Skip to main content
Dunia Hukum

follow us

Tiga Sajak Emral Djamal Dt. Rajo Mudo Yang Sarat Makna

Bagi kalangan budayawan, nama Emral Djamal sudah tidak asing lagi, apalagi di Sumatera Barat. Di Wikipedia.org disebutkan, Emral Djamal Datuk Rajo Mudo (lahir di Nagari Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 22 Maret 1944; umur 70 tahun) adalah seorang budayawan, penggali dan penggerak silat tradisional Minangkabau, sekaligus penghulu dari Suku Tanjung di Nagari Bayang. Ia sering menjadi narasumber dan pemakalah pada berbagai forum diskusi tentang budaya alam Minangkabau, baik di dalam atau di luar daerah Sumatera Barat. Tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam beberapa harian yang terbit di Padang.

Lebih jauh di WIkipedia disebutkan bahwa Ia (Emral Djamal) banyak menulis tentang silek, adat, dan sejarah Minangkabau yang digali dari warisan tradisi di Minangkabau yang berupa pidato-pidato adat, gelar-gelar adat, pitutur, wawancara dengan para pemuka adat dan tuo silek, pepatah petitih, dan naskah-naskah kuno. Ia menjadi salah seorang penggerak kegiatan Galanggang Siliah Baganti (GSB), suatu acara festival silat tradisional Minangkabau sebagai bentuk nyata dari upaya mempertahankan tradisi silek di Minangkabau dari kepunahan.

Selain menulis dan menggali soal budaya dan seni tradisi Minangkabau, Emral Djamal sebenarnya juga banyak menulis sajak yang berakar dari kedalamannya jiwa pada kehidupan tradisi Minangkabau dan kedalam batinnya pada aspek-aspek relegi, dan bahkan percampuran anara nilai kehidupan tradisi dan nafas Islam yang bersarang dalam dirinya.

Tiga buah sajak  Emral Djamal berikut setidaknya menjadi cermin guna menangkap pikiran, pandangan, makna hidup dan kehidupan dari seorang Emral Djamal (tiga sajak ini dikutip dari FB uwan Emral Djamal).

Mengarifi Sejarah Bukan Mengata

Oleh Emral Djamal Dt Rajo Mudo

1.

Saat aku mengarifi sejarah bukan mengata era zaman kegelapan yang panjang,

bawalah ruh jiwa dan hatimu padaKu, ketika :

dunia bertengkar, makar

tubuh terkapar, lapar

jasad terdampar, liar

fikiran berkisar, nanar

jiwa kesasar, mungkar

percaturan ambisi

selingkuh kedurjanaan nyala api

penjarahan negeri

wabah datang galodo jadi,

2.

Saat aku mengarifi sejarah bukan mengata era zaman kegelapan yang panjang

bawalah ruh jiwa dan hatimu padaKu, ketika :

akupun mengundang naga laut selatan

ulang mengulang peristiwa zaman  :

jawi orok lembu bercula

si keti muna sigulambai raya

si alimun si kalimun

si mambang biopari, dewa sati dewa peri

dewa tujuh bawah gunung

jumbalang jumbalik hantu siampa

jin lawik  jindarah jin serakah

segala wabah segala penjarah

3.

Saat aku mengarifi sejarah bukan mengata era zaman kegelapan yang panjang

bawalah ruh jiwa dan hatimu padaKu, ketika, aku bicara tentang peri segala rahasia :

tanah dahulunya bukanlah tanah, hanya air

air dahulunya bukanlah air, hanya angin

angin dahulunya bukanlah angin, hanya api

api dahulunya bukanlah api, hanya cahaya

cahaya dahulunya bukanlah cahaya,  hanya

hidayah pada akal budi-Ku

Sementara, lolongan srigala aumnya harimau ringkik kuda malam hari

murai berkicau pagi elang berkulit  di langit tinggi

kujalin kasih pada orang-orang dahulu,

para tetua segala datu

pendekar negeri panglima hulu,

imam khatib biopari segala tuanku,

ya syaikhi ya sayyidi ya penghulu bersenandung merdu

menguak kehijauan biru dalam gaung kalbu

4.

Saat aku mengarifi sejarah bukan mengata era zaman kegelapan yang panjang

bawalah ruh jiwa dan hatimu padaKu, ketika :

Sang nafiri Illahi penegak hak memetik tali kecapiNya, dan .

dari batang tubuh sang pewaris karunia jiwa, geliga Allah melantunkan puji asmaNya,

Takutpun hilang berani tiba sekata kita dalam alam seiya kita dalam negeri

!

yang tak mewarisi peradaban tak memiliki batas sempadan

Saat aku mengarifi sejarah bukan mengata era zaman kegelapan yang panjang

bawalah ruh jiwa dan hatimu padaKu.

1991

Kuteguk Embun Di Daun Keladi

Oleh : Emral Djamal

Kuteguk embun di daun keladi

kutuang air di lembaga diri

kutapik langkah tetua negeri

kugenggam sekepal tanah debu bumi

kutikam jejak telapak kaki para nabi

kusari kisaian hari tanah dan air ini

ku corak sebuah tatakala bidadari

Untukku,

kaumku dan bangsaku di pertiwi

peluh ipuh memayang seni

linang-linangnya menyapih hati

di malam menjelang pagi

Sayang,

sayang sekali

kuteguk embun di daun keladi

kutuang air di lembaga diri

minum setetes mabuknya berhari-hari

kata sepatah menyungkuri bumi

meminang-minang langit tinggi

Bila kuingat menggigil sendiri

bila dijamah aku lupa diri.

1998. emral djamal

KULINDAN SUMUR TUA

Oleh: Emral Djamal

Berabad-abad kudera hari-hari menegak diri mengemban amanah insani, pengabdian fikri atas perjalanan kisah orang-orang dahulu lewat khabar-khabar sunnah tentang kebangkitan umat para nabi sahabat-sa habat setia orang-orang saleh, jujur dan taqwa. Juga lembaran-lem baran kumuh salasilah tambo, tonggak tonggak tareh jilatang negeri,  rambu-rambu bagi persinggahan hidup di jagad raya ini semata.

Mambangkik batang tarandam,  menghidupkan tulang-tulang mati di kerapuhan sendi-sendi generasi bersimbah peluh keringat badani me rentakkan kaki menggetari hati mengesa alif membinar linang-linangan Illahi. Namun selalu saja diri ini terkait Lam, leher-leher kaku dibisu li dah kelu hati sendu. Pilu.

Kurebahkan jasad ini ke bumi bersimpuh lara, nestapa bergelimang sujud duka kezaliman diri yang hina dina. Di sajadah ini bumi hamparan kesadaran jagad raya, kupilah-pilah sampah semesta bak pemulung segala dosa penebus kegelapan abad demi abad perjalanan zaman berduka Laa laa.

Kucoba bersintak lagi bangkit tegak berdiri beralaskan dua telapak kaki melangkah serta Mim, mengepaki dua sayap tangan-tangan harapan mengitari pusaran Ha. Dan reruntuhan negeri ini kukubur kubur mati, kugiring di detak nadi melengkingkan era, kupiuh jadi tali kerinduan pada langit, ketika bumi bergumul menelan keengkaran dunia..

Lalu dari dua telapak tangan imajinasi ini setangkai bunga hadir dalam huruf Lam, spektrumnya kukembalikan pada alif, melesat tinggi menem bus petala langit sampai ke kaki. Riaknya menggetari petala bumi menelusuri sudut-sudut malam menuju waktu mendekap fajarku alif-Mu.

emral djamal, 1998

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar