Skip to main content
Dunia Hukum

follow us

Makan Bajamba; Sebuah Nilai Mawas Diri dan Pengawasan Sejak Dini Terhadap Prilaku Koruptif

Oleh: TRISITO FESTYANO

Bagi masyarakat yang lahir dan tumbuh di tengah-tengah kearifan lokal budaya minangkabau tentunya tidak asing dengan terminologi “makan bajamba”. Tradisi makan bajamba sering ditemui pada penyelenggaraan acara seremonial adat minangkabau, utamanya pada pesta adat yang melibatkan kurang lebih tujuh orang atau bahkan bisa lebih banyak. Makan bajamba hal yang sederhana, namun sangat sulit dilakukan bagi seorang yang baru mengenal tradisi makan bajamba tersebut karena membutuhkan pemahaman terhadap adab makan bersama yang berlaku serta kepiawaian personal dalam melakukannya di hadapan peserta lainnya.

Tradisi makan bajamba masih sering dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dalam hampir di berbagai prosesi adat.  Tradisi ini dianggap memiliki nilai filosofis yang dalam pada setiap gerakan dan tata caranya. Nilai filosofis yang paling sering diungkapkan oleh masyarakat Minangkabau diantaranya adalah menyatukan keberagaman, kebersamaan, serta adab makan yang baik dan benar. Berangkat dari beberapa nilai filosofis tersebut, apakah nilai filosofis yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Minangkabau hanya menjelaskan 3 (tiga) nilai itu saja atau masih ada nilai ke-empat? Sepertinya ada hal yang sering dilupakan oleh masyarakat Minangkabau di zaman berkemajuan saat ini terutama bagi generasi millenial Minangkabau.

Jika di analisis lebih dalam, pada pelaksanaan tradisi makan bajamba juga terdapat nilai pengawasan diri sejak dini  terhadap perilaku koruptif yang secara tidak sadar telah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Bagaimana mungkin tradisi makan bajamba menjadi sebuah edukasi terhadap masyarakat terkait perilaku koruptif? Tradisi makan bajamba mengajarkan setiap masyarakat bahwa di dalam kebersamaan, setiap individu saling mengawasi terhadap perilaku makan yang rakus. Perilaku tersebut kemudian dapat dianalogikan sebagai perilaku koruptif yang paling sederhana di dalam kehidupan manusia sebagai sebuah subjek yang melekatkan dirinya norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat.

Perilaku makan yang rakus ini sangat tidak elok untuk ditampilkan oleh setiap individu yang terlibat dalam kelompok makan bajamba karena dianggap mencari keuntungan bagi diri sendiri tanpa, mempertimbangkan dampak terhadap keberlangsungan acara makan bajamba yang juga dirasakan oleh individu lainnya. Individu seyogianya dapat mengatur pola makannnya yang ditakar sesuai kemampuan setiap individu dalam kelompok makan bajamba  untuk menghabiskan hidangan secara bersama-sama dan adil, bukanlah adab makan yang mencari rasa kenyang dengan mementingkan diri sendiri sebanyak-banyaknya.  Seperti inilah norma yang seharusnya berlaku dalam tradisi makan bajamba.

Bagaimana perilaku koruptif dapat dicegah dalam analogi pelaksanaan tradisi makan bajamba? Jika ditelisik lebih dalam atas peran serta masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan makan bajamba, tanpa disadari setiap individu telah melakukan pengawasan terhadap diri sendiri dan saling mengawasi satu sama lain agar tidak berperilaku makan yang rakus sehingga terdapat pencegahan terhadap penyimpangan yang akan terjadi dengan adanya “raso jo pareso” masing-masing individu. Raso jo pareso adalah bentuk sikap mawas diri bagi setiap individu dalam setiap tindakannya bagi pribadi maupun di tengah masyarakat.

Perilaku koruptif dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana dalam kehidupan masyarakat pada komunitas kecil dan pada akhirnya juga dapat berkembang pada komunitas besar seperti kehidupan bernegara. Nilai filosofis yang diajarkan pada tradisi makan bajamba oleh masyarakat Minangkabau pada dasarnya memiliki hal positif untuk turut diimplementasikan pada kehidupan pada setiap individu di Indonesia. Hal tersebut seharusnya yang menjadi semangat negara untuk menciptakan Indonesia yang bebas dari perilaku koruptif melalui upaya pencegahan sejak dini dengan saling bermawas diri satu sama lain. Dengan bermawas diri oleh setiap individu terhadap kecenderungan perilaku koruptif maka kita dalam bernegara seyogiayanya tidak memikirkan lagi bagaimana melakukan penindakan terhadap perilaku koruptif yang terjadi, melainkan sebagai individu di tengah masyarakat telah melakukan pencegahan perilaku koruptif sejak dini dimulai dari diri sendiri.

Upaya pencegahan perilaku koruptif sejak dini melalui mawas diri dan pengawasan diri oleh setiap individu seperti yang terkandung dalam filosofis makan bajamba juga sejalan dengan peran serta masyarakat yang dimanatkan dalam UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Apabila kita benar-benar concern terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia, maka tidaklah salah jika substansi dari konsep perilaku koruptif yang terkandung pada kearifan lokal masyarakat Minangkabau tersebut menjadi rekomendasi bagi penyelenggara negara untuk melakukan upaya pencegahan perilaku koruptif sejak dini dan bukan menunggu perilaku koruptif masyarakat terjadi setelahnya baru akan ditindak dan menjadi sebuah paradigma baru terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. ***

You Might Also Like:

Newest PostNewest Post