Antara Perjanjian Kerja (employment agreement) dan Perjanjian Pada Umumnya

Apakah yang menjadi perbedaan antara perjanjian kerja ( employment agreement dan perjanjian pada umumnya ? Berdasarkan Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Dalam hubungan ini, suatu perjanjian bukanlah perbuatan sepihak atau salah satu pihak, melainkan perbuatan dua pihak yang sepakat mengikatkan diri mengenai sesuatu hal. Karenanya suatu perjanjian haruslah dibuat dalam kondisi keseimbangan kehendak antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya dengan memperhatikan unsur dan asas dari suatu perjanjian. 

Secara teoritik suatu perjanjian dapat berupa perjanjian tertulis atau tidak tertulis dan suatu perjanjian termuat beberapa unsur, yakni;

1. Adanya pihak-pihak yang sekurang-kurangnya dua pihak;
2. Adanya persetujuan atau kesepakatan
3. Adanya tujuan yang ingin dicapai.
4. Adanya prestasi atau kewajiban dari masing-masing pihak yang akan dilaksanakan.
5. Adanya bentuk tertentu
6. Adanya syarat tertentu

Selain adanya beberapa unsur dari sebuah perjanjian, harus dipertikan pula asas-asas dalam membuat suatu perjanjian, yakni;
Perjanjian kerja atau employment agreement
Perjanjian Kerja
1. Asas kebebasan berkontrak
2. Asas konsensualisme (persesuaian kehendak)
3. Asas kepastian hukum (pacta sun servanda)
4. Asas itikat baik (geode trouw)
5. Asas kepribadian
6. Asas kepercayaan
7. Asas Persamaan hukum
8. Asas keseimbangan
9. Asas kepastian hukum
10. Asas moral
11. Asas kepatutan
12. Asas kebiasaan

Dengan memperhatikan unsur dan asas dalam perjanjian, maka sepatutnya dalam membuat suatu perjanjian diperlukan kecakapan hukum dari seseorang yang akan membuat suatu perjanjian. Ini terutama guna menghindari terjadinya perselisihan atau silang sengketa antara para pihak yang membuat suatu perjanjian. Oleh karena membuat sebuah perjanjian merupakan suatu perbuatan hukum, maka apabila pihak-pihak yang membuat perjanjian tidak memahami hukum perjanjian dengan baik, kiranya perlulah meminta bantuan seorang konsultan hukum atau advokat untuk mempelajari perjanjian yang mereka sebelum menanda-tangani perjanjian yang dibuat itu.

Perjanjian Kerja dan Perjanjian Kerja Bersama

Beberapa hal yang dikemukakan di atas adalah tentang perjanjian pada umunnya. Apabila dalam perjanjian pada umumnya dikenal asas kebebasan berkontrak, maka tidak demikian halnya dengan perjanjian kerja. Suatu perjanjian kerja bentuk dan isi sudah ditentukan oleh Undang-Undang dan sekaligus menjadi syarat minimal yang harus termuat dalam sebuah perjanjian kerja

Secara yuridis yang dimaksud dengan perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban para pihak. Mengenai perjanjian kerja tersebut diatur dalam Pasal 56 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan dalam perjanjian kerja dimaksud dikenal 2 (dua) jenis perjanjian kerja, yaitu perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) dan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT).

Berdasarkan ketentuan Pasal 51 UU No.13 Tahun 2003, perjanjian kerja dapat dibuat secara tulisan maupun lisan. Apabila perjanjian kerja tersebut dibuat secara lisan, maka pemberi kerja berkewajiban untuk mengeluarkan surat pengangkatan untuk pekerja. Surat pengangkatan tersebut sekurang-kurangnya berisi informasi tentang;

1. nama dan alamat pekerja, 
2. tanggal pekerja mulai bekerja, 
3. tipe pekerjaan yang akan dilakukan oleh pekerja,
4. jumlah upah yang menjadi hak pekerja. 

Memperhatikan item yang termuat dalam surat pengangkatan seorang pekerja, maka surat pengangkatan untuk pekerja pada prinsipnya sekaligus berfungsi sebagai perjanjian kerja. 

Sementara apabila perjanjian kerja yang dibuat tersendiri (tertulis) atau dalam bentuk surat pengangkatan, maka UU No.13 Tahun 2003 menentukan bentuk dan isi secara minimal dari sebuah perjanjian kerja. Dengan kata lain suatu perjanjian kerja tertulis harus memuat minimal (sekurang-kurangnya) sebagaimana disebutkan dalam Pasal 54 ayat (1) UU No.13/2003, yakni;

1. nama, alamat perusahaan, dan jenis usaha;
2. nama, jenis kelamin, umur, dan alamat pekerja/buruh;
3. jabatan atau jenis pekerjaan;
4. tempat pekerjaan dilakukan;
5. besarnya upah dan cara pembayarannya;
6. syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja/buruh;
7. mulai dan jangka waktu berlakunya perjanjian kerja;
8. tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat; dan
9. tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja.

Jika diperhatikan asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian pada umum dan dibandingkan dengan ketentuan mengenai perjanjian kerja, maka sepintas terlihat bahwa asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian kerja tidak sepenuhnya berlaku. Artinya dalam perjanjian kerja undang-undang menentukan syarat minimal yang harus ada dalam sebuah perjanjian kerja disamping memperhatikan asas dan unsur-unsur sebuah perjanjian pada umumnya. Bahkan syarat minimal yang harus dimuat dalam suatu perjanjian kerja

Bahkan jika diperhatikan dasar perjanjian kerja dengan asas perjanjian umumnya, maka terlihat asas dan unsur khusus dari sebuah perjanjian kerja. Dalam hal ini sebuah perjanjian kerja dibuat atas dasar:

a. kesepakatan kedua belah pihak; 
b. kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum; 
c. adanya pekerjaan yang diperjanjikan; dan 
d. pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 

Suatu perjanjian kerja dapat dibatalkan apabila perjanjian kerja yang dibuat tidak berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak dan tidak berdasarkan kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum. Kemudian suatu perjanjian kerja batal demi hukum, apabila perjanjian kerja yang dibuat tidak didasarkan pada adanya pekerjaan yang diperjanjikan serta pekerjaan yang diperjanjikan bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan peraturan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (catatan:Boy Yendra Tamin)

Artikel Terkait