Catatan Kebudayaan : Mendiskusikan Sebuah Arca

Oleh Dasril Ahmad

Sebuah arca di museum adalah penting, bukan saja karena ia merupakan sumber sejarah kebudayaan bangsa, tetapi juga relevan dengan fungsi museum untuk melestarikan, mendokumentasikan, dan objek penelitiaan yang kemudian menginformasikan warisan budaya manusia masa lampau itu kepada masyarakat. Menyangkut fungsi museum untuk menginformasikan ini, tentu saja kehadiran sebuah arca –dan benda-benda kuno bersejarah lainnya, di museum itu akan lebih berarti dan dirasakan manfaatnya, kalau saja museum menyediakan petugas-petugas yang mengerti (minimal punya pengetahuan memadai) tentang arca dan sejarah kebudayaan masa lampau yang disimbolkan lewat aca tersebut. Jika tidak demikian, maka niscaya museum akan kewalahan menunaikan tugasnya di bidang informasi ini. Dalam hal ini, upaya untuk antisipasinya perlu dilakukan se-dini mungkin, misalnya dengan menyelenggarakan kegiatan penunjang, seperti diskusi arkeologi, yang dipandang bermanfaat untuk itu.

Museum Negeri “Adhityawarman” Provinsi Sumbar di Padang, misalnya, mengalami keadaan yang demikian. Sejak tahun lalu, petugas museum ini “kewalahan” melayani masyarakat dalam segi pemberian informasi tentang sejarah raja Adhityawarman itu, sebagaimana disimbolkan dari arcanya. Maka, perlulah disambut baik upaya pengelola museum ini untuk mengatasi hal itu dengan menyelenggarakan sebuah diskusi arkeologi, dengan mendatangkan pembicara dua arkeolog terkenal di Sumbar, yaitu Drs. Surya Helmi dan Drs. Lutfi Yondri. “Pelaksanaan diskusi arkeologi ini dimaksudkan untuk memberi masukan pengetahuan tentang arca Adhityawarman itu kepada petugas kami, agar kelak mereka tak kewalahan lagi melayani masyarakat,” kata Kepala Museum Adhityawarman, Drs. Erman Makmur, ketika membuka diskusi yang berlangsung di auditorium museum itu, Sabtu, 26 Juni 1993. lalu.

Museum Adityawarman

Siapakah Adhityawarman? Arkeolog Surya Helmi dalam diskusi ini menyatakan, bahwa tentang siapa Adhityawarman itu sebenarnya sampai sekarang belum dapat ditentukan , karena data tentang itu di nasional dan internasional boleh dikatakan masih kabur. Menurut Surya, masih diragukan apakah Adhityawarman itu raja atau tidak, punya kerajaan atau tidak, dan punya pengikut atau tidak. Ia cuma mengajak kita untuk bersama-sama meneliti hal itu. “Saya tidak menolak bila ia punya kerajaan, tapi sampai sekarang belum ada bukti-bukti otentik tentang itu,” tegas Surya Helmi.

Di sisi lain, sarjana arkeologi lulusan Fak. Sastra UGM Yogyakarta tahun 1983 ini justru melihat Adhityawarman lebih sebagai seorang agamais ketimbang seorang politisi. Sebab, “Sumber sejarah berupa prasasti membuktikan bahwa aktifitas religi menempati kedudukan yang penting dalam sistem pemerintahan Adhityawarman. Sedangkan dari prasasti-prasasti itu tak ada bukti otentik yang menyatakan bahwa Adhityawarman berkuasa di bidang pemerintahan,” katanya.

Begitu kuatnya sistem religi berperan di masa kejayaan Adhityawarman, maka “Sejarah Sumatera Barat sekitar pertengahan sampai perempat akhir abad XIV tidak dapat dilepaskan dari persoalan keagamaan yang dianut oleh Adhityawarman, bahkan dapat dikatakan bahwa sistem religi Adhityawarman itu sendiri merupakan kunci sejarah Sumatera Barat,” jelas putera Batusangkar kelahiran 6 April 1953 yang kini menjabat Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumbar-Riau, ini lagi.

Beda dengan Surya, arkeolog Lutfi Yondri dalam kesempatan ini menegaskan bahwa Adhityawarman adalah tokoh besar abad XIV di kawasan Nusantara. Sebagai salah seorang tokoh besar di kerajaan Melayu, Raja Adhityawarman merupakan raja yang cukup banyak meninggalkan berita-berita tertulis berupa prasasti, serta benda-benda lainnya yang menunjukkan kebesarannya di masa silam itu. “Berdasarkan data sejarah dan purbakala, baik yang berasal dari sumber naskah dan prasasti, dapat diketahui bahwa Adhityawarman berkuasa di Sumatera (Melayu) setelah kerajaan Sriwijaya. Sebelum memerintah di Melayu, keberadaan Adhityawarman sangat berkaitan erat dengan kerajaan Majapahit di Jawa Timur,” ujar Lutfi.

Menurut Lutfi, pada prasasti dari arca Amoghapasa yang berangka tahun 1347 Masehi atau 4 tahun setelah diangkatnya Adhityawarman sebagai Mantir Praudhatara di Kerajaan Majapahit, sebagaimana yang disebutkan dalam prasasti Manjusri (1265 Saka), rupanya Adhityawarman telah kembali ke Sumatera (Melayu) untuk menduduki tahta raja di Kerajaan Melayu. “Dan agaknya setelah menjadi raja di Melayu, ia sudah melepaskan dirinya dari pengaruh Majapahit, yang dibuktikan dengan dipakainya sebutan Maharajadhiraja pada gelarnya,” tegasnya.

Sungguhpun demikian, menilik kepada arcanya, kedua arkeolog ini sependapat bahwa replika arca Adhityawarman yang ditempatkan di Museum Negeri Sumbar itu merupakan arca yang disebut Bhairawa, ditemukan di Padang Roco, Sungai Langsat. Lutfi menyatakan, sampai sekarang di Museum Nasional Jakarta, penamaan yang masih dipakai untuk arca Bhairawa yang ditemukan di Padang Roco itu adalah nama Adhityawarman. Belum ada sanggahan dari para ahli berikutnya terhadap penamaan Arca Adhityawarman yang diberikan oleh Schnitger pada tahun 1935 itu. “Oleh sebab itu, berdasarkan perbandingan penggambaran arca Bhairawa Padang Roco ini dengan penggambaran Siva Bhairawa sebagaimana lazimnya, saya lebih cenderung menghubungkan arca ini dengan menyebutnya sebagai arca perwujudan raja Adhityawarman,” jelas Lutfi.

Sementara Surya Helmi mengemukakan, keberadaan arca Bhairawa di Padang Roco, oleh para ahli dianggap sebagai arca perwujudan Adhityawarman, yang semasa hidupnya merupakan penganut sekte Bhairawa yang teguh. Tampaknya, gambaran fisik arca tersebut menurut kedua arkeolog ini merupakan gambaran yang berkaitan erat dengan sistem keagamaan yang dianut Adhityawarman pada masa itu. Arca setinggi 4,41 meter ini menggambarkan Adhityawarman berdiri di atas 8 buah tengkorak kepala manusia. Matanya melotot, mulutnya menyeringai dengan dua buah taring di antara gigi-giginya. Tangan kanannya berada dalam posisi bergerak mengangkat pisau, tangan kiri memegang mangkok yang berada persis di bawah pisau. Kedua pergelangan tangan, lengan dan kaki masing-masing dihiasi dengan sebuah gelang (kankana) berbentuk ular.

Dinyatakan bahwa agama yang dianut Adhityawarman adalah sekte Bhairawa dari agama Budha Mahayana. Penggambaran arca Adhityawarman demikian merupakan suatu gambaran dari upacara pelaksanaan keagamaan tersebut. Menurut Surya, ciri khusus yang melekat pada sekte Bhairawa terletak pada pencapaian tujuan akhir dengan menggunakan jalan mistis. Proses penyatuan dengan dewa tertinggi secara mistis itu merupakan “trade mark” dari sekte Bhairawa itu. Sifat mistis itu dapat dilihat dalam upacara yang biasanya dilakukan pada tengah malam, di suatu kuburan yang penuh dengan serakan mayat-mayat berbau busuk. Dalam upacara itu, Adhityawarman duduk di atas tempat duduk tinggi yang terdiri dari setumpukan mayat segar, dan lama sambil makan dan minum dari mangkok atau bakor (tengkorak).

Upacara di atas, tambah Surya, sangat sesuai dengan penggambaran yang diperoleh dari deskripsi arca Bhairawa yang ditemukan di Padang Roco. Gerak tangan arca yang mengangkat pisau memberi indikasi proses “pembunuhan” korban (binatang atau manusia) yang kemudian darah si korban ditampung pada bakor (tengkorak). Kedelapan buah tengkorak sebagai tempat berdiri menggambarkan kuburan yang terdiri dari tumpukan mayat-mayat manusia yang dikorbankan.

Pada segi lain, penggambaran arca Adhityawarman demikian, menurut Lutfi, lebih dimungkinkan karena pengaruh masuknya agama lain, yaitu Islam di masa pemerintahan raja Adhityawarman ini. Sebab, pada masa Adhityawarman ini agama Islam sudah tersebar di bagian barat Nusantara. Hal ini merupakan tantangan besar bagi Adhityawarman, karena akan mempengaruhi ia dalam memperkuat dan memperdalam agama yang dianutnya. Maka yang selama ini agama Budha selalu dihubungkan dengan kesabaran dan kedamaian sesama manusia, pada masa Adhityawarman justru menjadi agresif, seakan-akan ingin memusnahkan lawan-lawannya. “Arca Bhairawa yang ditemukan di Padang Roco ini merupakan perwujudan daripada raja Adhityawarman yang melindungi negaranya dan siap memusnahkan segala musuh-musuhnya yang datang mengancam rakyat, agama dan kerajaannya,” tegas Lutfi.

Diskusi arkeologi arca Adhityawarman yang diikuti 60 peserta ini, tampaknya telah memenuhi harapan penyelenggara untuk menimba sebanyak mungkin informasi tentang arca Adhityawarman. Tapi Kepala Museum Adhityawarman, Erman Makmur pun berjanji bahwa diskusi ini kelak akan berlanjut lagi, yakni melihat Adhityawarman dari aspek sejarahnya. Semoga…! (Padang, Juli 1993). ***

*) Tulisan lama, pernah dimuat di ruang Budaya Minggu Ini (BMI) harian Haluan, Padang, edisi, Selasa, 20 Juli 1993

Artikel Terkait