Oleh. Harfiandri Damanhuri

Taukah anda Jambak Turtle Camp  ? Kalau objek wisata Pasir Jambak mungkin tak asing bagi anda atau pernah dengan nama tempat wisata itu. Sekitar 1990-an Pasir Jambak di Pasie Nan Tigo terkenal karena bentangan pasir putih pantainya dengan tegakan vegetasi pohon kelapa yang rindang. Berjarak lk 11 km dari Kota Padang sampai di simpang kiri jalan utama setelah Sungai Muara Penjalinan. Dari simpang tersebut ke Pantai Pasir Jambak berjarak lk 6 km. Sedangkan jarak dari Bandara Internasional Minangkabau lk 9 km. Lokasi Objek Wisata Pasir Jambak mudah di akses dengan kendaraan umum, pribadi, maupun sepeda motor.

Di pantai yang berpasir putih kecoklatan. Tepat dihadapan pantainya terdapat sebuah pulau kecil yaitu Pulau Sao dengan luas 4.6 km2, dengan jarak 2 km dari bibir pantai. Kawasan pantai ini menjadi salah satu lokasi favorit pendaratan penyu untuk wilayah Kota Padang sejak dahulunya.
Untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan ini, salah seorang pemuda Pasir Jambak “Pati Hariyose”, 37 yang akrab di panggil Yos @ Yose mengelola usaha wisata pantai dengan mengkombinasikan dengan kegiatan konservasi penyu.



Ia belajar secara otodidak sejak 2012 dengan mencari informasi dan bahan melalui internet. Ia dan kawan-kawannya mencoba mengumpulkan telur-telur penyu yang ditemukan oleh nelayan dan masyarakat disepanjang Pantai Pasir Jambak untuk direlokasi, diinkubasi secara alami dilokasi yang ia dikelola.

Untuk mendapatkan telur penyu, ia harus bersaing dengan para pencari telur yang sudah malang melintang. Baik di pantai maupun di pulau-pulau kecil. Ia berupaya memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar kawasan yang biasa mencari telur penyu untuk tujuan ekonomi ikut bergabung, berpartisipasi dalam upaya menyelamatkan telur penyu agar dapat menetas menjadi tukik.

Hampir satu tahun lamanya Yose mencoba mengumpulkan semua telur penyu. Baik yang ia dapatkan sendiri dipantai maupun yang ia didapatkan melalui masyarakat nelayan dengan cara membeli dengan uang sendiri. Sebanyak 5.000-6.000 butir telur penyu sudah ia tetaskan dan merilis tukik hasil tetasan kembali ke habitatnya.

Melihat kegiatan yang dilakukan secara swadaya oleh Yose, maka 2013 melalui Pak Sumbari, PPL DKP Kota Padang dengan wilayah kerja Kec. Koto Tangah menjadikan Yose sebagai mitra konservasi. Yose diberdayakan dengan memberikan bantuan berupa peralatan dan fasilitas pendukung dan pelatihan konservasi penyu serta pelatihan selam tingkat dasar untuk melaksanakan misi konservasi terhadap penyu yang sudah ia rintis. Lalu dibentuk Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokwasmas) Samudera, Pasir Jambak, Kota Padang dengan menerbitan SK penetapan pada tahun yang sama.

Yose menjalankan misi konservasinya pada lahan milik orang tuanya dengan total luas lahan 3.500 m2. Akan tetapi yang ia manfaatkan untuk kegiatan wisata pantai dan konservasi penyu hanya seluas 750 m2. Ia mengembangkan wisata pantai dengan menambah satu daya tarik baru dengan menghadirkan tukik-tukik penyu di lokasinya yang pada awalnya hanya menggunakan kolam plastik.


Dari kegiatan yang dilakukan dan hasil monitoring PPL dan diskusi Yose-pun mendapatkan bantuan dari DKP Kota Padang berupa bangunan semi permanen tanpa dinding untuk melindungi tukik penyu, bak feberglass, box streaform dan satu unit sumur bor.

Dalam proses persiapan sarana prasarana bantuan DKP Kota Padang, serta diskusi dengan Riska Eka Putri (Kasi Pengelolaan Pesisir dan PPK), juga melalui FKKP, maka tim peneliti dari FPIK Universitas Bung Hatta menerjunkan mahasiswanya Rezza Iswandi untuk melakukan penelitian.
Penelitian tentang Konservasi Penyu Berbasis Masyarakat Pasir Jambak 2015 menyimpulkan, bahwa dalam mengelola kawasan wisata dan konservasi penyu dimana aspek manajemen (perlindungan, pengelolaan, pengembangan, dan pendanaan) mendapati Tingkat Capaian (TC) berkisar ; 81-83 %, aspek eksploitasi (pengambilan telur, perdagangan telur dan konsumsi terhadap telur) dengan TC ; 58-78 %, aspek partisipasi (masyarakat nelayan-non nelayan, RT, RW, Lurah, dinas) dengan TC ; 84-87 %.

Selain mengelola kawasan pantai dengan 10 pondok (saung) yang disewakan, dimana satu pondok dengan tikar plastik Rp.10.000/paket, dengan tetap menjaga norma agama, adat dan budaya. Diharapkan tamu-tamu yang berkunjungan ke lokasinya akan memesan makanan, minuman dan kelapa muda.

Dengan ikon penyu sebagai daya tarik baru, pengunjung diharapkan ikut berpartisipasi untuk konservasi penyu dengan tagline “our profit for sea turtle conservacy” dengan cara membeli baju kaus bergambar penyu dengan harga rata-rata Rp.50.000, sal gambar penyu Rp.60.000, topi, kaca mata, gantungan kunci, bola plastik sebagai souvenir yang dapat membantu menyelamatkan penyu.

Yose yang lahir 09 Meret 1979, 5 bersaudara semuanya laki-laki, anak pasangan dari (Alm) Abd. Gani dan Nurjanun yang punya hobby jelajah alam dan travelling, merupakan salah seorang pemuda yang punya kepedulian terhadap konservasi penyu.

Ia tidak bekerja sendirian, ia juga mengajak teman-temannya dan melibatkan keluarganya untuk bekerjasama dengan mendirikan Warung Makan Cemara Pesisir disamping lahanya dengan menu utama “lauk pukek”.

Pada Rabu 22 Februari 2017, bersama Loka TWP Pieh, BPSPL Padang, DKP Prov dan para pegiat dan mitra yang tergabung dalam wadah Forum Koordinasi Pelestarian Penyu (FKKP) Sumatera Barat mencoba memberikan pendampingan, bertukar pikiran dan informasi serta penguatan kapasitas SDM dalam mendukung program konservasi penyu untuk melaksanakan Program Nasional RAN Penyu, KKP-RI di Sumatera Barat, juga mendukung program pengembangan kawasan wisata bahari Sumatera Barat.

Jangan lewatkan destinasi baru di Jambak Turtle Camp. Lebih menarik kombinasi wisata pantai dengan konservasi penyu atau kedua-duanya, salam konservasi (hd-tbg,11022017)

Reaksi:

You Might Also Like:

Hello, how may we help you? Just send us a message now to get assistance.

Facebook Messenger ×