Jika ada yang menyebut kawasan pembibitan ternak sapi Padang Mengatas sebagai New Zealandnya Indonesia tentulah tidak berlebihan. Tidak saja nuasa pertenakan besar seperti di luar negeri  yang dirasakan, tetapi pesona alam dikawasan peternakan Padang Mengatas itu sungguh luar biasa. Artinya paduan nuansa peternakan, wisata dan anugrah alam terangkul sekaligus dikawasan pertenakan yang dikelola BPTUHPT Padang Mengatas yang terletak di Nagari Mungo, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Pada 2 Januari awal tahun 2017 saya berkesempatan mengunjungi kawasan perternakan Padang Mengatas yang terletak tidak jauh dari Kota Payakumbuh, Sumbar atau lk 3 km dari objek wisata Batang Tabik. Saat memasuki gerbang kawasan pertenakan Padang Mengatas, suasana tenang, udara sejuk dan dan hijaunya dedaunan amat menentramkan hati.

Peternakan sapi Padang Mengatas (Foto:Boy Yendra Tamin)

Meskipun kawasan peternakan ini bukan dibangun sebagai objek wisata, tetapi lokasi dan lingkungan peternakan ini secara tidak langsung ini terbentuk sebagai destinasi wisata dengan daya tariknya yang khas. Beberapa waktu lalu kawasan peternakan menjadi tertutup untuk umum terutama pasca adanya sampah yang berserakan yang mengotori lingkungan peternakan ini sewaktu masih terbuka untuk umum. Kini, untuk sementara, untuk berkunjung ke kawasan pertenakan ini di batasi hanya untuk dinas dan insansi dan itu dengan mengajukan perdaftaran secara online terlebih dahulu.

terlepas dari soal akses untuk bisa berkunjung itu, Pesona kawasan peternakan Padang Mengatas  tidak diragukan akan mengundang decak kagum.  Areal peternakan Padang Mengatas lk 280 Ha, yang terdiri dari 268 Ha kebun rumput dan pasture, 12 Ha untuk kandang, kantor, perumahan dan jalan lingkungan dengan status tanah merupakan milik negara dengan bukti Erpacht Vervonding No.202 & 207. Areal peternakan ratusan hektar itu  bertopografi bergelombang dan berbukit landai dengan ketinggian 700 –900 m dari permukaan laut. Tentulah dapat dibayangkan eloknya likisan alam di tempat ini yang beriklim tropis dan temperatur mencapai 18º–28 ºC ( 23 ºC), kelembaban 70% serta curah hujan 1800 mm/tahun
Jalan yang asri di kawasan peternakan Padang Mengatas (Foto:Boy Yendra Tamin)

Setelah mendapat dan izin dan mengisi buku tamu, dari dari post keamanan di gerbang kawasan pertenakan itu, perjalanan dimulai dengan jalan yang bagus dan tertata dengan apik, perjalanan terasa menyenangkan yang dikiri kanannya sudah terlihat rermputan hijau. Tidak berapa lama kemudian saya sampai dikomplek perkantoran Pertenanan Padang Mengatas yang juga terta dengan apik. Di sekitar komplek perkantoran itu pengujung pun sudan bisa melihah sejumlah sapi di beberapa kandang yang ada disana.

Sapi Padang Mengatas (Foto:Boy Yendra Tamin)

Untuk melihat sapi-sapi yang tengah makan di padang rumput yang luas, ada dua jalur jalan yang bisa ditempuh untuk mengitari kawasan peternakan ini. Selain rapi dan lebar, jalan-jalan bagus yang membentang dan membelah padang rumput itu membuat keelokan lokasi kawasan peternakan Padang Mengatas. Dan rasannya tidak cukup kuat kaki melangkah menyusur jalan yang mengitari hamparan padang rumput dimana sapi sapi-sapi dilepas bebas bak sapi-sapi dipertenakan besar di luar negeri sana.

Betapa tidak, pemandangan luar biasa, paduan padang rumput yang membentang luas membuka cakrawala penglihatan sampak jauh ke dijejeran bukit dan perkampungan yang jauh dan disisi lain Gunung Sago berdiri gagah seolah mengawasi kawasan peternakan ini yang menjadi pusat pelatihan dan pengembangan peternakan bagi seluruh peternak di Indonesia.
Hamparan rumput Padang Mengatas (Foto:Boy yendra Tamin)

Dari sejarahnya secara singkat kawasan peternakan Padang Mengatas pertama kali didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda (1916) dan Pada zaman Revolusi Kemerdekaan (1945 –1949) kegiatannya terhenti, Pada tahun 1950 oleh Wakil Presiden Dr. Moh. Hatta dipugar kembali dan tahun 1951 – 1953 dijadikan sebagai Stasiun Peternakan Pemerintah dan di beri nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas dan merupakan stasiun peternakan yang terbesar di Asia Tenggara. Zaman pergolakan PRRI, lokasi ITT Padang Mengatas dijadikan sebagai basis pertahanan PRRI. Tahun 1961 Pemda Sumbar kembalk membenshi tempat ini. Kemudian tahun 1973 –1974 Pemerintah Jerman mengadakan kajian di ITT Padang dan setelah itu dilakukan kerjasama pembangunan kembali ITT Padang Mengatas antara pemerintah RI & Jerman melalui proyek Agriculture Development Project (ADP ) dan tahun Tahun 1978 Proyek ADP menyerahkann kepada Departemen Pertanian dengan nama Balai Pembibitan Ternak – Hijauan Makanan Ternak (BPT – HMT) Padang Mengatas dengan wilayah kerja 3 propinsi (Sumbar, Riau dan Jambi). Lalu sejak tahun 1985 seluruh pembiayaan diambil alih oleh pemerintah pusat dan berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Potong Padang Mengatas dengan wilayah kerja meliputi seluruh propinsi di Indonesia.

Berada di kawasan Pertenakan Padang Mengatas ini ingin rasanya berlama-lama, selain alam hijau yang menyejukan mata, pesona alamnya yang luar biasa yang mungkin sulit ditemukan ditempaf lain Apalagi jika cuaca cerah, menyusuri jalan mendaki sampai ke puncak Peternakan Padang Mangateh mata akan disuguhi lukisan alam yang berbeda dan eksotis, dan tentunya hamparan padang rumput dengan sejumlah kawanan sapi yang sedang merumput tetap menjadi pusat perhatian.

Mengagumkan ! setidaknya itulah kata yang tepat untuk melukiskan kawasan Peternakan Sapi Padang Mengatas ini. Mungkin satu waktu anda punya kesempatan berkunjung kesana. (catatan : Boy Yendra Tamin).