Masa Kecil Dan Mencari Ilmu Syekh Haji Abdul Majid Guguk Salo

Tags

Pada tulisan sebelumnya telah dikisahkan kilasan sosok Syek Haji Abdul Majid Guguk Salo dan tulisan berikut adalah catatan masa kecil dan mencari Ilmu dari Syekh Haji Abdul Majid. (Bagian Pertama Klik Disini)

Disusun oleh: Buya Haji Ramli, M.Nur Engku Mudo, Almanar HAM.

Hari dan tanggal lahir Syek Haji Abdul Majid tidak diketahui secara pasti. Sebab pada umumnya orang-orang tua dahulu jarang yang mencatat hari/tanggal kelahirannya. Namun demikian, dapat juga diperkirakan bahwa Syek Haji Abdul Majid lahir sekitar tahun 1875 M.

Keterangan ini diperoleh sewaktu Syekh Abdul Majid masih hidup. Syekh Abdul Majid menambahkan, orang-orang yang sedikit lebih tua dari Syekk Abdul MAjid seperti Syekh Muhammad Jamil Jambek di Bukit Tinggi , Syekh Muhammad Thaib di Sungayang dan Syekh Sulaiman Ar Rasuly di Canduang adalah seangkatan dengan Syekh Abdul Majid, bahkan teman yang paling akrab semasa hidupnya.

Ayah Syekh Abdul Majid bernama Muhammad Zen meninggal sewaktu Syekh Abdul Majid berumur 6 tahun. Ibunya bernama Hamatun wafat 2 tahun sesudah ayahnya meninggal. Dalam arti Syekh Abdul Majid telah yatim piatu sejak umur 8 tahun.

Hamatun mempunyai seorang saudara laki-laki yang menjabat kepala kaum dalam Suku Kampung Dalam , bergelar Dt Pardano. Jadi Datuk Pardano adalah mamak Syekh Abdul Majid yang memeliharanya semenjak ditinggalkan oleh ayah dan ibu.

Abdul Majid tidak mempunyai saudara laki-laki, kecuali seorang saudara perempuan seibu bernama Zamzam. Pekerjaan sehari-hari adalah membantu mamak , kesawah, keladang dan pada malam hari beajar Al Quran.

Semenjak ditinggalkan ayah dan Ibu, Syekh Abdul Majid dalam asuhan mamak dan amai (istri paman-mamak), maka bermula pulalah dirasakan suka dan duka hidup, mengerjakan pekerjaan yang selama ini belum pernah dikerjakan dan sering kena marah, namun Abdul Majid tetap sabar.

Dengan ketekunan belajar Al Quran pada malam hari, Syekh Abdul Majid sempat menamatkan Al Quran (Khatam) pada tahun 1884 setelah belajar selama lebih kurang 4 tahun.

Mencari Ilmu

Dihari Minggu pagi, shubuh orang kampong telah berdatangan ke Masjid untuk untuk sholat subuh. Abdul Majid pun ikut bangun dan pergi ke Masjid melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Selesai sholat orang banyak telah kembali kerumah masing-masing. Tinggalah beliau dengan Gharin (petugas Masjid). Saat itu Abdul Majid teringat kata-kata “ Carilah Ilmu itu walau kenegeri Cina”.

Tanpa berfikir panjang, ia melangkah menuju rumah mamak. Setibanya di rumah mamak, dilihat mamak termenung dan beliaupun termenung sambil berfikir. Bagaimana cara menyampaikan maksud hati ini kepada mamak. Kalau-kalau marah padanya nanti. Pikir-pikir lagi. Biarlah mamak marah, namun maksud hati ini tetap disampaikan.

Mal ! Saya ingin pergi dari rumah ini untuk sementara waktu, mencari ilmu kenegeri orang. Jawab mamak Ah ! – Mencari Ilmu yang kau baca. Yang akan dimakan saja tidak cukup. Sawah dan lading sudah tergadai. Sebaiknya kamu ikuti mamak berjudi dan menyambung. Untung –untung-untung menang, kita tebus harta yang tergadai. Kalau kamu tidak mau terserah.

Kalau begitu pendapat mamak, biarlah saya tidak ikut berjudi dan menyambung. Izinkanlah saya pergi kerantau orang untuk mencari ilmu pengetahuan. Ilmu Pengetahuan itu adalah sangat penting sekali menurut keterangan guru mengaji disurau.

Nah ! mamak lihat, hatimu keras, kemauan kamu keras kepala. Tapi mamak tidak ada uang bekal mencari ilmu untuk kamu itu. Mamak berpesan ; Apa pesan mamak sampaikanlah.

Kalau kamu pergi kelapau
Yu Beli belanak Beli
Ikan Panjang Beli Dahulu

Kalau kamu sampai dirantau
Ibu cari, dunsanak cari
Kasih saying orang cari dahulu

Nasehat mamak itu bagus dan senang hati saya dibuatnya. Kalau boleh saya minta supaya nasehat itu ditambah lagi untuk bekal dalam hidup saya.

Yang kurik itu adalah kundi
Yang Merah itu adalah sago
Yang Baik itu adalah budi
Yang Indah itu adalah baso

Setali beli tali
Sekupang beli papaya
Sekali kehilangan budi
Selama hidup orang tidak percaya

Sekarang izinkanlah saya berjalan mencari ilmu, lepaskanlah saya dengan hati senang, mudah-mudahan sampai maksud dan tujuan. Selamat saya dalam perjalanan, selamat mamak dan keluarga yang ditinggalkan, Ma’afkan semua kesalahan. Wassalaamu’alaikum wa rohmatullahhi wabarakatuh.

Setelah mendapat izin dari mamak , beliau turun dari rumah mamak , singgah sebentar di rumah Ibu Saurah (Keluarga/dunsanak sepesukuan) anak kemanakan Dt Pardano juga. Abdul Majid menyampaikan maksud hati bahwa hari ini beliau berangkat mencari ilmu pengetahuan kenegeri orang, mohon izin dan sekaligus pamitan.


Ibu Saurah terharu atas kepergiannya, namun ibu gembira bila kelak kamu menjadi orang baik-baik dab berilmu pengetahuan yang banyak. Inilah sebungkus nasi bekal dimakan dalam perjalanan dan terimalah uang sebengo=2,5 sen . Terima kasih, Bu. Assalamu’alaikum W.w, Wa’alaikum salam. Selamat jalan.

Dari rumah Ibu Saurah Abdul Majid berjalan arah ke Timur menuju Nagari Supayang, Situmbuk dan Sumanik. Karena di Sumanik ada orang yang telah agak lama kembali dari Mekkah. Namanya Haji Sumanik dan teman Haji Sumanik lainnya adalah Haji Piobang di Payakumbuh, Haji Miskin di Pandai Sikek Pandang Panjang. **** (Dunia Hukum --Bersambung  lihat disini ) 

Mencari ilmu



Artikel Terkait