Tanah Ulayat Nagari di Minangkabau

Oleh:Tuanku Mudo H. Emral Djamal. Dt Rajo Mudo

“Sudah tidak diragukan lagi, berdasarkan penjelasan Pasal 18 UUD 1945 maupun UUPA, tanah ulayat di Minangkabau tetap diakui. Maka tidak ada alasan baik oleh Pemerintah maupun badan atau perorangan untuk mengenyampingkan hukum adat terha dap pemanfaatan tanah ulayat di Minangkabau”. 

Yang menjadi pertanyaan, hukum adat manakah yang dapat dipegang dalam pemanfaatan tanah ulayat di Minangkabau ?. Hukum Adat manakah yang dibakukan sebagai pegangan dalam mengambil keputusan dalam sengketa tanah ulayat. Apakah adagium-adagium Adat Minangkabau itu telah dapat diterima sebagai landasan hukum adat dalam mengambil keputusan tentang masalah tanah ulayat di Minangkabau ? 

Dalam pengertian khusus tanah ulayat nagari telah dipakai dan menjadi hak rakyat asli menurut hindunya masing-masing. Dan menjadi hak ulayat kaum masing-masing penghulunya. Sesuai dengan ketentuan fatwa adat : ganggam bauntuak, pacik bamasiang. Hak penguasaan, pengawasan dan pengendalian tanah ulayat ini berada pada ninik mamak Penghulu sampai kepada mamak kepala waris yang diakui sah oleh limbago ninik mamak dalam kepenghuluan kaumnya. Dalam sebuah kaum penghulu ada beberapa mamak kepala waris yang mewakili paruiknya masing-masing. Dan semuanya berada dalam jajaran kepemimpinan kepenghuluan Adat Alam Minangkabau. Ada empat kategori dalam menentukan hak-hak ulayat dalam nagari, yakni :

1. Hak Ulayat Nagari 
2. Hak Ulayat Suku dalam Nagari 
3. Hak Pusaka Kaum dalam Nagari dan 
4. Hak Tempelan

1. Hak Ulayat Nagari, adalah hak wilayah meliputi bumi dan langit dan segala isinya yang menaungi sebuah nagari sesuai dengan batas-batas yang telah disepakati dengan tetangga-tetangga nagari tersebut. Seperti laut, gunung, bukit, sungai, danau, hutan, rimba, rawa, telaga, balairung, labuah, tapian, galanggang, pamedanan, balai adat nagari, surau dan masjid, situs-situs dan benda-benda purba serta lokasinya dan lain-lainnya, bahkan sampai kepada lesung sebuah adalah hak ulayat nagari namanya.

2. Hak Suku Dalam Nagari, adalah bagian-bagian dari hak ulayat nagari yang telah menjadi hak ulayat suku dalam nagari tersebut sesuai dengan waris nan dijawat pusako nan batolong sejak kedatangan ninik moyang kaum pesukuan tersebut yang melakukan cancang latieh, tambang taruko di negeri tersebut. Memiliki batas sempadan dengan hak–hak ulayat suku lainnya dalam nagari tersebut. Ke bukit berguling air, ke lurah beranak sungai. Setiap penghulu-penghulu suku tersebut menguasai tanah ulayat yang menjadi HPT kaumnya masing-masing. Yang menjadi ulayat penghulu itu terdiri dari hutan tanah yaitu tanah mati yang tidak berpunya, yakni rimba, gunung, bukit, padang, paya, rawang, lurah, sungai, tasik dan danau.
Tanah Ulayat

3. Hak Pusaka Kaum / HPT dalam Nagari, adalah hak-hak suku yang telah membelah menjadi beberapa kaum atau paruik pasukuan tersebut, dan masing-masing kaum tersebut mempusakai pula harta-harta warisan berupa rumah gadang, sawah, ladang, lumbuang, banda buatan, surau, balai adat, dan segala barang dan benda-benda perhiasannya, nilai-nilai budaya seperti gelar pusaka sako adat dan segala aksesori adat yang diterima dan dipusakai secara turun temurun sampai kepada anak cucunya dalam masing-masing kaum pesukuan dalam nagari tersebut.

4. Hak Tempelan, atau hak suarang, yaitu hak turutan yang didapatkan seba gai harta hibah, harta beli, harta pagang yang beraku, dan harta dapat atas usaha sendiri. Harta atas jerih payah usaha keluarga yang terdiri dari ibu, bapak dan anak, dan lain-lainnya dalam keluarga. 

Secara keseluruhan hak-hak ini menjadi harta kekayaan penduduk asli “urang basuku” yakni orang Minangkabau, yang hidup secara berkaum-kaum, basuku-basako-bapusako dalam sebuah nagari di Alam Minangkabau yang tidak boleh diperjual belikan begitu saja. Adat mengatakan :

Sagalo hal hutan tanah, jikok ngalau nan barpanghuni, dari jirek nan sa-batang sampai ka rumpuik nan sa-halai, jikok capo nan sarumpun atau batu nan sabuah, jikok aie nan satitiek, sampai ke lawik nan sadidieh, ka ateh taambun jantan, ka bawah takasiek bulan sampai ka pitalo bumi, penghulu “nan punyo” ulayat, lah tabagi dalam nagari, aturan lah sudah sajak daulu, tapakai juo sampai kini, hanyo malu nan alun babagi".***

Artikel Terkait