Menumpang Hidup Pada Politik

Oleh Pinto Janir

Orang yang menumpang hidup pada politik, tak akan pernah terlihat gagah dan kharismatik. Ia hanya akan menjadi pesuruh tuan politik.

Masuk dalam ranah politik bukanlah masuk dengan segala ragam keterpaksaan karena panik hidup dalam kesarikan ekonomi.

Politik adalah idelogi dan paham. Terlibat politik atau melibatkan diri ke gelanggang politik tanpa ada ideologi diri, cendrung akan membuat kita gagal paham.

Gagal paham adalah kecelakaan yang paling mengecewakan hidup dan kehidupan.

Politik bukan kajian setengah hati, tapi adalah kajian bulat hati, kajian bulat pikiran dan kajian bulat sikap untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan dalam eksekusi kebijaksanaan yang bijak dan arif.

Kearifan adalah pemahaman.Kebijaksanaan adalah pengertian. Bila tersandung pada pengertian, kembalikan bertanya pada segala kepatutan dan segala kemungkinan. Kalau sudah "patut" keniscayaan adalah ada kemungkinan. Bila ada :kemungkinan" tapi belum "patut" maka tunggu waktu yang tepat dan ruang yang benar.

politik dan kekuasaan

Manusia adalah "zoon politicon" .Begitu pendapat Aristoteles. Manusia makhluk sosial. Zoon berarti "hewan" dan kata politicon berarti "bermasyarakat".Secara harfiah Zoon Politicon berarti hewan yang bermasyarakat. Adam Smith, ia menyebut istilah mahkluk sosial dengan Homo Homini socius.Artinya manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya.Adam Smith menyebut manusia sebagai makhluk ekonomi (homo economicus), makhluk yang cenderung tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperoehnya dan selalu berusaha secara terus menerus dalam memenuhi kebutuhannya.

Thomas Hobbes menggunakan istilah Homini Lupus untuk menyebut manusia sebagai makhluk sosial.Artinya, manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnnya.

Islam memandang bahwa hidup adalah Habluminallah dan Habluminannas di mana manusia yang satu dengan manusia yang lainnya saling Amarma'ruf nahimunkar ,saling membantu satu dengan lainnya baik dalam kondisi apapun.

Politik dalam kajian Islam adalah politik yang rahmatan lil ‘ alamin seperti apa yang dilaksanakan nabi Muhammad untuk memperbaiki akhlak ummat. Nabi Muhammad saw sebagai rahmatan lil ‘ alamin artinya beliau diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan rahmat-Nya dengan cara memperbaiki akhlak.

Pada saat itu masyarakat rusak moralnya hingga norma-norma kesusilaannya, bahkan jauh menyimpang dari ajaran Allah. Semuanya diberantas dan diperbaiki, kemudian diganti dengan akhlakul karimah yang sesuai dengan wahyu Allah SWT. Dengan demikian, masyarakat menjadi damai, rukun, bahagia, sejahtera, dan mendapat ridha Allah SWT, dalam Firman Allah SWT : “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. “(Surat Al-Anbiya : 107).

Bila begitu adanya, politik adalah "ibadah" untuk menyampaikan apa yang benar dan baik dan meninggalkan atau memberantas apa yang salah di atas dunia. Kita lakukan dengan media politik, dengan cara memegang tampuk kekuasaan, bukan menjadi kacung politik, pecundang politik, pesuruh politik dan menumpang hidup pada politik.

Politik tidak kotor. yang kotor itu adalah tangan orang yang "memegang" atau "memainkan" politik. Politik itu "bersih" bukan berlunau.

Bila politik mengejar kekuasaan, maka kekuasaan hanya sekadar alat untuk menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Mengapa? Aristoteles pernah bilang bahwa segenggam kekuasaan lebih baik dari sekeranjang kebaikan. Karena dengan kekuasaan (kewenangan) seseorang dapat menghasilkan berkeranjang-keranjang kebaikan.

Jadi,hakekat politik itu adalah baik. Tapi ia akan menjadi buruk bila berada di tangan orang yang buruk, orang yang rakus, orang yang dzalim dan para pendusta kebenaran.

Bagaimana caranya untuk memperbaiki politik dari segala rupa keburukan? Ya, saatnya orang baik maju dan bernyali tampil kepermukaan politik. Jangan biarkan orang buruk leluasa di atas panggung kekuasaan kita. Makin banyak orang baik diam, maka makin buruk situasi politik dunia.

Manusia itu makhluk "pelupa"...kadang kita terkijau dengan orang buruk yang tampil seolah-olah baik...dan konyolnya kita juga ikut menyerukannya sebagai sebuah "kebenaran" yang tidak baik.

Pikirkanlah baik-baik, apa benar ada orang baik yang "diam".Bila ia baik, tentu ia akan bicara kebenaran-kebenaran tanpa takut dengan berbagai ancaman dan risiko lainnya.

Apakah di atas dunia ini sudah banyak orang baik yang putus asa menyaksikan keadaan yang kian leluasa meruntuhkan segala akhlak insan?

Tapi saya tetap yakin, dunia akan belum kiamat selagi orang baik masih ada menyeru kebenaran.

Kiamat besar adalah puncak dari segala kesalahan di atas dunia, karena ketika kiamat terjadi, kebenaran sudah dicabut di atas muka bumi!