Bila Tendensius Dan Budaya Pembunuhan Karakter Marak

Catatan Pinto Janir

Kecelakaan yang paling kejam itu adalah tendensius. Ketika kebenaran dan kepentingan beramuk-tamuk, kita cenderung mencampakkan tenggang rasa ke jurang duri paling mencucuk. Jangan tanya, kemana atau di mana hati nurani pergi dan berada. Ketika pikiran tak melibatkan hati, mulut tajam menyerang membabi buta. Tak peduli siapa yang luka atau terluka. Kaki menerjang sembarang sepak, tak peduli siapa yang tertilantang.Tangan menyikut sembarang masuk, tak peduli siapa yang terdengat. Yang penting; cacar saja dulu!

Tendensius. Gamang benar saya melafaskan kalimat ini. Menyaksikan pentas tendensius mejadi kebiasaan, lama-lama menjadi budaya, maka pada saat itulah pisau ditangan masing-masing saling tikam.Berdarah-darah.

Sikap tendensius---sikap berpihak dan gemar menyusahkan orang lain yang dianggap lawan-- biasanya dipicu oleh spirit yang kacau menerjemahkan kesetiaan. Ketika mana orang yang kita “setiakan” kita bela habis-habisan, di saat mana kita lemparkan segala kebenaran, kita pungkiri segalanya sekalipun “apa yang kita lakukan, apa yang kita teriakkan sekeras nafas itu belum tentu duduk benar”.

Ujung dari pelaksanaan tendensius adalah pembunuhan karakter. Gampang saja menentukan mana keberpihakan yang bijak dan mana keberpihakan yang dungu. Lihat saja gelagat seorang tendensius akan berupaya saling melakukan peusakan reputasi. Terkadang seperti main kerat kayu, lapirkan, hantamkan dan tatilantangkan. Dan jangan pernah berhenti sebelum peluru masuk dan merebahkan.
Pembunuhan karakter

Saat itu, ketika kita berada di ruang pikiran dan perbuatan tendensius saat itu adrenalin jahat akan selalu mencari-cari cara yang meliputi pernyataan melebih-lebihkan, dan bila perlu manipulasi fakta, pelintir fakta dan data sesuai maksud untuk menghimpun opini guna memberikan citra yang tidak benar tentang orang yang dituju.

Salah satu senjata tendensius adalah membunuh karakter.Membunuh kepercayaan massa pada orang yang dituju. Bila pembunuhan karakter menjadi budaya, pada saat itulah kita ditunjukkan pada alamat yang gaduh. Sikap tendensius terkadang adalah cerminan dari pecinta kekacauan, bukan kedamaian; apalagi kebenaran.

Apakah dengan menyerang orang lain dengan tendensius kita ingin dianggap hebat dan berani serta bernyali teruji? Seorang pion yang paling dungu saja akan berpikir dua kali melakukan sikap bodoh.

Orang hebat sejati menjadi hebat karena "pengakuan" massa yang bersepakat, bukan memaksa massa untuk sepakat mengakuinya. Pengakuan hebat yang dipaksakan adalah apa yang kita sebut dengan "opok" dan "tongek" massa. Orang hebat, mana mau ditongek-tongek atau diopok-opok, karena ia bergerak dengan hati, pikiran dan akal !

Orang hebat yang bijaksana jauh dari sesuatu yang bertendensius... Istilah tendensius ini sering digunakan pada peristiwa saat massa atau media massa melakukan pengadilan massa atau pengadilan media massa, di mana seseorang diberitakan telah melakukan kejahatan atau pelanggaran norma sosial tanpa melakukan konfirmasi dan bersifat tendensius untuk memojokkan orang itu.

Tidakkah kita bertenggang rasa bahwa pembunuhan karakter dapat mengakibatkan reputasi orang tersebut menjadi rusak di depan publik, terhambat karirnya serta akibat yang lebih besar di mana orang tersebut dipecat dari pekerjaannya, kariernya, dan jabatannya.
Hei…bukankah pengadilan massa dan pengadilan media massa adalah bentuk lain dari kekerasan terhadap orang lain? Serancak ini malam, mengapa kita masih candu dan gemar berlaku tendensius dengan melaksanakan praktik pembunuhan karakter atau upaya mencoreng reputasi untuk menjatuhkan orang lain. Budaya seperti ini, mari kita lenyapkan. Jangan biarkan ia mekar di ranah yang indah ini.

