Skip to main content
Boy Yendra Tamin

follow us

Sains dan Problematik Keterbatasan

Oleh: Boy Yendra Tamin

"saat ini tidak satu negara-negara dberbagai belahan dunia yang mengabaikan soal sains, bahkan sains menjadi simbol eksistensi suatu bangsa. Demi sains suatu negara mengalokasikan baget yang tidak sedikit untuk  tujuan-tujuan  dalam berbagai dimensi keperluan. Sungguh pun demikian tetap  selalu ada ruang  apa yang sebut dengan sain dan problematik keterbatasan".

Diberikannya nama kepada abad 20 sebagai abad sains menut hemat penulis tanpa disadari telah mengantarkan manusia pada kecenderungan hidup pragmatisme. Meskipun dirasakan pula sains terkadang mengendalikan kehidupan dan jalan hidup manusia dan manusia tampak juga tunduk pada sains. Hal ini tentu tidak bermaksud sebagai pemakzulan atas sains bagi dan dalam kehidupan manusia. Sebab dalam kurun waktu yang panjang sains telah menyumbang bagi kemajuan sosial manusia dan memberi faedah. Akan tetapi penulis tidak sepenuhnya sepakat dengan pemberian abad 20 sebagai abad sains dan hal ini hanyalah sebuah marginallisasi bagi suatu bidang yang dikelompokan bukan sebagai sains. Pengelompokan sains dan bukan sains telah mencabik kehidupan sosial dan peradaban manusia sekarang dan masa barangkali akan lebih melebar dimasa mendatang.

Dalam konteksnya dengan uraian di atas, Bustanudin Agus mengemukakan, bahwa corak pembangunan suatu masyarakat dipengaruhi oleh tipe ilmu pengetahuan yang dikembangkan dalam masyarakat tersebut, terutama ilmu sosial dan kemanusiaannya. Masyarakat yang mengandalkan sains dan teknologi dalam pembangunannya, mendasarkan kebijaksanaan yang akan ditempuh kepada rekomendasi ilmiah. Tetapi teori dan rekemondasi ilmiah,  terutama ilmu sosial dan kemanusiaan, berbeda satu sama lain berdasarkan latar belakang pemikiran dan landasan konseptual pengembangannya. Karena itu di masyarakat sekuler yang kebijakannya disepakati untuk dijauhkan dari ajaran agama, seperti dinegara-negara Barat, pengembangan ilmu harus dibebaskan dari nilai-nilai ajaran agama apa pun.[1] Penjauhan ajaran agama dalam pengambilan kebijakan sebagaimana yang terjadi pada masyarakat sekuler adalah indikasi dari keterbatasan sains, dimana sain tidak mampu mengakomodir seluruh sisi kehidupan manusia. Artinya dengan mengambil garis pemisah atau menjauhkan ajaran agama apa pun membuktikan sains tidak bisa menembus aspek-aspek spritual sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Hal ini meyakinkan kepada kita, bahwa sain hanya bisa menyentuh wilayah material.

Kemuduan, sejauh mana keadaan serupa itu berlansung bisa diamati dengan mudah diberbagai tempat. Dalam dunia kodokteran misalnya, proses medis di rumah sakit negara-negara modern (Barat) didominasi oleh alat-lat hasil penyelidikan sains. Dokter-dokter memerlukan alat kesehatan dan memiliki ketergantungan pada alat kesehatan dalam melakukan penyembuhan penyakit pasien. Seorang dokter cenderung menyerahkan keahliannya kepada alat kesehatan dalam mengalisa penyakit atau menentukan tindakan medis terhadap pasien. Contoh lain, berbagai hasil temuan sains terhadap pengembangan dunia pertanian acap kali menggusur cara tradisonal yang sudah digunakan petani sejak lama, mulai dari pola tanam, pembibitan dan pemupukkan dalam upaya mempercepat dan memperbesar produksi. Pembangunan perumahan dan pemukiman masyarakat seringkali diperhitungkan dengan studi-studi kelayakan ilmiah dan pada gilirannya mengubah peradapan dari isi kompleks dalam suatu bentuk kumunitas dan peradaban baru yang berbeda sama sekali dengan nilai sosial dan peradapan atau budaya mereka sebelumnya.

