Pulau Laut Dibatas Ujung Tengah Indonesia

Pulau Laut adalah salah satu pulau terluar atau pulau terdepan batas antara perairan Indonesia dengan Laut Cina Selatan. Jika di tarik garis lurus ke sebelah kiri pulau (sebelah barat) posisi Pulau Laut, sejajar dengan Nageri Terengganu, Malaysia. Jika ditarik garis lurus sebelah kiri pulau (sebelah timur) sejajar dengan Negara Berunai Darussalam, dan Negeri Sabah-Serawak, negara tetangga, Malaysia.

Banyak potensi dan kondisi ekonomi terkini yang belum di ketahui oleh para pihak, tentang Pulau Laut. Maka untuk itu, melalui kegiatan: Identifikasi potensi ekonomi, sumber daya Laut dan Pesisir yang diketuai oleh Rainer Arif Troa, M.Si serta Penyediaan Data Rona Lingkungan KKLD Natuna yang diketuai oleh Ira Dillenia, S.S.M.Hum dari BALITBANG-KP-KKP-RI, yang baru saya menyelesaikan survei kunjungan ke Pulau Natuna dan Pulau Laut, Riau Kepulauan.

Kegiatan survei di bagi atas 4 tim terdiri dari tim laut ; mengamati ekosistem terumbu karang, biota penyu dan lokasi peneluran, spot lokasi kapal tenggelam sejak era Dinasti Sung, Ming, Ching yang sudah berumur 400 - 700 tahun. Hasil survei lokasi kapal tenggelam yang telah berumur ratusan tahun akan dijadikan sebagai lokasi wreck diving. 

Selain melakukan pendataan secara konprehensif juga mendokumentasikan hasil temuan sisa-sisa karemik kuno dan material dari bodi kapal yang didapatkan dekat kawasan lokasi kapal tenggelam. Kondisi bentuk kapal yang tenggelam sudah menyatu dengan kehidupan laut yang sudah tenggelam ratusan tahun lalu. Dimana bodi kapal sudah ditumbuhi jenis karang-karang meja yang lebar rata-rata mencapai 2 m. 
Pulau Laut
POSAL di Pulau Laut
Salah satu lokasi kapal tenggelam masa lalu yang berumur muda, dimana body mencuat ke permukaan dan sebagian bodi masih utuh adalah Kapal Korea yang terdapat di sebelah utara dari Pulau Laut dekat dengan Pulau Sekatung yang telah tenggelam sejak 30 tahun lalu. 

Ini adalah kawasan dan spot-spot yang potensial di kembangkan sebagai lokasi masa depan wisata bahari minat khusus “Wreck Diving”, Pulau Laut, pulau terdepan Indonesia. Selain itu tim lainnya juga melakukan pengamatan terhadap kualitas perairan di sekeliling Pulau Laut dan pantai barat Pulau Natuna. Sedangkan tim geofisik adalah tim yang selalu berada di atas kapal di tengah laut bergerak mengikuti pola pengambilan data di lokasi kapal tenggelam yang sudah ditetapkan. 

Hasil dari tim geofisik ini yang dapat menggambarkan kondisi kapal bawah laut yang saat ini yang sudah tertutup timbunan batuan ekosistem terumbu karang. Tim berikutnya adalah tim geolistrik yang bertugas untuk dapat mengidentifikasi dan melihat sisa-sisa bangkai kapal yang telah tertimbun dalam tanah dari tampilan penampang melintang hasil analisis program geolistrik.

Sedangkan tim darat lainnya dengan berbekal 4 ojek motor tim sosial ekonomi, tim perikanan tangkap, tim mangrove, termasuk tim rumput laut dan lamun melihat hasil tangkapan, perkembangan ekonomi keluarganya masyarakat kepulauan, dan jeis rumpun laut dan lamun. Tim geologi yang mengumpulkan pasir mulai dari pantai dangkal sampai terdalam/tubir, diambil pasir untuk melihat karbonat dan bikarbonat, dan berbagai jenis batuan di ambil juga. 

Dari hasil pengamatan langsung terhadap sampel batuan tim geologi menyatakan bahwa batuan di Pulau Sikatung depan Pulau Laut menunjukkan batuan tua yang telah berumur ratusan tahun, sejak zaman Jura Akhir 163 jt tahun lalu sampai zaman Kapur Tengah 88,5 juta tahun lalu (review pdt : Hakim dan Suryono, 1994). 

Batuan Jura ini merupakan salah satu batuan pulau yang “unik” di Indonesia yang tidak terdapat di semua pulau kecil di Indonesia. Zaman Jura ini bersamaan dengan zaman kehidupan di muka bumi masih terdapatnya hewan purba Dinosourus (Jurasik Pask). 

Tim akhir adalah tim GIS, yang mampu memetakan kondisi daratan dan laut Pulau Laut yang semua data-datanya didapatkan dari anggota tim yang menguasai di bidangnya, serta kami dipendamping oleh asisten, tenaga pendamping lokal yang sangat berperan ikut membantu kami dengan sepenuh tenaga dalam rangka mengumpulkan data-data Pulau Laut dan pantai barat Natuna dalam rangkaian survei yang totalitas, jauh, melelahkan dan penuh perjuangan. 

Mudahan-mudahan hasil dari kerja keras tim ini dalam waktu dekat kita akan mendapatkan informasi, dokumentasi, narasi laporan dan pemetaan dengan segala isinya tentang Pulau Laut dan Pulau Natuna, dalam rangka dan upaya menyelamatkan pulau terdepan di belahan tengah dari Indonesia, salam konservasi (Narasi: Harfiandri Damanhuri, Foto : Harfiandri dan Rainer A Troa, Okto-Nov, 2015)