Orang yang gemar menganiaya orang berlebihan, niscaya hidupnya akan selalu “berkekurangan” dan ia sedang bermain-main dengan pinggir jurang kenistaan. Gawat itu. Lihatlah aksi para pembunuh karakter. Ia manipulasi data. Ia ajak-ajak dan ia pengaruh-pengaruhi orang untuk sependapat. Dan dengan berbagai cara dan alasan, ia yakinkan orang lain bahwa apa yang ia suarakan adalah benar dan seolah-olah untuk kebenaran dan kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan dan kebenaran pribadi atau kelompoknya.

Terlalu sering kita menyakiti orang lain, maka satu noda dan virus akan bersusun rapi di hati seperti puzzle. Dan saat itu menyangka sedang membangun taman hati, padahal tidak. Itu adalah neraka yang kita ciptakan sendiri.

Betapa menyedihkannya dan mengharukannya ketika kita terjebak pada sesuatu kerja yang kita anggap bagian dari kesetiaan sekalipun dengan cara mengkhianati hati nurani sendiri. Seorang tendensius adalah seorang penyimpan dan pemelihara dendam yang baik. Jangan heran bila ia tak akan segan-segan membuka bahkan membeberkan hal-hal negatif terkait pihak yang menjadi sasaran. Akibatnya, reputasi seseorang menjadi rusak, karir terhambat, dipecat dari jabatan, sampai dikucilkan di tengah-tengah masyarakat.

Dan saat itu, seorang tendensius tersenyum dalam seringai yang ia sangka serunai.

Menyerang harga diri orang lain yang belum tentu bersalah bukanlah sebuah perbuatan baik. Perbuatan menyerang harga diri orang itu akan selalu mengikutsertakan “kawan-kawan” seperti kidzib (dusta), ghibah (gossip), maminah (memfitnah) dan atau membuka aib atau rahasia orang lain dalam selera dan nafsu yang buruk.

Mengapa kita harus tendensius? Apabila kita saling adu kepala, mengadu tangan, mengadu kaki, atau saling ludah dengan sikap tendensius maka itu bukanlah sikap kesatria, walaupun kita merasa seperti seorang kesatria tangguh.

Mengapa kita harus tendensius? Kalau akan terpaksa juga membela seseorang, kita tak harus melukai orang lain. Banyak cara membela di jalan yang bijaksana. Tapi sebagus-bagus membela itu adalah membela dengan menyingkirkan kepentingan pribadi dan kepentingan segelintir kelompok, karena sesuatu itu memang layak untuk dibela. Membelalah, tapi ingat juga azas perlu, pantas dan patut serta sesuai dalam alur, bukan alur yang kita alur-alurkan.

Yang paling mulia adalah membela orang teraniaya.Membela orang terdzalimi, baik akibat orang maupun akibat kekuasaan penuh dusta dan dzalim.

Dan tak perlu berharap ketika kita membela dibayarnya dengan apa? Dan tak pula membela tak berketentuan, yakni bela-bela asal ojok.

Yang jelas, tiap hari, hindari dan usahakan jangan sakiti hati orang lain. Sedangkan tak menyakiti hati orang lain saja, masih ada juga orang yang sakit melihat kita; sakit melihat orang tanpa alasan, adalah tendensius tersembunyi dalam selubung iri dan dengki…

Bila tendensius dan pembunuhan karakter membudaya, niscaya kita akan menjadi orang paling gelisah yang tak akan pernah menikmati betapa indah dan nyamannya damai.Damai itu nikmat, senikmat segelas kopi hangat dan sebatang rokok.Kemangkusannya; urusan dunia selesai dibuatnya… dan betapa sederhananya hidup ini; Tuhan bertanya, kita menjawabnya!

Ah, apa juga lagi; belajarlah berdamai dengan diri sendiri, baru kau akan mampu berdamai dengan orang lain…

Untuk itu, jangan gampang tergoda dunia.*