Mengenang Chairil Anwar Lewat Sajak Kawanku dan Aku

Oleh Dasril Ahmad

Tanggal  28 April merupakan tanggal dan bulan yang selalu dikenang dan diperingati oleh kalangan penyair dan sastrawan Indonesia, karena pada tanggal tersebut, 67 tahun yang lalu , tepatnya 28 April 1949, wafatlah penyair besar kita, Chairil Anwar, dalam usia yang relatif muda, 27 tahun. Chairil Anwar lahir 26 Juli 1922 di Medan. Mulai menulis sajak sesudah Jepang mendarat di Indonesia. Chairil dianggap sebagai pelopor angkatan 45 dalam kesusastraan Indonesia, karena sajak-sajaknya membawa revolusionir dalam bentuk dan isi, yang berbeda dengan sajak-sajak penyair Indonesia dari angkatan sebelumnya. Dengan kata lain, Chairil Anwar yang berasal dari Nagari Taeh Kabupaten Limo Puluah Koto Sumatera Barat itu, merupakan penyair yang sudah memancangkan tonggak sejarah dalam kesusastraan Indonesia modern. Namun dia tak berumur panjang. Tuhan terlalu cepat memanggilnya. Chairil telah tiada, namun kita tetap akan mengenangnya.

Tanggal 28 April 1949 adalah tanggal terakhir dari hidup Chairil. Namun desahan nafasnya masih kita rasakan sampai saat ini. Bahkan untuk selamanya desahan nafas Chairil akan tetap segar kita rasakan. “Aku mau hidup seribu tahun lagi,” ucapnya dalam sebuah sajaknya.

Agaknya, dalam suasana memperingati 67 tahun wafatnya penyair Chairil Anwar di tahun ini, suatu hal yang terpuji bila kita sejenak menikmati salah satu sajaknya sambil kembali mengenangnya. Mengenang sesuatu yang telah tiada selintas akan menyudutkan kita kepada suasana sedih yang mendalam. Namun mengenang Chairil, kita tak merasakan benar kesedihan itu. Malah sebaliknya, kita seolah tak merasa kehilangannya, sepertinya dia kembali hadir di tengah-tengah kehidupan kita.

Chairil Anwar

Memang, Chairil serasa tidak atau belum pernah (akan) luput dari perhatian kita. Dialah yang selalu menggelorakan dan mendatangkan rasa bangga di hati kita selama ini di ladang perpuisian Indonesia, bahwa kita ternyata punya penyair besar yang tak terlupakan sampai kini.

Sajak “Kawanku dan Aku” Chairil Anwar, sengaja saya ambil untuk bahan renungan sambil mengenangnya saat ini. Sajak ini saya temukan dalam kumpulan “Kerikil Tajam dan yang Terempas dan yang Putus” (Pustaka Rakyat Jakarta cetakan II, tahun… (tak tercantum), yang seutuhnya saya turunkan berikut ini.

KAWANKU DAN AKU
Kepada L.K. Bohang

Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut,
Hujan mengucur badan.

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan,
Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.
Siapa berkata?

Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga.
Dia bertanya jam berapa!
Sudah larut sekali
Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti.

5 Juni 1943.

Memahami secara keseluruhan makna sajak “Kawanku dan Aku” di atas, kita peroleh suatu gambaran yang semakin mendekati pengenalan kita kepada kepenyairan Chairil Anwar. Sajak yang ditulis tahun 1943 ini kepada kita telah dipaparkan akan suatu masa yang kelak tak dapat tidak mesti dilalui. Rasa takut serta kekhawatiran di akhir hidup ternyata telah dapat dirasakan Chairil Anwar di kala itu, ketika sajak ini ditulis. Chairil telah bisa membayangkan bahwa keadaan itu akan dialaminya enam tahun kemudian.

