Potensi Perairan Pulau Natuna Sebagai Situs Taman Arkeologi Maritim

Catatan Harfiandri Damanhuri

Sore itu kami baru saja menyelesaikan Seminar hasil kajian tim Balitbang KP KKP yang juga dibantu tim UBH Padang tentang Potensi Perairan Pulau Natuna sebagai salah satu Situs Taman Arkeologi Maritim yang berpotensi besar untuk dikembangkan dengan mengkombinasikan aspek keberadaan situs kapal tenggelam, aspek biodiversitas kelautan, aspek geologi, aspek geofisik, aspek oceanografi dan kualitas perairan, aspek planologi, aspek sejarah terhadap keberadaan posisi situs yang sangat strategis. 

Seminar ini digagas oleh Dapartemen Arkeologi FIB Universitas Indonesia dengan 2 nara sumber utama Dr. Heryanti Ongkodarma (UI) dan Rainer Arief Troa ST.M.Si dkk (Litbang KP). Seminar ini bertempat di gedung X FIB UI. Dari seminar ini ternyata negara kita Indonesia kurang menonjolkan bukti sejarah jalur pelayaran dan perdagangan yang terkait lalu lintas rempah, salah satunya adalah lada. 
kepulauan natuna
Alif Stone Satu Objek wisata di Pulau Natuna (foto:harfiandri Damanhuri)
Kedatangan bangsa asing dari daratan Cina dan Eropa ke Nusantara-Indonesia tidak lain adalah karena potensi rempah (spece maritime route) bukan karena potensi kain sutera (silk maritime route). Mereka datang dari segala arah dengan tidak meninggalkan masuk pintu tengah Nusantara selalu singgah terlebih dahulu ke gugusan pulau-pulau Natuna sebagai lokasi transit untuk keperluan mengambil air bersih dan memenuhi kebutuhan logistik untuk dapat melanjutkan pelayaran. Setelah itu baru mereka masuk ke wilayah pemerintahan nusantara ke Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Jambi, Kerajaan Riau-Johor, terus ke arah Kesultanan Banten, Demak sampai ke pesisir Cilacap melalui jalur maritim Laut Jawa. 

Dalam seminar setengah hari tersebut pertanyaan dan diskusi dengan peserta seminar yang terdiri dari para dosen, mahasiswa arkeologi, tamu undangan lainnya, ternyata kita harus "fokus" untuk membuat semua dokumen dan catatan dengan detil, akurat dan tertulis. Tidak hanya mengandalkan bukti sejarah secara oral yang disampaikan secara turun-temurun tentang keberadaan semua potensi kelautan yang sudah jadi situs arkeologi maritim tersebut. 

Tentu hasil yang baik dan bertanggungjawab dapat dilakukan melalui sebuah kegiatan riset berkelanjutan, pembelajaran, diskusi di berbagai forum dan penelitian terkait tentang luas dan batas wilayah kita, serta bukti-bukti sejarah yang masih banyak belum tergali dan terdatakan secara konprehensif yang perlu kita ungkapkan, terutama tentang beberapa pelabuhan tua, situs kapal tua yang tenggelam yang berumur ratusan tahun yang sudah menyatu dan berasosiasi dengan ekosistem terumbu karang, dengan komunitas biota diantaranya ikan napoleon, ikan kerapu merah, sponge, penyu, kima, teripang. Dimana hampir semua biota tersebut bermain dan tinggal di lokasi situs bawah air tersebut berada dan berdiam dibawah laut kita. 

Cukup banyak pertanyaan yang dikemukakan dàlam diskusi tersebut, walaupun belum terjawab semuanya dengan tuntas pada waktu itu. Kita berharap semoga melalui forum diskusi ini, gagasan dan konsep tentang Taman Eko Arkeologi Maritim di Pulau Laut, Kepulauan Natuna, Riau akan menjadi salah satu Taman Arkeologi Maritim Bawah Laut Pertama di Indonesia. Keberadaan taman ini dalam upaya menyelamatkan situs arkeologi, sejarah jalur perdagangan rempah-rempah, keindahan dan panorama ekosistem terumbu karang dan biota-biota asosiasi yang hidup di dalamnya. Konsep ini juga menyiapkan bagaimana mengembangkan gugus pulau terdepan menjadi salah satu lokasi wisata bahari minat khusus, sekaligus menyelamatkan pulau kecil dengan potensi besar dan sejarahnya yang berbatasan dengan beberapa negara di Laut Cina Selatan (LCS) serta juga dampak yang akan timbul dalam upaya meningkatkan sumber ekonomi baru bagi masyarakat sekitar kawasan Taman Arkeologi Maritim tersebut, dari pada mereka hanya menangkap ikan dengan menggunakan teknologi dan armada yang masih sederhana dan kalah bersaing dengan armada dari nelayan Cina, Thailand, Vietnam dan Malaysia sampai saat ini. 

Apa benang merah dari seminar ini adalah perlunya keterpaduan ilmu perikanan dan kelautan, arkeologi maritim, planologi, toponomi, sejarah perdagangan pelayaran, sejarah yang luas dari kebesaran, kekuasaan pemerintahan era kerajaan dan kesultanan di nusantara. Potensi kekayaan sumberdaya rempah lada, cengkeh, kapur barus, kopi, kulit manis, teh, kayu jati, dan peralatan rumah tangga dari bahan tembikar dapat menjadi inspirasi dan kebanggaan buat bangsa dan generasi muda dalam mendukung Poros Maritim Dunia secara saintifik. 

Dalam jalur dan rute pelayaran maritim terkait dengan rempah Indonesia adalah satu pusat dari pusaran alur lalu lintas di belahan asia dan bahkan salah satu jalur maritim terbesar di lautan dunia sebagai jalur tersibuk sejak era abad ke VII dan VIII. Sampai saat ini baru terdatanya titik-titik kapal tenggelam yang sudah jadi situs di lautan Indonesia lk 700 spot, bahkan dari hitungan masyarakat nelayan lokal saja spot ini dapat mencapai angka 3.000 kapal yang pernah tenggelam di laut Indonesia. Kondisi ini adalah satu kebanggaan dan kejayaan maritim yang tidak boleh ditinggalkan dan dibiarkan oleh bangsanya sendiri. Indonesia...Salam Konservasi (hd.slemba.4.11.16)