Pandangan menarik lainnya mengenai problematik Ilmu dalam perspektif keterbatasan dikemukakan Lei Shu Hong yang menyatakan, bahwa walaupun dalam puluhan tahun ini pemerintah berbagai negara telah mengeluarkan banyak sekali dana, dan tak terhitung banyaknya ilmuwan yang kecedasannya luar biasa juga melakukan penelitian terhadap penyakit kanker, hingga lupa makan lupa tidur (dengan Jepang sebagai contoh, rata-rata dalam 13 tahun ini, tiap tahun terdapat 1200 lebih professor dan professor madya terjun dalam penelitian terhadap penyakit kanker), berusaha dalam terapi dan pencegahannya mendapatkan suatu terobosan, akan tetapi yang sangat disayangkan adalah dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, ternyata persentasi terjangkitnya penyakit kanker tiap tahun menunjukkan kecenderungan meningkat, dan hingga saat ini, terapi terhadap kanker belum mencapai kemajuan yang berarti. Setelah diagnosa ditegakan, hanya separuh penderita dapat bertahan hidup selama 5 tahun. Situasi sekarang adalah di negara-negara maju seperti Amerika, Canada dan Jepang dalam 3 orang terdapat seorang meninggal karena kanker. Lagipula fenomena yang sering terjadi adalah: ketika diketahui adalah kanker, telah berada pada stadium akhir. Jepang sebagai contoh, sejak tahun 60-an telah dimulai usaha penemuan dini dan terapi dini, dalam masa ini, kanker malahan berkembang menjadi penyebab utama kematian. Menurut pemberitaan dari Harian Chaore Xinwen-Jepang, th 1995 terdapat sebanyak 263.000 orang meninggal karena penyakit kanker, sepertiga dari jumlah seluruh orang yang meninggal, th 2015 diperkirakan mencapai 600.000 orang. Pada th 1996 di Amerika terdapat 550.000 orang, di Eropa tercatat sebanyak 850.000 orang meninggal karena penyakit kanker. Di Korea th 1999 terdapat kasus kanker sebanyak 82.320 kasus, meningkat 7,1% dari tahun sebelumnya. Kedengarannya sebuah angka yang menakutkan, apakah dapat membuat kita kehilangan kepercayaan diri terhadap kemampuan ilmu pengetahuan dalam mengatasi kanker ?

Paling tidak kita harus instropeksi terhadap alur pikiran dan metode penelitian ilmu pengetahuan modern, karena perkembangan ilmu kedokteran modern tidak hanya tak berdaya menekan peningkatan persentasi terjangkitnya penyakit, juga tak berhasil dalam terapi terhadap penderita kanker yang telah ditegakan diagnosanya. Penyebab pokoknya adalah penyebab penyakit dalam ilmu pengetahuan modern hanya terhenti pada perubahan permukaan materi saja, dan tidak secara fundamental menjelaskan mengapa manusia bisa sakit.[2]  Apa yang terakhir di kemukakan Lei Shu Hong, menurut hemat penulis menunjukkan kepada kita bahwa ilmu dalam artian yang bersumber kepada kemampuan manusia memiliki keterbasan yang luar biasa, bahkan meskipun abad ini yang dinamai abad ilmu, ilmu ternyata tidak berdaya menghadapi da menyelesaikan masalah manusia itu sendiri.

Betapan pun kita sudah menangkap kritik yang tajam terhadap sains, namun sepanjang memberikan kontribusi bagi perbaikan kualitas hidup dan peradaban manusia kearah yang lebih baik, tentu tidak ada masalah dengan sains. Tetapi ketika keseluruhan atau sebagian besar  aktivitas manusia diserahkan kepada sains, atau ditentukan oleh sains, sebenarnya sains telah mendatangkan masalah bagi manusia dan hal itu terjadi tanpa disadari. Penulis tidak sepenuhnya sependapat dengan Hoover sebagaimana dikutip Bustanudin Agus. Menurut Hoover, bahwa pengetahuan imiah bersifat objektif, sistematik, lebih persis dan telah teruji.[3] Apakah benar sains sungguh-sungguh akurat dan tidak ada kesalahan, bahwa sains fungsinya tidak hanya menjelaskan fakta-fakta, tetapi juga untuk mencari cara yang efektif untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Fungsi untuk mengatasi masalah ini diwujudkan melalui pengadaan atau menghilangkan sebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi gejala dimaksud sebagaimana diungkapkan oleh teori. Faktanya betapa banyak yang telah dihasilkan oleh sains justeru menghasilkan masalah baru yang tidak terduga dan terkadang tidak bisa dipecahkan atau dicarikan jalan keluarnya  oleh sains. Tesis ini bukanlah suatu pandangan anti terhadap sains, sebaliknya justeru menggugat sains yang ”didewakan” suatu bangsa dan nyaris menguasai dan mengendalikan prilaku dan peradaban manusia. Mereka lupa, sains bukanlah segala-galanya dan  sains merupakan ancaman terhadap masa depan hidup dan kehidupan manusia dan sosialnya.

Kisah lumpur Lapindo di Jawa Timur misalnya, bukanlah sekedar kisah sedih atau keprihatinan orang Indonesia, tetapi sudah menjadi pembicaraan masyarakat dunia, terutama ahli sains. Berawal dari aktivitas untuk mengeksploitasi sumber daya alam dengan mempergunakan sains dan teknologi dan terjadi dampak yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Aktvitas pengoboran energi alam membuahkan luberan lumpur panas yang tidak terkendali dan terus menyebur sampai saat. Contoh lainnya adalah pilihan pada pengobatan alternatif bisa jadi karena setelah gagal mendapatkan kesembuhan kemajuan sains dan ada juga yang sejak semula tidak mau menyerahkan pengobatan mereka kepada dunia ilmu kedokteran. Apalagi, jika dikaitkan manusia yang menderita penyakit melalui  kemampuan sain ada yang sembuh ada yang juga yang menemui ajalnya, demikian pula yang menempuh melalui pengobatan alternatif ada sembuh atau juga yang menemui ajalnya. Fakta ini seharusnya menyadarkan kita bahwa sains hanyalah satu instrumen dari modal manusia melalui hidup dan kehidupanya. Meskipun demikian sains itu tetap menjadi suatu yang penting, bahkan sangat penting dalam perspektif hidup manusia. Jadi pentingnya sains menurut hemat penulis tidaklah terletak pada sekuler atau tidaknya suatu masyarakat bangsa.

Apabila saat ini dirasakan atau tampak garis tegas antara pendekatan kelompok masyarakat bangsa yang dipandang sekuler dengan kelompok masyarakat bangsa yang melakukuan pendekatan agama dalam menangani masalah-masalah sosial dan kemanusiaan atau dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, persoalannya tidak terletak pada perbedaan pandangan. Melainkan pada pemahaman dan kearah mana pergerakan sosial dan peradaban suatu masyarakat bangsa dibawa oleh pemimpinnya. Indikasinya bisa terlihat dari apa yang dikemukakan Bustanuddin Agus, bahwa agama dan budaya bersifat normatif, sedangkan dalam masyarakat sekuler yang mengedepankan atau mengandalkan ilmu dan teknologi, cara tersebut hanya bersifat rasional dan objektif.[4]

Pengelompokkan dua perbedaan pendekatan ini secara tajam, cenderung menyudutkan kelompok masyarakat yang mendasarkan diri pada ajaran agama setidak-tidaknya kurang rasional dibanding kelompok masyarakat sekuler. Suka atau tidak seringkali kelompok-kelompok masyarakat yang mengambil pendekatan agama dalam menyelesaikan masalah sosial dan kemanusiannya cenderung dipandang  ”terbelakang” ketika dipertemukan dengan masyarakat sekeluler yang sarat sains. Apalagi hasil-hasil kemajuan sains yang hasilkan masyarakat sekuler menjadi konsumsi masyarakar bangsa non sekuler, sekaligus melahirkan ketergantungan.

Namun masalahnya, apakah memang sains hanya milik masyarakat sekuler dan menjadi bagian dari peradabannya ?  Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa sains tidak membatasi diri ruang hidupnya antara masyarakat sekuler dan non sekelur. Sains hidup dan berkembang secara bebas dalam setiap masyarakat dibelahan dunia mana pun. Yang membedakannya adalah percepatan-percepatan mengambil mamfaat sains sebagai sebuah pilihan untuk pembangunan sosial dan kemanusiaannya. Di sisi lain adalah kegandrungan pada sains dipengaruhi oleh perkembangan budaya dan pilihan pada nilai-nilai mana yang akan dikembangkan dalam masyarakat bangsa itu sendiri. Aspek alam dan geografis dan pergaulan hidup sehari juga sangat menentukan apakah sains akan berkembang atau tidak dalam suatu masyarakat bangsa. ***

End Note:

[1]Bustanuddin Agus, Islamisasi Ilmu-Ilmu Sosial, Laboratorium Sosiologi FISIP Unand; 2005, hlm 16

[2]Lei Shu Hong, “Keilmiahan Falun Dafa Dan Keterbatasan Ilmu Pengetahuan Modern: Dari Perkembangan Ilmu Pengetahuan Modern dan Persentasi Terjangkit Penyakit Kanker Berbicara Tentang Kehidupan Memerlukan "Sejati-Baik-Sabar",  http://www.kebijakanjernih.net/index.php?option=com_content&view=article&id=26:keilmiahan-falun-dafa-dan-keterbatasan-ilmu-pengetahuan-modern&catid=50:bukti-ilmiah-kesehatan&Itemid=85

[3]Hoover dalam Bustanuddin Agus, Islamisasi Ilmu-Ilmu Sosial, Laboratorium Sosiologi FISIP Unand; 2005, hlm 17

[4]Bustanuddin Agus, Islamisasi Ilmu-Ilmu Sosial, Laboratorium Sosiologi FISIP Unand; 2005, hlm 18 dan periksa juga Bustanuddin Agus, Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial Studi Banding Antara Pandangan Ilmiah dan Ajaran Islam, Gema Insani Press, Jakarta 1999

Foto:salmanitb.com

Spesial Untuk Anda:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar