Skip to main content
Boy Yendra Tamin

follow us

Gempa Besar di Simeulue Aceh 12 April 2012 Hanya Terjadi 2000 Tahun Sekali

Dunia Hukum -- Alam adakalanya hanya bisa di pelajari manusia  berupa gejala-gejalanya saja, sebagaimana halnya dengan soal kapan suatu gempa bumi akan terjadi.  Kajian terjadap potensi gempa tampaknya cenderung diketahui  setelah gempa suatu terjadi. Sehingga seringkali para ahli gempa mengemukakan, bahwa tiada seorang pun dapat memastikan kapan suatu gempa akan terjadi dan berapa kekuatannya.

Dalam kaitan analisis para pakar gempa, Pasca gempa berkekuatan 8,5 SR yang terjadi di barat Simeulue, Nangroe Aceh Darussalam. tanggal  12 April 2012 yang lalu banyak kalangan memberikan analisisnya, tidak hanya pakar gempa dari Indonesia tetapi juga para ahli gempa dari berbagai negara. Seorang diantaranya adalah Kerry Sieh, Direktur Earth Observatory di Singapura yang menyebutkan gempa besar 8,5 SR di Simeulue  itu adalah peristiwa yang hanya terjadi 2000 tahun sekali. Analisis Kerry Sieh itu selengkapnya seperti diberitakan  BBC Indonesia (bbc.co.uk/Indonesia, 13 April 2012 )

Ahli seismologi mengatakan gempa besar yang mengguncang Sumatera pekan ini adalah peristiwa yang hanya terjadi 2.000 tahun sekali dan meski dampak kerusakan tidak terlalu besar, gempa tersebut meningkatkan risiko tsunami besar di kawasan tersebut.

Gempa berkekuatan 8.5 dan gempa susulan sesudahnya adalah gempa jenis "strike-slip" dan merupakan tipe terbesar yang tercatat dalam sejarah, kata Kerry Sieh, Direktur Earth Observatory di Singapura.

"Gempa itu sangat besar dan peristiwa yang jarang terjadi," kata Sieh pada kantor berita Reuters.

"Selain itu gempa susulannya juga merupakan gempa susulan terbesar kedua di dunia," kata Sieh yang telah melakukan penelitian seismik di Sumatera selama bertahun-tahun.

Gempa strike-slip adalah gerakan horisontal akibat lempeng-lempeng bumi yang saling bertabrakan dan tidak memiliki kekuatan sebesar gerakan vertikal. Gempa kategori ini juga tidak memicu tsunami atau gelombang tinggi.

Pada 2004, gempa berkekuatan 9.1 mengguncang Aceh dan wilayah Sumatra lainnya, menewaskan 230 ribu orang di 13 negara.

Sumatera, pulau terbarat Indonesia, memiliki sejarah gempa besar serta tsunami yang dipicu oleh pesisir pantai di sepanjang pulau tersebut, dimana lempengan tektonik India-Australia berada di bawah lempengan Eurasia.

Hal ini menciptakan palung laut dalam karena setiap lempengan menyusup ke bawah lempengan lainnya sebanyak 1cm per tahun.

Pada zona yang disebut dengan Sunda megathrust ini, tekanan meningkat ketika lempengan India-Australia membengkokkan lempengan Eurasia seperti papan pelontar saat lempengan itu bergerak memasuki kerak bumi.

Akhirnya ketika tekanan mencapai titik tertentu, ujung lempengan Eurasia tiba-tiba terpental ke atas dan memicu gempa bumi.

Gerakan mendadak ini membuat permukaan laut naik dan volume air laut yang besar mengakibatkan terjadinya tsunami.

Risiko gempa

Sieh mengatakan gempa yang terjadi Selasa lalu kemungkinan besar meningkatkan tekanan di batas-batas lempengen dekat Aceh dan menambah potensi gempa dengan kekuatan serupa seperti 2004.

Penelitian Sieh yang telah dipublikasikan pada 2010 menunjukkan bahwa gempa delapan tahun lalu hanya melepaskan separuh saja dari tekanan yang tersimpan selama ratusan tahun di sepanjang garis Sundamegathrust yang mencapai 400 km.

Hal itu menyebabkan risiko terjadinya gempa besar di Sumatra hanya tinggal menunggu waktu.

Pada 2008, Sieh dan kolega-koleganya juga sudah menemukan bahwa 700 km bagian Sunda megathrust berada dibawah kepulauan Mentawai.

"Saya sangat yakin bahwa kita akan menyaksikan sebuah gempa besar di Mentawai dalam beberapa dekade mendatang dan kekuatan gempa itu akan setara dengan gempa yang baru saja terjadi," kata Sieh.

Analisis para ahli gempa seperti Kerry Sieh itu,  tentu seharusnya tidaklah menambah ketakutan bagi masyarakat yang berdiam disepanjang Pantai Barat Sumatera, khususnya masyarakat  sepanjang pantai barat  kawasan Sumatera Barat dan Mentawai. Analsiis pakar itu justeru menjadi energi bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan karena memang Indonesia, khususnya daerah sepanjang Pantai Barat Sumatera adalah daerah rawan bencana, khususnya gempa.   Disisi lain analisis para ahli gempa itu menjadi pendorong bagi mayarakat untuk selalu meningkatkan kesiapan menghadapi bencana dan sebagai pendorong bagi pemerintah untuk menyiapan sarana dan prasana menghadapi bencana, sehingga antara kesiapan masyarakat dengan kesiapan pemerintah berjalan secara integral.  Kapan gempa akan terjadi, hanya Allah yang tahu. (***) I  Ulasan Boy Yendra Tamin.

Spesial Untuk Anda:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar