” (BMI Haluan, 26 Agusus 1975). Zulfikar Said kemudian menanggapi kritik Syaiful Usmar tersebut (BMI Haluan, 2 September 1975). Kemudian Harris Effendi Thahar membicarakan sajak-sajak Alwi Karmena (BMI Haluan, 11 Nopember1975); Darman Moenir menulis pembicaraan terhadap “Puisi Dua Penyair Gardu Depan” (BMI Haluan, 20 Januari 1976). Kemudian Darman Moenir juga menulis kritik terhadap sajak-sajak Tini Tamzil (BMI Haluan, Selasa, 13 Juli 1976), dan beberapa kritik “dagang sapi” lainnya yang ditulis oleh penyair sendiri terhadap karya (rekan) sesama penyair lainnya, yang luput dari pengamatan saya. 

Kehadiran kritik sastra dari tangan penyair (sastrawan) seperti di atas, merupakan kritik yang lahir atas kesan selintas dari karya sastra yang dihadapi, dan kritik ini pun dikerjakan sebagai kerja “sambilan” dari tugas utamanya sebagai penyair (sastrawan). “Jadi dengan demikian, dapat dipahami kalau kedalaman kritik belum bisa dibentuk, kalau para sastrawan mengerjakannya sebagai kerja sambilan belaka”, kata Jakob Sumardjo (1982).

Dalam kondisi seperti itulah, kemudian muncul Mursal Esten (seorang kritikus sastra berlatarbelakang pendidikan akademis sastra), yang ternyata sangat berpengaruh di kalangan sastrawan dan kehidupan sastra di daerah Sumbar pada waktu itu. Hal ini antara lain disebabkan karena kritik yang ditulis Mursal berusaha mengungkapkan sisi-sisi gelap, terselubung yang melatarbelakangi proses penciptaan si sastrawan (yang belum pernah dikerjakan oleh kritikus dari kalangan sastrawan sebelumnya). Rata-rata karya yang dibicarakan Mursal waktu itu adalah sajak-sajak yang dihasilkan para penyair daerah Sumbar sendiri. Seperti “Sebuah Pembicaraan Komperatif Atas Lima Kumpulan Sajak” (BMI Haluan, Maret 1976), yang membicarakan sajak-sajak dari Hamid Jabbar, Leon Agusta, Rusli Marzuki Saria, Abrar Yusra, dan Upita Agustin. Kemudian pembicaraan mengenai “Novel-Novel Indonesia dari Suatu Proses Perubahan Sosial dan Tatanilai” (BMI Haluan,Selasa, 10 Pebruari 1976).

Kehadiran kritikus Mursal Esten dengan kritik-kritiknya seperti menghembuskan udara segar di tengah “kepengapan” suasana kehidupan bersastra di Sumbar pada tahun 1970-an itu. Kepengapan yang saya maksudkan di sini adalah kelesuan eksistensi kritik yang tak seimbang dengan kreativitas sastra dari tangan sastrawan, sehingga apapun argumentasi yang dilontarkan Mursal waktu itu diterima baik oleh sastrawan dan masyarakat sastra umumnya. Mursal melihat bahwa sajak-sajak Hamid Jabbar bertolak dari dzikir, tanpa dibantah diterima baik oleh masyarakat sastra kita sampai sekarang. 

*** 

PADA tahun 1981, di Padang berdiri Fakultas Sastra Universitas BungHatta, dan setahun kemudian (1982) berdiri pula Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand). Kehadiran dua perguruan tinggi sastra ini membawa pengaruh yang cukup berarti terhadap iklim kreativitas sastra, khususnya penulisan kritik, dan penelitian karya sastra di daerah Sumbar. Penyair Abrar Yusra pada forum “Temu Kritikus Muda Sumbar-Riau 1986” di Taman Budaya Padang mengatakan, kehadiran perguruan tinggi sastra di Sumbar tahun 1980-an, ikut mewarnai kegiatan kesastraan di daerah ini. Kajian-kajian sastra telah mulai ilmiah dengan memakai metode pendekatan dan teori-teori tertentu. Hal ini sebetulnya amat menguntungkan bagi perkembangan kritik sastra di daerah Sumatera Barat ini.

Tetapi di luar kalangan perguruan tinggi sastra, kegiatan penulisan kritik sastra pun tak kurang pesatnya, baik itu yang ditulis lepas di koran-koran di daerah ini, maupun yang ditulis untuk keperluan sayembara. Untuk keperluan sayembara ini misalnya yang dilakukan oleh penyair Syarifuddin Arifin. Ia menulis kritik berjudul “Novel Bako Darman Moenir: Merombak Sistem Matrilineal Minangkabau”, yang berhasil memenangkan sayembara penulisan kritik sastra Sanggar Prakarsa FPBS IKIP Padang, tahun 1984. Tulisan kritik Syarifuddin Arifin ini kemudian dimuat di harian Haluan Padang dan majalah sastra Horison Jakarta.

Begitu juga kritik atau kajian-kajian sastra yang dilakukan oleh kalangan akademis cukup berkembang pesat waktu itu. Seperti kritik terhadap cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A A Navis dan terhadap novel “Telepon” karya Sori Siregar dilakukan dengan baik oleh Muhardi dari FPBS IKIP Padang (kedua kritik ini dimuat di Harian Singgalang Padang). Lalu, kritik terhadap novel “Warisan” karya Chairul Harun dilakukan oleh Ivan Adillah dari Fakultas Sastra Unand, juga dimuat di harian Singgalang. Kemudian, dari Fakultas Sastra Univ. Bung hatta, saya juga menulis kritik tentang “Putri Bunga Karang Rusli Marzuki Saria: Sajak-Sajak yang Bertolak dari Akat Tradisi”, yang kemudian dimuat di harian Haluan dan majalah sastra Horison Jakarta.

Itulah beberapa nama yang dikemukakan untuk pembuktian besarnya peranan kritikus sastra (akademik dan nonakademik) di Sumbar pada waktu itu. Sejak tahun 1980-an kritik sastra yang lahir di Sumatera Barat tak lagi kritik“dagang sapi”, tetapi telah menjadi kritik sastra ilmiah yang dikerjakan oleh kalangan akademisi sastra. Apalagi, kehadiran forum “Temu Kritikus Muda Sumbar-Riau 1986” yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Sumatera Barat (HMSSB) di Taman Budaya Padang pada April 1986, cukup berpengaruh terhadap eksistensi kritik dan kritikus-kritikus muda yang rata-rata berasal dari kalangan akademis sastra yang ada di Sumatera Barat dan Riau. Namun tidak berapa orang kritikus muda itu yang mampu eksis dengan setia menulis kritik sastra hingga saat ini. (Padang 30 Nopember2012) *** 

(Dasril Ahmad, Penulis dan Pengamat Sastra - berdomisili di Padang) 
Catatan: Tulisan ini dimuat koran Padang Ekspres, Minggu, 16 Desember 2012