Sinergitas Konservasi Penyu Kawasan Taman Nasional Siberut

Catatan: Dr Harfiandri Damanhuri

Kenangan perdana ke gugusan Kepulauan Mentawai dengan menggunakan kapal kayu, berlayar selama 8-10 jam. Kami naik di Pelabuhan Muaro, Batang Arau, Kota Padang. Menikmati perjalanan panjang tengah malam dideru arus dan bunyi gelombang laut menggiringi perjalanan kami untuk dapat sampai ke ibu kota kecamatan ; Muara Siberut.

Sampai di Muara Siberut dengan berbagai kegiatan, kami berkesempatan mengunjungi Kantor Taman Nasional Siberut (TNS). Kantor TNS yang mengelola kawasan Taman Nasional dengan luas kawasan 190.500 ha. TNS ini didirikan untuk menjaga habitat hutan, keanekaragaman hayati, kawasan pesisir pantai, komunitas serta budaya masyarakat lokal yang terkandung didalamnya.

Baca juga: Taman Nasional Siberut, Hutan Hujan Basah Yang Unik

Sepuluh tahun belakang, TNS mulai peduli dengan kualitas air sungai dan air bersih dalam kawasan, peduli dengan keanekaragaman hayati ikan-ikan lokal perairan sungai dipedalaman. Mencari sumber-sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan, pelatihan pengolahan panganan lokal kepada masyarakat lokal dan melakukan survei, identifikasi jenis biota terancam di kawasan pantai TNS, salah satunya adalah biota Penyu Laut (sea turtle).

Konservasi penyu laut menjadi perhatian yang serius ke depan. Karena dengan kegiatan konservasi penyu ditepi kawasan hutan penyangga TNS, khususnya pantai barat. Diharapkan kegiatan konservasi penyu ini dapat mengurangi tekanan aktifitas penduduk tepi pantai, masuk jauh kepedalaman hutan. Selain itu juga diharapkan dari hasil survei, identifikasi, uji coba penetasan telur penyu secara in-situ dan telur yang re-lokasi serta monitoring secara kontinyu telah berhasil dilakukan khusus terhadap penyu lekang

Uji coba penetasan penyu dilakukan di pantai Desa Sagulubbek, Siberut Barat Daya. Satu lubang dengan jumlah 111 butir telur. Dari jumlah tersebut hanya 101 telur yang berhasil menetas. Sisinya 9 butir tidak berhasil menetas.

Lubang yang kedua dengan jumlah telur 89, yang tidak menetas hanya 10 butir, dengan rata-rata lama waktu inkubasi 54 hari. Tukik hasil tetasan tidak dipelihara, langsung dirilis pada 05 Februari 2018 dengan melibatkan guru dan anak-anak sekolah di Pantai Sagulubbek, Siberut Barat Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kedepan kegitan survei tetap akan dilakukan, pelatihan inkubasi in-situ dan pemberdayaan masyarakat sekitar lokasi pantai peneluran tetap diupayakan dengan mendam%pingi mereka.

Kegiatan tersebut melibatkan tenaga yang telah dilatih dan para Civitas Akademika Universitas Bung Hatta Padang, semoga sinergitas ini berkelanjutan salam konservasi pantai barat Taman Nasional Siberut (hd/ubh/15/3/2018).