Pariwisata Konservasi, Penyu atau Keduanya

Oleh. Harfiandri Damanhuri

Semenjak pariwisata menjadi program nasional dalam meningkat pendapatan negara sekaligus ekonomi masyarakatnya. Tidak ada cara lain dengan mengajak dan melibatkan masyarakat lokal, dimana daya tarik pariwisata konservasi itu berada.

Tren pariwisata yang terkait dengan konservasi atau lingkungan (eko wisata) tidak lepas dari tersedianya sumberdaya yang banyak dan melimpah di tanah air kita yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik yang diminati oleh turis asing, lokal terutama wisatawan minat khusus.

Khusus dalam kawasan tertentu dengan objek tertentu serta dengan jumlah dan etika pengunjung yang diatur secara tertentu pula, dengan tetap menjaga kaidah peduli dan punya hati dalam menyelamatkan dan memelihara lingkungan serta biota penyu untuk jangka panjang.

Banyak definisi tentang pariwisata konservasi penyu yang mirip dalam beberapa hal diantara ; a) Pariwisata konservasi penyu memerlukan sebuah peruntukan kawasan dan lahan yang luas dengan daya tarik yang spesifik. Sebagai sebuah ikon yang tidak sama dengan objek dan biota di daerah manapun di dunia ini, b) Pariwisata konservasi perlu menetapkan tujuan yang jelas dalam sebuah upaya konservasi dan penyelamatan kawasan pantai/pulau dan penyu. Apalagi kawasan dan biota yang dilindungi tersebut berada dalam ancam yang sulit untuk dipulihkan dan memerlukan biaya besar dalam me-recovery-nya.


Upaya konservasi dan penyelamatan terhadap satu biota penyu, lingkungan habitat dimana ia bertelur dan ketersediaan sumber makanan seperti kawasan ekosistem lamun, makro alga dan terumbu karang yang dijadikan habitat tempat berhenti sementara bagi penyu yang bagus dan baik memerlukan usaha dan upaya yang mencakup ; kebutuhan secara ekonomi, kebutuhan secara sosial, kebutuhan secara estetika dalam rangka menyelamatkan, memelihara dan menjaga integritas budaya, lingkungan dan penyu itu sendiri. Serta keanekaragaman hayati perairan dan harmonisasi dengan lingkungan alam di mana objek daya tarik itu berada serta tidak melupakan keterlibatan masyarakat lokal dalam mengembangkan pariwisata konservasi penyu.

Ini beberapa pendekatan yang umum dilakukan di beberapa negara yang menjadikan kegiatan konservasi (lingkungan-habitat) dan penyu yang dapat mengabungkan kedua objek ini menjadi sebuah sensasi daya tarik yang berbeda dengan yang lainnya. Sehingga kegiatan pariwisata dan konservasi penyu dapat mendatangkan wisatawan asing dalam jumlah yang banyak.

Adanya kawasan yang menjadi lokasi pendaratan dan peneluran penyu serta adanya biota penyu yang lengkap di kawasan perairan kita. Dimana 6 dari 7 jenis penyu yang dunia terdapat di Indonesia dan 4 jenis diantaranya hidup dan berkembang di perairan Sumatera Barat. Penyu selalu setia datang beruaya, bermain dan bertelur di pulau kecil dan pantai yang tersembunyi dan lengang di Pulau Sumatera, terutama di halaman depan tanah dan rumah kita.

Dengan demikian diharapkan, implementasi secara serius dan sungguh-sungguh menerapkan konsep pendekatan antara pariwisata dan penyu yang terbentuk sedemkian rupa. Sehingga dengan menajemen dan pengelolaan yang baik dapat memenuhi kebutuhan induvidual dan lembaga dalam strategi periwisata konservasi yang berkelanjutan di Sumatera Barat, semoga, Salam Konservasi (Catatan ; hasil penelitian & dari berbagai sumber, hd,12.1.17).

Related Posts:

© 2017 Dunia Hukum dan Budaya - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger