Metafora Adat, Sawah Gadang Padi Satampang Banieh

Catatan Emral Djamal Dt Rajo Mudo

Banyak kalangan di dunia, mengakui keberadaan orang-orang Minangkabau sebagai sosok komunitas budaya yang ahli kias, ahli adat , ahli sastra, pemikir-pemikir sosial budaya yang tangguh, diplomat, dan ahli perenungan keagamaan yang arif bijaksana.

Minangkabau secara tradisi menyebutnya : Ahli Akal, ahli hukum-hukum akal inteligensia, Ahli Adat, ahli hukum sosial kemasyarakatan, Ahli Isqy, yakni ahli-ahli perenungan, pemikir-pemikir sejati. Dan semuanya itu disebut Cati Bilang Pandai, artinya Ceteria-ceteria (satria-satria) yang diperhitungkan kepandaiannya.

Dalam simbol tradisi lainnya, Cati-cati Bilang Pandai ini, berada dalam naungan sosok pribadi seorang pemimpin ilmuwan, pemikir, ahli strategi sosial, ekonomi, budaya, dan pertahanan wilayah yang dikenal dengan gelar kebesaran : Niniek Indojati, artinya Indra Sejati. 
Hukum Adat Minangkabau

Dari tangan-tangan berkualitas seperti inilah, sesuai dengan konteks-nya, pada zaman kelahiran adat itu dalam wujud idealnya dikiaskan sebagai :

Sawah Gadang, 
Satampang Banieh, 
Makanan Anak Tigo Luak”.
Sawah Gadang dengan bibit benih yang setampang ini, memproduksi butir-butir padi ilmu yang dalam ungkapan sering disebut sebagai ilmu padi. Konsep-konsep ilmu, tentang tatanan sosial dari sebuah kehidupan masyarakat agraris diibaratkan sebagai makanan anak tiga luak, makanan yang akan dicerna sebaik-baiknya sehingga menumbuhkan kehidupan yang subur pula kelak di kemudian hari.

bialah urang batanam buluah
kito batanam padi juo
bialah urang badandam musuah
kito batanam budi juo.

jikoknyo kito batanam padi, 
sananglah makan adiek-baradiek 
jikoknyo kito batanam budi, 
urang nan jaek manjadi baiek.

Tetapi dalam perjalanannya kemudian padi yang satampang banieh itu karena musim yang berganti, iklim yang berubah sehingga proses sosialisasi dan transformasi nilai-nilai adatnya jadi terhalang. Betulkah kita sekarang tidak mengetahui lagi apa wujud sebenarnya padi satampang banieh itu.

Namun kemudian sejarah mencatatnya, bahwa ternyata Sawah Gadang Satampang Banieh terpaksa “gulung tikar atau barangkali menggulung diri”, lalu beradaptasi ke arah bentuk profesi yang lain, dan dalam kiprah perubahannya mengembangkan diri dalam wujud metafora : “Cadar dan Pedang yang gagangnya dari Saga”. 

Dan pada konteks yang lain, akibat keadaan darurat, dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, dan serangan dari luar, adatpun beradaptasi dan tampil dengan metafora “benteng”, menghimpun dan membuat strategi baru berupa benteng kekuatan pertahanan wilayah, parik paga dalam nagari.

Dalam upaya menghadapi berbagai serangan arus global dan tantangan musuh yang datang dari luar, sesuai dengan semboyan perjuangan kaum adat, ketika Kompeni Belanda melontarkan kalimat : Adat kompeni di kompeni, adat melayu di melayu”. Lalu kemudian ditanggapi pula oleh kaum adat dengan ungkapan : Kompeni berbenteng besi, Minangkabau berbenteng adat.*