Kesaksian Personal : Bagian Ketujuh Orasi Sastra Darman Moenir

Oleh Darman Moenir 

Saudara-saudara semua.
“Untuk siapa Anda menulis?” demikian pertanyaan dilontarkan kepada Nadine Gordimer, penulis terkemuka Afrika Selatan, peraih hadiah Nobel Sastra 1991. Pertanyaan ini memiliki banyak turunan: dari manakah karakter dalam fiksi muncul? Apakah penulis harus berpijak pada realitas terdekat, berpihak pada keprihatinan yang dialami bangsa, ikut serta menentukan arus perubahan kondisi sosial masyarakat? Apakah penulis harus memiliki kesadaran politik atau revolusi? Apakah karya dan cipta sastra memang memiliki makna bagi masyarakat dan pembaca yang tengah mengalami ketidakadilan, keprihatinan, penindasan, atau kesewenang-wenangan? Sumbangan apa yang wajib diberikan sastrawan pada manusia?

Dalam pidato penyerahan Hadiah Nobel Sastra 1991 di Stockholm, Writing and Being, Nadine yang wafat dalam usia 90 tahun menegaskan pendirian, tugas seorang penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun. Hal itu tecermin dalam karya-karyanya.
Untuk Apa Menulis
Darman Moenir
“Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan,” ujar Gabriel García Márquez, peraih Hadiah Nobel Sastra 1982, satu kali, “tetapi kita harus memperjuangkan agar bisa menikmati dengan layak.” Kini, Gabo, demikian sastrawan asal Kolumbia ini akrab dipanggil, dicintai banyak orang karya-karya besarnya dibaca dan dikenang, bukan hanya selama seratus tahun, tetapi untuk selama-lamanya. (Terima kasih saya kepada Gus tf Sakai yang mengirimi saya terjemahan novel Marquez Seratus Tahun Kesunyian.)

“Mengapa Anda menulis? Mengapa Anda memberikan waktu anda untuk aktivitas yang aneh dan tidak jelas ini?” Orhan Pamuk, saat menerima Hadiah Nobel Sastra 2006, menjawab: “Ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan sepanjang karir menulis saya.” Pamuk sering memberikan jawaban berbeda ... Kadang sastrawan besar asal Turki ini berkata: “Saya tidak tahu kenapa saya menulis, tetapi yang pasti itu membuat saya merasa lebih baik. Saya harap Anda juga merasakan hal yang sama ketika membaca karya saya. Kadang juga saya berkata bahwa saya merasa marah, itulah, kenapa saya menulis. Dorongan untuk menulis, sebagian besar adalah karena ingin menyendiri dalam ruangan.”

Dan seorang penulis besar yang pernah dimiliki Rusia adalah Boris Leonidovich Pasternak. Karya novel epik Pastenak sangat terkenal, Dr. Zhivago, menggambarkan tragedi di seputar masa terakhir Kekaisaran Rusia dan hari-hari awal Uni Soviet. Pada Oktober 1958, Pasternak dianugerahi Hadiah Nobel Sastra, "untuk pencapaian pentingnya dalam puisi lirik kontemporer dan di bidang tradisi epik Rusia." Pemerintah Uni Soviet, yang sangat tidak senang dengan penggambaran kehidupan yang keras di bawah komunisme, memaksa Pasternak menolak penghargaan itu dan mengeluarkan Pasternak dari Persatuan Penulis Uni Soviet. Walaupun tidak dikirim ke pembuangan, semua terbitan karya dan terjemahan Pasternak tertunda hingga membuat dirinya kere.

Tidak ada orang India yang tidak mengenal Rabindranath Tagore, penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan Bengali. Tagore orang Asia pertama yang mendapat Anugerah Nobel Sastra, lebih dari seabad yang lalu, 1913. Memiliki pengaruh yang sangat luar biasa, tidak hanya di India, tetapi juga meluas hingga ke Eropa. Banyak karya-karya sastra Tagore diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di Indonesia, Rabindranath Tagore diabadikan di salah satu ruas jalan di Kota Surakarta. Pandangan Tagore soal pendidikan ternyata memengaruhi tokoh nasional, termasuk Ki Hajar Dewantara.

Saya juga ingin menyebut seorang sastrawan paling jenius yang pernah lahir pada abad ke-20: Ernest Miller Hemingway. Karya Hemingway yang paling fenomenal adalah trilogi besar, terdiri dari The Sea When Young, The Sea When Absent dan The Sea in Being (pada 1952 terbit dengan judul The Old Man and the Sea). Novel Lelaki Tua dan Laut ini diindonesiakan secara bagus oleh Sapardi Djoko Damono. Juga ada penerjemah lain, dan saya beberapa kali membaca teks asli The Old Man and the Sea.

Kisah hidup Hemingway paling dikenang adalah nasib sial yang selalu mendera. Dia pernah mengalami luka-luka dalam dua kecelakaan pesawat terbang secara berturutan. Luka-luka itu sangat serius, bahu kanan, lengan dan kaki kiri terkilkir, ia mengalami gegar otak parah, untuk sementara waktu kehilangan daya penglihatan mata kiri (daya pendengaran di telinga kiri juga terganggu), mengalami kelumpuhan tulang belakang, remuk, liver, ginjal, serta mengalami luka bakar pada tingkat pertama di wajah, kedua lengan dan kakinya. Dalam kecelakaan kebakaran semak, membuat ia mengalami luka bakar pada tingkat kedua pada kedua kaki, dada, bibir, tangan kiri dan bagian atas lengan kanannya. Pada 2 Juli 1961 dia menembak kepalanya sendiri dan langsung tewas.

Dan seorang penerima Hadiah Nobel Sastra paling kontroversial adalah Sir Winston Leonard Spencer Churchill. Mantan Perdana Menteri era Perang Dunia kedua ini dianugerai Hadiah Nobel Sastra untuk kepakarannya dalam penulisan riwayat dan sejarah dan juga kepintaran berucap memertahankan nilai kemanusiaan yang tinggi pada 1953. Padahal dialah sang arsitek pendaratan dan penyerangan Gallipoli di Dardanella waktu Perang Dunia Pertama yang menewaskan hampir seperempat juta nyawa prajurit. Churchill sangat menentang kemerdekaan India ketika masih dijajah Inggris. Namun berkat perang melawan Hitler bersama sekutu abadi, Amerika, membuat nama Churchill melambung tinggi, hingga tulisan itu diganjar Hadiah Nobel Sastra.
***
Saudara-saudara yang bijaksana.
Pada akhirnya saya perlu angkat topi dan menyampaikan salut kepada Dr. Wannofri Samry, M.Hum., Drs. Dasril Ahmad, Yurnaldi, Syarifuddin Arifin, Yulfian Azrial, Eddie M.N.S. Soemanto, dan Saudara-saudara yang sudah memungkinkan peristiwa Silaturahmi Sastrawan Sumatera Barat 2015 ini terselenggara. (Iven ini konon sudah dirancang sejak 2012, 2013 yang lalu.) Lalu, mungkinkah iven seperti ini diselenggarakan secara berkala? Tidak usah terlalu formal dan kaku, apa mungkin panitia mengakomodasi sebagian keperluan sastrawan daerah ini yang sudah sejak lama jalan sendiri-sendiri? Mungkinkah kepada sastrawan diberikan kesempatan berbuat dan menulis secara kreatif tanpa terbebani oleh keperluan rutin yang sering membebani? Mungkinkah karya-karya mereka diterbitkan dalam bentuk buku? Apa tidak perlu sastrawan berprestasi diberi penghargaan? Dan, pada masa datang apakah ada donatur, maesenas sastra, seperti pada saat ini diberikan oleh Emma Yohanna. Dulu, di Kota Padang, ada maesenas sastra Roestam Anwar, Boestami. H. Basril Djabar, kini, masih tidak berpikir lama untuk membantu aktivitas sastra. Lalu tahun-tahun mendatang, siapa?

Adakah suara ini didengar oleh Pemerintah Daerah Kota, Kabupaten, Provinsi dan Republik Indonesia?

Terima kasih.
Padang, 17 Agustus 2015

Darman Moenir