Tangga Beton Kolonial di Salido Ketek, Satu Potensi Daya Tarik Wisata Kab Pesisir Selatan

Ada tangga beton buatan kolonial yang kokoh di Nagari Tambang Salido Ketek (kecil), Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar. Tangga beton peninggalan kolonial Belanda itu tak terpisahkan dari pembangkit listrik mikrohido yang juga dibangun Belanda ratusan tahun lalu. Artinya, Salido ketek (kecil) di zaman Belanda sudah memiliki pembangkit listrik dan bisa dibayangkan terang benderangnya Salido Ketek pada waktu itu. Kini pembangkit tenaga listrik itu masih ada di Salido Ketek dan dengan segala nilai sejarah dan riwayatnya, sehingga tidak tertutup kemungkinan dikembangkan sebagai objek wisata yang terintegrasi dengan kawasan Madeh yang pupuler itu.

Pusat pembangkit listrik Salido Ketek pada masa dahulunya digunakan terkait eksploitasi tambang emas Gunung Harun, tetapi tambang ini merugi dan ditutup. Kemudian pembangkit listrik Mikrohidro di Salido Ketek itu dimanfaatkan untuk pabrik Semen Padang (Semen Indarung) dengan membangun jaringan sepanjang 42 km dari Salido Kecil ke Padang. 

Kejadian alam sempat menggangu keberadaan pembangkit listrik Salido ketek ini seperti ketika sungai Salido Kecil meluap di tahun 1959, sehingga merusak tiang penjangga pipanya. Kini, setelah ratusan tahun berlalu pembangkit listrik mikrohidro Salido Ketek masih ada bekasnya dan beberapa bangunan penunjangnya.

Tangga Beton Kolonial salido ketek
Tangga Beton Kolonial di Salido Ketek, Kab Pesisir Selatan
Meskipun tambang emas di Salido Ketek sudah lama ditinggalkan, tetapi sekarang masih di manfaatkan yang bersifat usaha skala kecil oleh masyarkat di Kampung Bungo Pasang dengan cara mengelondong bongkahan pasir emas. Sebagai kawasan tambang pada masa dulunya, di Nagari Bungo Pasang Salido, banyak bekas mesin pembangkit yang berserakan disekitar Pusat Mikrohidro. Bekas pembangkit listrik ini sebenarnya perlu diselamatkan dan dibangunan sebuah "Museum Pesisir Selatan" untuk menyimpan barang-barang bekas mesin pembangkit era kolonial tersebut. 

Meskipun sekarang, pembangkit listrik mikrohidro Salido Ketek yang dibangun Belanda itu tinggal nama dan sudah dilakukan rehabilitasi dengan pembangkit listrik yang baru, tetapi bekas-bekas pembangkit listrik buatan Belanda masih ada di Salido Ketek. Apa lagi sumber air yang dijadikan energi pembangkit listrik mikrohidro di Salido Ketek itu terletak di pucak Bukit dengan panoramanya yang indah.

Pembangunan museum pembangkit listrik dan tambang emas di Salido ketek itu tentu selain mengingatkan generasi sekarang pada sejarah, sekaligus dapat menjadi bagian dari pengembangan kawasan wisata yang menarik dan menantang. Di katakan menantang pada area pusat pembangkit listrik mikrohida peninggalan belanda itu ada tangga beton peninggalan belanda yang berjumlah 135 anak tangga ke atas perbukitan tempat sumber air yang dulunya dijadikan energi untuk pembangkit lisrik mikorhidro Salido Ketek..

Pada puncak bukit sumber energi bagi pembangkit listrik Salido Ketek itu terhampar pesona alam yang mengagumkan. Pesona panorama perkampungan tradisonal yang dikelilingi oleh hutan yang asri, sungai air yang masih alami, pusat buah-buahan terutama bila musim durian, merupakan aset area bekas pembangkit listrik mikrohidro buatan Belanda sebagai daya tarik wisata, disamping tanggal 135 tingkat yang masih kokoh menuju puncak bukit.

Apalagi lokasi pembangkit listrik di Salido Ketek itu juga tidak terpisahkan dari jalur sejarah (history line) kawasan ini dengan Kapal Boeloengan yang tenggelam di Teluk Mendeh dan lokasi tambang Emas San-Laida. Karena itu  dengan membangunan museum sejarah di kawasan pembangkit listik peninggalan Belanda yang representatif di Salido Ketek, akan menjadikan Salido Ketek sebagai kawasan wisata yang terintegrasi dengan kawasan wisata mandeh atau setidaknya menjadi pendukung bagi pengembangan pesonan dan daya tarik Kawasan wisata Mandeh salah iconya Pariwisata Sumatera Barat, (Oleh.Harfiandri Damanhuri - dh-1,  28. Juli 2016)

Artikel Terkait