Kesaksian Personal: Bagian Kedua Orasi Sastra Darman Moenir

Oleh Darman Moenir

Saudara-saudara yang kreatif.
Ke rumah kontrakan RMS di Koto Marapak, Kota Padang, saya beberapa kali bertamu, sehingga saya mengenal istri RMS dan anak-anak yang masih kecil-kecil. Ke sana saya belajar dan berdiskusi sastra, meminjam buku-buku sastra penting dan bundel majalah Horison (semua pinjaman kemudian saya kembalikan). Di tempat-tinggal RMS pula saya jumpa dan berkenalan dengan Navis yang, antara lain, mengusul agar saya banyak membaca, membentuk grup, dan menyatakan, kalau ingin jadi penulis jangan kaung, jangan menyiarkan karya di Padang ke di Padang saja. 

“Kalau perlu,” jelas Navis, “jual nama saya.”

Imbauan Bang Navis memang saya lakukan, dan pada 1971, sebuah cerpen saya dimuat Indonesia Raya dengan Pemred Mochtar Lubis. Cerpen saya berjudul Nasib, tetapi oleh redaktur diubah jadi Gantungan sudah Putus. Lima belas hari kemudian, nomor bukti pemuatan dan wesel honorarium berjumlah besar sampai ke alamat kos saya. Pada 1970, setahun sebelum itu, dalam usia 18 tahun, cerpen saya bertajuk Senja Penentuan dimuat Haluan dengan Redaktur Minggu M. Joesfik Helmy.

Mengetahui ada cerpen saya dimuat di Indonesia Raya, wartawan junior Masri Marjan mewawancarai saya, dan memuat hasil wawancara itu di majalah hiburan, Selecta, 1972. Menjawab pertanyaan apa keinginan saya, kepada MM saya jelaskan: semoga Hadiah Nobel Sastra jatuh ke tangan sastrawan Indonesia. Dan sungguh-sungguh pemikiran itu bersarang di benak saya setelah membaca sejumlah buku sastra bermutu, termasuk yang dipinjamkan RMS.

Penyair Rusli Marzuki Saria
Penyair Rusli Marzuki Saria (RMS)
Ajakan Navis agar saya membentuk Grup Studi Sastra saya tunaikan, ya, dengan Krikil Tajam itu. Bersama A. Chaniago Hr., Asnelly Luthan, Harris Effendi Thahar, R. Lubis Zamaksjari, Sjahida Siddiq, Sjaiful Usmar, Zulfikar Said, Yalvema Miaz, Susianna Darmawi, Bakhtaruddin Nasution, Sjaiful Bachri, Tabah R. Rawisati, dan satu-dua nama lain yang luput dari catatan saya. Tiap hari Minggu, hampir setahun, kami benar-benar studi sastra secara komprehensif, mendalam. Paling mengesankan, grup itu mendapat atensi besar bukan saja dari Navis dan RMS tetapi juga dari Mursal Esten, Chairul Harun, Nasrul Siddik, Roestam Anwar, Zaidin Bakry, Bhr. Tandjoeng, Muslim Ilyas, M.S. Sukma Djaja, A. Pasni Sata, Wisran Hadi, Upita Agustine, M. Joesfik Helmy, Shofwan Karim Elha, Zaili Asril, Emma Yohanna, Bagindo Fahmy, Ridwan Isa, Makmur Hendrik, Yanuar Abdullah, Benny Azis, Sjukril Sjukur, Nasrul Djalal, Anas Kasim, Sabaruddin Abbas, Satni Eka Putra, Uzmil Argan, Alwi Karmena, Asril Joni, Zainul Basri, A. Karim (yang suka mengajukan pertanyaan: ke mana kesusastraan Indonesia diarahkan?). Kepada mereka saya berutang besar.

Puncak kegiatan Krikil Tajam adalah “Malam Apresiasi Sastra” yang diselenggarakan di Taman Melati pada 22 Desember 1973. Mengurus penyelenggaraan acara, Asnelly Luthan dan saya diinterogasi Laksus Pangkopkamtibda selama 48 jam, siang-malam. Semua sajak yang akan dibacakan disensor, di(per)tanyakan. Semua data pribadi, foto-diri dari pelbagai arah, sidik-jari, siapa induak-bako, siapa sahabat kental, direkam. Pak Mayor Kahfi dan Pak Mayor Hendro bersama anggota mereka, yang menginterogasi, berlaku simpatik, bahkan membasai r-okok bermerek. Dan acara “Malam Apresiasi Sastra” yang berlangsung di bawah cahaya andang dan tidak boleh liwat dari pukul 23.00 WIB itu dihadiri lebih banyak oleh intel dan aparat bersenjata lengkap. Sehari sesudah peristiwa, iven itu jadi berita. Haluan keluar dengan pojok Dr. Ronda: semoga dari daerah ini lahir Rendra-Rendra baru. Indonesia Raya dan BBC London memberitakan sehingga kabar itu menasional dan mendunia. Tidak ada kaitan sama sekali, sebulan kemudian di Jakarta memang meledak Peristiwa Malari 1974 dengan aktor utama Hariman Siregar. (Bagian ketiga Klik Disini, Bagian Pertama Klik Disini.)