Kesaksian Personal : Bagian Keempat Orasi Sastra Darman Moenir

Oleh Darman Moenir

Saudara-saudara yang bermartabat. Di masa jadi korektor itu saya gamang apakah saya akan mampu menulis karya yang bagus? Kemudian saya juga sempat menyimak Albert Camus, Penerima Hadiah Nobel Sastra 1957: “Setiap orang, dengan alasan yang kuat, setiap seniman, sastrawan, ingin diakui.” Lalu, apa kelak saya bisa diakui, diterima, dalam blantika sastra? Untuk itu, saya membatin, bahwa saya harus melahirkan karya bermutu, betapa pun relatif dan atau absurd ukuran bermutu itu! Saya memang tergila-gila sesudah membaca dan membaca ulang kehebatan pantun, soneta, sajak-sajak modern Indonesia, Salah Asuhan, Azab dan Sengsara, Siti Nurbaya, Merantau ke Deli, Belenggu, Senja di Jakarta, Merahnya Merah, Godlob, ratusan bahkan ribuan puisi dan cerita pendek. 

Di masa jadi korektor, di zaman BMI dan RMI itulah, saya menulis novel Gumam yang entah mengapa, berani-berani saja saya menyertakan ke Sayembara Penulis Roman DKJ 1976. Ternyata ada 43 naskah roman yang menyertai, dan Gumam termasuk naskah (novel) yang layak diterbitkan sebagai bacaan biasa. Tujuh naskah lain yang direkomendasi adalah Mata-mata (Suparto Brata), Di Atasnya Pepuingan (Tri Rahayu Prihatmi), Jatuhnya Benteng Batu Putih (Mohayus Abukomar), Maryati dan Kawan-kawannya (Suwarsih Djojopuspito), Keok (Putu Wijaya), Jembatan (Ediruslan Pe Amanriza) dan Warisan (Chairul Harun). Pada Sayembara 1976 itu tidak ada Juara I. Juara II diraih Upacara oleh Korrie Layun Rampan dan Juara III Pembayaran oleh Kowil Daeng Nyonri (Sinansari ecip, yang kelak juga saya kenal baik). Dewan Juri: H.B. Jassin, Ali Audah, Mh. Rustandi Kartakusuma, Dodong Djiwapradja, dan M. Saleh Saad.
Penyair Adri Sandra
Penyair Adri Sandra baca pusi pada acara silaturrahmi sastrawan Sumbar 2015
Gumam benar-benar melecut saya. Saya siasati dan pelajari lagi novel-novel bermutu, yang selalu dibicarakan, didiskusikan, dianggap terbaik. Empat tahun kemudian, 1980, saya kembali ikut Sayembara Penulisan Naskah Roman DKJ. Selama tiga tahun saya menulis Bako yang pada awalnya hendak saya beri judul Mendiang atau Silsilah. Pengerjaan Bako benar-benar berpeluh, lima kali ketik ulang, dengan mesin ketik biasa. Paling akhir, harus pakai lima lembar kertas karbon setiap kali mengetik rangkap enam. Dan pengetikan harus diulang total dari baris pertama di halaman yang sama bila terjadi salah ketik di baris ke duapuluh. Salah ketik saja bisa diakali, bisa dihapus. Tetapi, celaka, ada kata yang tertinggal, atau ada frasa yang harus ditambahkan! Mana ada tip eks, mana ada laptop pada tahun itu. Betul-betul kerja keras! Sekarang? Menyunting naskah alangkah mudah. Dari halaman tujuh bisa langsung berpindah ke halaman tujuh puluh.

Dan, alhamdulillah, luar biasa. Bako dinyatakan menjadi satu di antara Tiga Pemenang Utama. Disusun menurut abjad, Tiga Pemenang Utama itu adalah Bako (Darman Moenir, Padang), Harapan Hadiah Harapan (Nasjah Djamin, Yogyakarta), Olenka (Budi Darma, Surabaya). Ada lima Pemenang Harapan: Den Bagus (Sudarmoko, Surabaya), Dicari Hari yang Cerah (E. Nohbi, Jakarta), Ketika Lampu Berwarna Merah (Hamsad Rangkuti, Jakarta), Merdeka (Putu Wijaya, Jakarta), dan Panggil Aku Sakai (Ediruslan Pe Amanriza, Pekanbaru). Naskah masuk 25, hanya 23 yang memenuhi syarat. Dewan Juri: Ali Audah, Sapardi Djoko Damono, Dami N. Toda, Toeti Heraty Noerhadi.

