Seorang wakil presiden dalam pemahaman/diharapkan calon presiden (Capres) Jenderal TNI Purn. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono adalah juga seorang pembantu presiden yang menjalankan kebijakan presiden, walaupun wakil presiden pun dipilih langsung oleh pemilih bersama capres. Figur yang memenuhi kriteria adalah Prof. Dr. Boediono MA. Duet capres SBY/cawapres Boedi  dimotokan jadi “SBY Ber-Boedi†sudah dideklarasikan di Bandung Jumat (15/5).
INDONESIA mungkin memang punya sejarah pimpinan nasional (presiden/wakil presiden) berbeda. Katakan, proklamator Soekarno (Bung Karno) dan Mohammad Hatta (Bung Hata), yang kemudian keduanya ditetapkan menjadi presiden/wakil presiden Republik Indonesia (RI)  di masa itu Wakil Presiden Bung Hatta bisa menandatangani maklumat (semacam peraturan pemerintah pengganti undang-undang/Perpu). Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), Soekarto jadi Presiden RIS dan Asaat menjadi Presiden Indonesia. Bung Karno dan Bung Hatta kemudian populer dengan sebutan Dwi Tunggal. Toh kemudian, Dwi Tunggal itu pecah. Bung Hatta memilih memberikan kesempatan kepada Bung Karno untuk terus menjadi pimpinan nasional. Bung Hatta ritired sebagai wakil presiden.
Di masa rezim Orde Baru, Brigjen TNI Soeharto menjadi pejabat Presiden RI setelah jadi Pangkopkamtib  presiden tetap Bung Karno. Pemilu pertama di masa Orde Baru diselenggarakan tahun 1971. Lalu, Soeharto ditetapkan Majelis Pemusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) hasil pemilu 1971 menjadi presiden dalam sidang umum (SU) MPR-RI 1972. Soeharto memilih Sultan Hamengkubuwono (HB) IX jadi wakil presiden. Pada pemilu 1977, Soeharto kembali berpasangan dengan Sultan HB IX. Selama dua periode pemerintah, nyaris tidak ada gonjang-ganjing antara Soeharto dan Sultan HB IX.
MPR-RI hasil pemilu 1982, kembali memilih Soeharto jadi presiden. Soeharto memilih mantan Menteri Luar Negeri Adam Malik jadi wakilnya. Hanya satu periode. Selama berduet memerintah, nyaris tidak ada gonjang-ganjing antara keduanya. Hanya saja, setelah tidak lagi menjadi wakil presiden, Adam Malik berbicara berbeda. Sedikit banyaknya terkuak, rupa-rupanya terdapat perbedaan pendapat di antara tokoh yang terkenal dengan ungkapannya “semua bisa diatur†itu dengan Soeharto.
Pada SU MPR-RI (hasil pemilu 1987) 1988, Soeharto kembali jadi presiden. Ia memilih Mensesneg/Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golongan Karya (Golkar) Jenderal Soedharmono jadil wakil. Pengajuan Soedharmono jadi wakil kurang diterima baik korp Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)  sekarang Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ketika itu antara Panglima ABRI dijabat Jenderal Lambertus Bennictus (Benny) Moerdani dan Soedharmono diketahui pers sebagai tidak selalu sejalan. Sama dengan Adam Malik, Soedharmono hanya satu periode.
Seterusnya, MPR-RI hasil pemilu 1992, memilih untuk kelima kalinya Soeharto jadi presiden. Presiden Soeharto memilih Panglima ABRI Jenderal Try Soetrisno jadi wakil. Sebelumnya ada gonjang-ganjing, Soeharto mungkin akan memilih Menristek Prof. Baharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Bahkan, Kassospol Jenderal Harsudino Harta menyampaikan pernyataan mengajukan Jenderal Try Sutrisno untuk menjadi wakil presiden. Hal itu membuat Soeharto marah dan Harsudiono Hartas dikabarkan jadi korban. Toh Soeharto memang memilih Try Sutrino jadi wakilnya.
Habibie baru jadi wakil presiden dalam sidang umum MPR-RI tahun 1993. MPR-RI hasil pemilu 1997 di bawah pimpinan ketua DPR-RI/MPR-RI Harmoko kembali mendaulat Soeharto untuk jadi presiden pilihan MPR-RI untuk keenam kalinya. Padamulanya, Pak Harto  begitu rakyat Indonesia menyebut dirinya  ogah. Tapi, akhirnya ia bersedia. Presiden Soeharto memilih Prof. Habibie jadi wakil presiden. Sebagaimana kita tahu, 21 Mei 1998  belum tiga bulan jadi presiden, Soeharto declare to risign (secara sepihak menyatakan berhenti) dari jabatan presiden seteah kekuatan Reformasi dengan motor penggerak mahasiswa Indonesia, dan Wakil Presiden BJ. Habibie dilantik jadi presiden.
1 2 selanjutnya »