Dari 80 Tahun Rusli Marzuki Saria : Rusli Impresionistis Dan “ Monumen Safari ” Tonggak Perpuisian Di Sumbar

Oleh : Dasril Ahmad

Sebagai penyair di republik ini, nama Rusli Marzuki Saria sudah lama tercatat dalam sejarah Sastra Indonesia modern. Buku-buku puisi serta esai-esai yang ditulisnya dalam buku Monolog dalam Renungan, termasuk laporan-laporan perjalanannya ke luar negeri, senantiasa ditulisnya bernuansa puitik, bahkan terkesan seperti bakaba. Rusli termasuk penulis yang romantis dengan gaya impresionistis. Seperti halnya Rusli bergaul akrab dengan generasi yang jauh lebih muda darinya, tetap terkesan tak berjarak, cair, jauh dari arogansi, dan sangat bersahaja. Sebagai pribadi, ia memang istimewa dan langka.

Demikian diungkapkan Harris Effendi Thahar, cerpenis dan Guru Besar Pendidikan Sastra Universitas Negeri Padang, ketika berbicara tentang ‘kepenyairan Rusli Marzuki Saria’ pada “Perayaan 80 Tahun Penyair Rusli Marzuki Saria : Peluncuran dan Bedah Buku Antologi Puisi ‘Monumen Safari’ (karya Chairul Harun, Rusli Marzuki Saria, Leon Agusta, dan Zaidin Bakry)”, di auditorium gubernuran Sumbar, Sabtu (27/2). Dalam acara yang diprakarsai dua (bersaudara) wanita pengarang Indonesia : Free Hearty (Bundo Free) dan Sastri Bakry ini, juga tampil pembicara lain, yaitu Ivan Adilla (doktor sastra di FIB Unand, Padang), yang membahas buku antologi puisi “Monumen Safari” tersebut, dengan moderator Yusrizal KW.
Pada awalnya, tambah Harris, seorang Rusli Marzuki Saria dilahirkan mungkin bukan untuk menjadi penyair. Akan tetapi garis nasib menjadikannya penyair, manusia yang bergulat dengan kata-kata yang akhirnya menjadi sikap hidupnya. Latar belakang lingkungan, pendidikan, dan karir Rusli Marzuki Saria telah menjadikan dia seorang penyair yang intens hingga usianya yang hari ini 80 tahun. Lahir di Kamang, Kabupaten Agam, 26 Februari 1936 dengan latar belakang pendidikan SMA B, jurusan sastra. Mula-mula menjadi polisi di masa pergolakan PRRI, akhirnya menjadi wartawan dan redaktur Seni Budaya surat kabar Haluan di Padang.

Menurut Harris, Rusli tidak pernah merantau.Selama 80 tahun ia kukuh hidup menyair di tanah kelahirannya yang disebutnya sebagai tanah kecintaan para parewa! Kesetiaan Rusli sebagai penjaga gawang ruang ‘Budaya Minggu Ini’ harian Haluan tiap Selasa sejak 1970 hingga ia dipensiun, telah banyak melahirkan penulis-penulis puisi dan cerpen, bahkan penulis novel yang mumpuni seperti Darman Moenir dan Gus tf. Meski demikian, tak seorang pun dari mereka yang menjadi epigon Rusli. Hal ini menunjukkan bahwa Rusli adalah seorang guru yang berhasil memotivasi setiap muridnya menjadi dirinya sendiri.
80 Tahun Rusli Marzuki Saria
Rusli Marzuki Saria

“Begitu juga halnya dengan Rusli. Sebagai penyair Indonesia, Rusli Marzuki Saria tidak meniru gaya siapa-siapa, apalagi epigon dari penyair ternama lainnya. Menurut HB. Jassin, Rusli seorang penulis sajak impresionistis. Penulis kesan-kesan yang sangat pribadi ke dalam bentuk sajak-sajak yang puitik, terutama dalam bentuk lirik-lirik. Kesetiaannya menulis sajak-sajak dalam kurun waktu yang sangat panjang bagi kebanyakan penyair, tidaklah mengubah gaya penulisannya, hingga pun hari ini,” jelas Harris dalam makalahnya “Kita Daun-Daun Gugur Sepanjang Musim” (Kado Ulang Tahun ke-80 Rusli Marzuki Saria) itu.

Tonggak Perpuisian Di Sumbar

Sementara itu, Ivan Adilla yang tampil dengan makalah “Monumen Safari : Antologi Puisi Selepas Masa Pergolakan”, menyatakan bahwa dua perang saudara (pergolakan PRRI dan peristiwa G30S) yang melanda Sumatera Barat, memberi pengaruh besar terhadap berbagai aspek dan ruang sosial masyarakat Minangkabau, tak terkecuali juga terhadap bidang kesenian. Ia melihat, antologi Monumen Safari pertama kali diterbitkan tahun 1966, yakni setahun setelah Peristiwa G30S. Sejauh yang dapat dilacak, karya ini merupakan antologi bersama yang pertama diterbitkan di Padang. Para penulis yang karyanya disertakan dalam antologi ini terlibat dalam dan menyaksikan kedua maupun salah satu dari perang saudara itu.

“Mudah dipahami kenapa aroma dan kesan tentang peperangan begitu kental dalam antologi ini. Masing-masing penyair menyatakan kesan dan sikap yang hampir sama tentang perang: sesuatu yang menyakitkan, menyedihkan, memilukan dan menghancurkan. Sikap penyair terhadap masalah ini ditentukan oleh posisi dan kadar keterlibatan mereka dalam peristiwa. Zaidin Bakry dan Rusli Marzuki Saria adalah dua prajurit yang terlibat langsung dalam perang saudara. Keduanya menyajikan tragik kemanusiaan yang mereka alami pada masa perang,” jelasnya.

Menurut Ivan Adilla, dalam puisi-puisinya, Zaidin Bakry menampilkan dirinya sebagai manusia bijak, penuh empati dan lembut. Kesan ini kontras dengan dunia militer yang tegas, sangar dan patuh pada komando. Dengan demikian, jelaslah bahwa Zaidin Bakry tidak memanfaatkan sastra untuk kepentingan pasukan atau rezim yang didukungnya, karena ia tidak manampilkan dirinya secara heroik dan propagandis di dalam puisi. “Saya menduga, puisi bagi Zaidin Bakry adalah sarana untuk pemulihan jiwanya sebagai manusia. Melalui puisi ia bisa menunjukkan empati dan pergulatan batinnya sebagai prajurit, maupun pengamatannya terhadap masalah sosial. Jika dugaan ini benar dan karya Zaidin Bakry yang lain bisa ditemukan dan dipublikasikan, penyair ini akan memberi warna berbeda dalam khasanah sastra Indonesia,” ujar Ivan optimistis.

Berbeda dengan Zaidin Bakry, di mata Ivan, Rusli Marzuki Saria memilih menyatakan sikapnya sebagai prajurit melalui puisi. Hal yang hampir sama juga terlihat pada puisi-puisi Leon Agusta. Namun, dari keempat penyair ini, agaknya Chairul Harun adalah yang paling berjarak dari peristiwa perang saudara tersebut. Puisi Chairul Harun yang dimuat pada antologi ini, menunjukkan perhatiannya pada masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitar. Cara pengungkapan maupun aspek sosial yang dipilihnya menunjukkan bahwa Chairul tidak memiliki fokus terhadap masalah sosial tertentu. Puisinya lebih banyak berisi kesan tentang peristiwa yang disaksikannya, yang diceritakan dalam bahasa yang lugas, tak banyak metafora, tetapi lebih banyak berisi harapan dan doa.

Dalam konteks ruang dan waktu seperti itulah, jelas Ivan, penerbitan antologi Monumen Safari edisi pertama tahun 1966 menjadi tonggak penting perjalanan sejarah sastra, khususnya di bidang puisi, di Sumatera Barat. “Setidaknya tiga dari empat penulis dalam antologi ini melanjutkan aktivitas dan dikenal sebagai sastrawan Indonesia, sementara seorang yang lainnya melanjutkan karir di dunia militer. Sebagaimana harapan yang tersirat pada judulnya, antologi ini berhasil menjadi monumen perjalanan aktivitas penulisnya dalam arena kesusasteraan Indonesia,” tegas Ivan Adilla dalam acara meriah dihadiri 150 peserta ini. *** (Padang, 08 Maret 2016).