Merayakan kemenangan Bako, A.A. Navis menjamu saya dan keluarga makan bersama di sebuah rumah makan terkenal “Serba Nikmat” di Kota Padang. Jamuan itu dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat, Walikota Padang, beberapa Guru Besar, sastrawan, budayawan, dan seniman terkemuka, berjumlah sekitar 40 orang. Semasa Navis hidup, tradisi merayakan kemenangan itu berlanjut.

Ajip Rosidi dari PT Pustaka Jaya menyurat, penerbit yang dia pimpin dan asuh sedia menerbitkan Bako. Saya terlambung! Pustaka Jaya mau menerbitkan?! Tetapi ada syarat, kalau boleh, judul diubah: Keluarga Ayah atau apa. Saya galau. Bukankah saya sama sekali belum punya naskah sastra yang terbit menjadi buku? Tiba-tiba ada tawaran luar biasa. Namun, setelah saya pikir, judul tidak usah diubah, dan biarlah Bako belum terbit. Pada hemat saya, pada diksi bako ada sistem dan sekaligus kebaruan. Pada akhirnya tawaran untuk menerbitkan Bako itu datang dari PN Balai Pustaka. Dengan acc Redaktur Sastra Soetjipto, Soebagio Sastrowardojo, Abdul Hadi W.M., dan Hamid Jabbar, saya menanda-tangani kontrak penerbitan dengan BP. Para redaktur menjelaskan, di sana-sini ada penyuntingan, dan saya setuju. Dari sinilah saya tahu dan kemudian belajar banyak teknik penyuntingan naskah. Pada cetak pertama, Bako terbit 5.000 eksemplar, dan saya menerima wesel royalti penerbitan. Biarpun tidak banyak, alangkah enak memberi makan bini dan anak-anak dengan honor karya sastra. Syukran. Sampai 2013, Bako sudah tujuh kali dicetak BP (termasuk dua kali untuk naskah elektronik). Pada akhir 2012, Dewan Kesenian Jakarta pun melakukan digitalisasi terhadap Bako.

Dan, Bako mengantarkan saya ke mana-mana di Indonesia, di Asean, bahkan ke International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, 1988. Di kantor Kedutaan Besar AS di Merdeka Selatan, Jakarta, saya mengetahui, bahwa ke IWP saya ternyata direkomendasi oleh Wisran Hadi, Taufiq Ismail, Satyagraha Hoerip, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Mochtar Lubis, Peggy R. Sunday. Rekomendasi Taufiq Ismail dan Mas Oyik (sapaan akrab Satyagraha Hoerip) sangat didengar oleh USIS dan IWP. Sebelum berangkat ke AS, saya menerima “materi” berharga dari Goenawan Mohamad dan Ikranagara untuk, kalau-kalau, PEN Club New York bertanya mengapa buku-buku Pramoedya Ananta Toer (pada masa itu) dilarang beredar di Indonesia. Diskusi tentang Pram memang berlangsung di New York. Di AS, peserta diajak keliling ke 13 Negara Bagian, Pantai Timur, Pantai Barat, dan Amerika Tengah, Sante Fee. Sungguh-sungguh, sepuluh tahun sebelum itu, 1978, Wisran Hadi yang sedang mengikuti IWP menyurati saya, dan menyuruh saya membeli koper dan baju panas untuk juga terbang ke AS. Mungkin WH melucu, atau melagak, entahlah, tetapi itu memang terjadi: saya ke AS, diundang sebagai seorang sastrawan Indonesia. Kecuali untuk fiskal, tidak serupiah pun saya menggunakan uang dari Sawah Tangah, kampung-halaman saya. Dan sepulang saya dari AS, dengan sedikit gegar budaya, istri saya bertanya: apa rumah kita bisa direhabilitasi?

Melalui Bako pula saya berkenalan dengan beberapa calon sarjana S1, S2, S3 di pelbagai perguruan tinggi di Indonesia dan luarnegeri. Mereka bertanya tentang dan mengenai (novel) Bako. Bahkan dari Universitas Udaya, Bali, saya menerima pertanyaan yang semua dimulai dengan kata apa, siapa, mengapa, bilamana dan bagaimana. Apabila semua pertanyaan itu saya jawab, maka sebuah skripsi pun rampung.

Baca juga: 
Kesaksian Personal :Orasi Sastra Darman Moenir
Kesaksian Personal : Bagian Kedua Orasi Sastra Darman Moenir
Kesaksian Personal : Bagian Ketiga Orasi Sastra Darman Moenir