Kato Nan Ampek : Undang Dan Hukum Adat Alam Minangkabau

Oleh: Tuanku Mudo H.Emral Djamal Dt Rajo Mudo

1. Kato Pusako

Kato Pusako, mengambil kias dan ibarat alam berdasar kan Sunnah Nabi Saw.dan kato diwarisi dari niniek secara turun temurun sampai kini dan adakala nya kato pusako itu dari bapak, adakalanya dari Ibu dan dari korong kampung dan kadang-kadang pula ada yang ber tentangan dengan hukum syarak, akan tetapi harus kita memakainya.

2. Kato Mufakat

Kato Mufakat, ialah segala kata yang diperbincangkan Ninik Mamak Penghulu-Penghulu Adat atau pertiapan limbago dalam negeri menurut ketentuan adat dan sesu dah bersidang-mufakat berarti kata sudah putus kemu dian keputusan tersebut, disosialisasikan, ditablighkan atau diundangkan sebagai kato putuih biang tabuak (kata putus biang tembus).

3. Kata Dahulu Bertepati dan  Kato Kudian Kato Bacari
Kato Nan Ampek
Emral Djamal

Kata dahulu bertepati, ialah Kato kaputusan bersama yang akan dilaksanakan sesuai dengan janji mupakat yang telah dibuat dahulu, dan sekarang baru dilaksana kan. Tetapi kalau segala keputusan buah pikiran ahli akal dalam negeri itu mengalami hambatan, umpamanya ada suara yang menyalahkannya dengan keterangan-keterangan yang lebih kuat dan sempurna, maka keputusan itu ditinjau kembali dan diperkatakan pula semasak-masaknya, panjang dikerat singkat diulas dengan kata / pemikiran bersama-sama juga. Ini dinamakan Kato Kudian Kato Bacari. Petuah adat mengatakan :

balacik pinang jo gambie 
batapuang kapua jo sadah 
sasuai mangko manjadi 
saukua mangko takanak.

Dok. Sasaran Salimbado Buah Tarok – Bayang

Artikel Terkait