Simaklah ungkapan Chairil pada bait pertama, “Kami jalan sama. Sudah larut/ Menembus kabut/ Hujan mengucur badan”. Pengertian kata “larut” di sini, bisa berarti ganda (ambiguity). Larut mengingatkan kita kepada malam , malam yang telah larut, atau usia yang telah larut, tua. Dan boleh jadi sesuatu benda yang larut/lebur di dalam benda/zat lainnya . Berangkat dari pengertian ini, kita bisa maklum bahwa perjalanan yang dilakukan aku dan kawannya (kami) dalam kondisi yang larut. Lalu kata “menembus kabut” menyiratkan bahwa perjalanan itu penuh dengan tantangan. Apalagi suasana “hujan mengucur badan”. Maka jelaslah bahwa perjalanan itu dalam keadaan yang mengerikan/mengkhawatirkan sekali.

Lebih lanjut pada bait ke dua Chairil mengungkapkan keadaannya yang lebih buruk lagi. “Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan”. Kata “berkakuan” bagi kapal jelas melambangkan keadaan yang buruk sekali. Bukankah selamanya kapal selalu bergerak, atau selalu penuh dengan kesibukan? Sekalipun dalam keadaan mangkal (berlabuh) di pelabuhan.

Baca juga: Kesaksian WS Rendra Tentang Kehidupan Hukum di Indonesia

Begitulah, secara meyakinkan Chairil dapat menuangkan keadaan di akhir hidupnya yang cukup tragis. “Darahku mengental pekat. Aku tumpat-pedat”. Di sini berarti keadaan aku jelas dalam detik-detik hidup terakhir. Darah suatu pertanda adanya hidup, tentu saja darah yang tetap mengalir dalam tubuh. Sekarang “darah mengental”, jelaslah bahwa aku berada di akhir hidup. Semakin deras hujan mengucur badan si aku, semakin mengental pula darah di dalam tubuh. Sehingga aku jadi “tumpat pedat” (sesak, sesuatu yang menyesakkan dalam tubuh). Bagi seseorang yang dalam keadaan demikian, barangkali dia tak akan dapat diharapkan untuk bisa menguasai keadaan sekeliling lagi. Namun Chairil tidak, dia masih sempat mendengar seseorang berkata, “Siapa berkata?” Suatu pertanda lagi bahwa si aku masih bertahan untuk hidup. Masih ada tanda-tanda hidup bagi aku.

Lalu bait berikutnya, “Kawanku hanya rangka saja/Karena dera mengelucak tenaga”. Kata “rangka” dalam bait di atas, jelas menunjukkan bahwa seseorang yang telah mati, yang hanya tinggal rangka karena tenaga telah habis dikelucak dera. Namun kita jadi heran, siapakah yang berkata-kata? Keheranan kita tambah dipertebal tatkala kita ikuti ungkapan Chairil pada bait berikutnya (bait ke enam) yakni, “Dia bertanya jam berapa!” dan bait ke tujuh (terakhir), “Sudah larut sekali/ Hingga hilang segala makna/ Dan gerak tak punya arti.” Penggunaan tanda baca seru (!) di bait ke enam jelas menandakan keheranan si aku. Siapa lagi yang bertanya dan untuk apa lagi guna tanya, apabila keadaan telah larut sekali dan makna telah hilang serta gerak tak lagi punya arti?

Dari ungkapan di atas, jelaslah bahwa dalam keadaan demikian, di akhir hidup yang mengerikan, bagi Chairil dilalui dengan penuh keheranan. Seperti halnya Chairil telah lebih dahulu tahu bahwa maut itu akan datang menjemputnya pada enam tahun kemudian. Suasana demikian tentu saja sangat mengerikan. Karena di saat itu bagi Chairil, hujan tidak lagi sumber kesuburan, melainkan juga ikut membinasakan.

Begitulah sekelumit penafsiran yang saya temukan dalam sajak “Kawanku dan Aku” Chairil Anwar di atas. Barangkali dengan penafsiran sajak ini akan terasa lebih mendalam dan lengkap renungan kita untuk mengenang wafatnya penyair Chairil Anwar, 67 tahun yang lalu. Dan sudah semestinya untuk kita, tetap mengenang dan memperingati hari wafat Chairil ini, seperti juga kepada kita telah terpikul beban yang boleh jadi sebagai pewaris dari kepenyairan yang dimiliki Chairil. Semoga, dan “tenanglah kau Chairil di sisi-Nya”. Amin..! ***
(Padang, April 1982 - 2016).
* Dasril Ahmad, kritikus sastra, tinggal di Padang