Milan: lebih dari sekedar sepakbola

Catatan Dr.Suryadi,MA dari Milan

Kami mengucapkan selamat tinggal kepada resepsionis Hotel Hermitage, tempat kami menghinap selama di Genova, sebelum bertolak ke Milan dengan kereta api paling awal. Hari masih pagi, ketika taksi yang kami pesan lewat resepsionis hotel datang tiga menit kemudian. Taksi pun muncul dan kami segera meluncur ke Stasiun Genova Piazza Principe. Sepanjang perjalanan ke stasiun kami melihat kota masih lengang, padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.

Perjalanan ke Milan ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Kota ini menjadi tempat persinggahan kami yang terakhir sebelum kembali ke Belanda. Ketika datang ke Italia minggu lalu, pesawat EasyJet yang kami tumpangi pun mendarat di Milan. Dari kota ini lalu kami naik bus ke Genova. Kami telah mengunjungi Milan dua tahun lalu dalam tour kami ke arah timur dan selatan: Venesia, Bologna. Florence, Pisa dan Roma. Kali ini kami memilih sisi Italia yang sebelahnya. Oleh karena itu kami segera ke Genova setelah mendarat di Milan pada tgl. 26 Juli pagi.
Bangunan bersejarah di Milan Italia
Milan Kathedral di Piazza Duomo (Foto.dok:Suryadi)
Pesawat kami akan terbang ke Amsterdam pada jam 20:40. Sekitar jam 11:00 kereta api kami sudah sampai di Milan. Perjalanan terasa singkat karena di bilik kami di gerbong nomor 6 bergabung seorang gadis dan seorang lelaki setengah baya, keduanya orang Italia. Kami saling bercerita tentang banyak hal. Oleh karena itu kami punya waktu cukup panjang untuk menikmati kembali kota ini lagi, seperti dua tahun lalu.

Bus sightseeing di kota Milan menyediakan tiga rute yang boleh digunakan oleh sesiapa saja yang sudah membeli tiket seharga 20 euro. Salah satu rute menyediakan persinggahan ke Stadion San Siro, markas tim sepakbola AC Milan yang terkenal itu. Tiga orang pemuda Indonesia yang kami jumpai memilih rute itu, satu indikasi betapa gilanya orang Indonesia terhadap sepakbola.

Milan atau Milano adalah kota bisnis terbesar di Italia bagian utara. Oleh sebab itu kota ini kelihatan lebih sibuk daripada kota-kota lainnya di wilayah yang berbatasan dengan negara Swiss ini. Dari segi budaya dan sejarah, Milan mungkin kalah menarik dari kota-kota Italia lainnya. Namun demikian, tetap ada banyak hal yang dapat dinikmati oleh para pelancong di Milan.
Bus Pariwisata di Milan Italian
Bus Pariwisata di Milan, Italia (Foto.dok:Suryadi)
Bandar udara Milan Malpensa, salah satu dari dua lapangan terbang di Milan, adalah salah satu home-base penerbangan murah Eropa yang terkenal: EasyJet. Memilih terbang ke Milan biasanya orang bisa mendapatkan tiket dengan harga yang lebih murah. Dari Milan orang bisa melanjutkan penerbangan atau naik bus atau kereta api ke banyak destinasi lain. Itulah yang kami lakukan: kami terbang dari Amsterdam ke Milan terlebih dahulu, baru kemudian naik bus ke Genova. Bila terbang langsung dari Amsterdam ke Genova, harga tiket jauh lebih mahal.

Sebuah blok apartemen mewah di kota Milan. (Foto.dok:Suryadi)
Selama kurang lebih tujuh jam di Milan, kami keliling kota dan menyinggahi titik-titik wisata penting yang disarankan oleh leaflet wisata kota Milan. Bulan Juli dan Agustus adalah bulan libur musim panas di Eropa. Milan, sebagaimana banyak kota lainnya di Italia, dan Eropa pada umumnya, dibanjiri oleh para pelancong. Banyak juga kami temui pelancong dari Jepang, Cina, dan Korea.

Para pelancong kebanyakan berhenti dulu di Piazza Duomo tempat Milan Duomo atau Kathedral Milan dengan arsitekturnya yang berdekorasi impresif itu berada. Dari sana baru kemudian banyak wisatawan melanjutkan kunjungan mereka ke titik-titik lain, seperti Castello, Giribaldi, Republica, Porta Venezia, dan lain-lain.

Di Piazza Duomo mulai terlihat sisi lain dari Italia: para imigran dari Afrika yang berjualan suvenir, peminta-minta dan gelandangan. Italia, karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Laut Tengah, telah menjadi destinasi bagi banyak pengungsi dari Afrika dan Timur Tengah yang tak juga henti dari konflik politik. Jutaan orang sudah melarikan diri dari wilayah ini ke Eropa untuk menyelamatkan nyawa mereka. Kini, di kota-kota Italia begitu mudah terlihat banyak pengungsi dari Afrika dan Timur Tengah. Mereka umumnya berjualan cindera mata, barang kaki lima, dan banyak juga yang tidur-tiduran di taman-taman. Di laman luas Piazza Duomo mereka bahkan menjual bulir jagung kepada para pelancong untuk makanan burung dara. 

Dari Asia, kebanyakan imigran yang datang ke Italia berasal dari Bangladesh dan Filipina. Tapi orang Filipina mendapat pekerjaan yang lebih baik di toko-toko, hotel-hotel, dan restoran. Para imigran di Italia mendapat perlakukan yang cukup baik. Ini berkat himbauan Paus di Vatikan yang menyatakan bahwa mereka, karena alasan kemanusiaan, harus dilindungi dan diperlakukan dengan baik. Ketika kami kembali dari Monaco dua hari sebelumnya, seorang imigran kedapatan tidak membeli tiket di kereta api yang kami tumpangi. Kondrektur kereta hanya menyuruhnya turun saja di stasiun berikutnya. Kalau di Belanda, orang yang kedapatan tidak memiliki tiket pasti sudah kena denda atau dilaporkan ke polisi.
Arco della Pace di sebelah Piazza Sampione, Milan.(Foto.dok:Suryadi)
Sekitar pukul 18:00 kami meninggalkan kota Milan. Kami naik bus ke Bandara Milan Malpensa yang memakan waktu sekitar satu jam. Bus berangkat dari sebelah stasiun kereta api pusat, dan sebelum berangkat kami masih sempat membeli sebuah kaos FC AC Milan seharga 120 euro. Sepakbola benar-benar sudah menjadi jualan wisata di sini. Banyaknya penerbangan malam EasyJet dari Bandara Milan Malpensa ke berbagai destinasi lain di Eropa membuat antrian check in cukup panjang. Tapi kami tidak terlambat dan dapat sampai di ruang tunggu D10 sekitar 15 menit sebelum boarding.

Para turis di atas bus pariwisata kota Milan (Foto.dok:Suryadi)
Pesawat kami terbang tepat sesuai jadwal. Sesaat setelah lepas landas, dua anak kami berkata: ‘Liburan selalu terasa singkat’. Akan tetapi kami juga sudah rindu pada rumah sendiri, pada rendang dan gulai sampadeh ikan mackerel. Pada akhirnya memang tiada yang lebih indah daripada rumah sendiri, walaupun itu mungkin hanya sebuah rumah sederhana.

Penerbangan Milan Malpensa – Schiphol Amsterdam memakan waktu 1,5 jam lebih sedikit. Sebelum pesawat kami mendarat, pramugari Easy Jet menjalankan kantong UNICEF kepada para penumpang yang hasilnya digunakan untuk membantu membiayai pengobatan anak-anak yang terkena polio di negara-negara berkembang. Melihat hal itu, saya berpikir mengapa penerbangan-penerbangan murah di Asia Tenggara tidak melakukan hal yang sama? Misalnya, dalam setiap penerbangan mereka, pramugarinya mengedarkan kantong amal untuk membantu biaya sekolah anak-anak dari keluarga miskin atau mungkin juga untuk bantuan kemanusiaan lainnya. Jika dalam satu penerbangan dapat dikumpulkan sekian belas atau puluh ribu ringgit atau rupiah saja, tentu lama kelamaan jumlahnya akan menjadi besar.

Lamunan saya pecah berderai oleh pengumuman pramugari bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat. Akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Schiphol. Para penumpang bertepuk tangan dan kami keluar dari pesawat dengan turun tangga, tidak melalui belalai gajah. Suhu sekitar 19 derajat Celcius, 10 derajat lebih rendah dari suhu di Genova. Kami telah kembali ke ‘alam nyata’. Kiranya tak salah jika nenek moyang kami di zaman kolonial menyebut Belanda dengan nama ‘Tanah Dingin’.