Mass Tourism VS Ecotourism Sumatera Barat

Oleh Dr. Harfiandri Damanhuri
Dosen Pascasarjana Univ Bung Hatta

Sejak 80-an dunia terkejut oleh adanya perlawanan gerakan arus akar rumput yang didukung oleh penggiat lingkungan -konservasi serta dari review hasil-hasil penelitian (tim peneliti) menunjukkan bahwa fenomena aktifitas wisata yang "berkerumun" kesuatu tempat dalam jumlah orang yang berkunjung sangat banyak. Akibatnya akan menghilangkan rasa prevasi, kenyamanan, kedamaian, ketenangan suasana hati.

Untuk itu jumlah wisatawan yang datang ke suatu objek wisata yang menarik, baik itu kawasan darat ataupun dikawasan laut. Baik dipantai, dipermukaan laut dan dasar laut harus dibatasi jumlah wisatawannya

Tujuannya adalah agar kita dapat menjaga lingkungan dan ekosistem, mengendalikan sampah yang dibuang dan bersekaran. Mengendalikan kerusakan lingkungan. Yang diakibatkan oleh jumlah orang yang beraktifitas melebihi kapasitas daya tampung suatu tempat atau objek yang menjadi tujuan kunjungan wisatawan tersebut.

Para penggerak perubahan ketika itu menuntut pariwisata yang dikembangkan harus memperhatikan lingkungan alam, budaya dan hubungan sesama manusia dan interaksi masyarakat lokal dengan wisatawan pendatang pada lokasi yang menjadi tujuan. Maka inilah titik awal lahirlah "soft tourism", "eco tourism" dan "sustainable tourism".

Setiap orang yang menjadi wisatawan harus berhubungan dengan alam dan lautan, harus berhubungan dengan sistem-sistem ekologis di alam dan lautan, serta harus memestikan tujuan wisatanya adalah wisata yang keberlanjutan. Yang menjadikan kawasan alam darat, lautan, manusia dan budaya yang sudah ada berkembang secara natural di lingkungannya sendiri. Sehingga kegiatan wisatawan tidak akan mengganggu alam darat dan lautan, hubungan sosial, budaya dan interaksi manusianya.

Era lalu orang masih penasaran dengan pemandangan alami kawasan daratan, ketinggian dan lautan yang dapat dilihat (sight). Daya tarik yang dapat didengar seperti suara musik, lagu, bahasa komunikasi daerah, keramaian sebuah kampung/bandar/kota (hearing). Orang juga penasaran dengan keramah-tamahan orang Indonesia yang sangat terkenal, sambutan yang hangat dengan panggilan orang bule oleh anak-anak kecil "hallo mister-hallo mister" (smell). Lain pula halnya yang menggugah rasa dengan aroma yang khas pada cabe, kunyit, cengkeh, bawang putih, kulit manis, sambal tarasi, rendang dan dendeng balado yang ditokok dengan karakteristik rasa yang berbeda (teste). Juga para wisatawan berkeinginan memiliki kain tenun Silungkang, Pandai Sikek, ukiran khas rumah gadang, ukiran kayu berbentuk kapal, bentuk panah, bentuk papan surfing, bentuk jam gadang yang merupakan oleh-oleh handycraft buatan masyarakat lokal (touch).

Era Now (2000) dengan kemajuan teknologi semua titik pandang, hal yang di dengar, senyum, rasa dan sentuhan sudah dapat diwakili dengan melihat foto, gambar, video dengan captionnya. Maka "sight" salah satunya sudah bermotemorfosis dengan cara pandangan mata yang lebih mudah dipengaruhi oleh foto-foto yang unik dan menarik melalui media sosial. Dengan foto sight (pandangan), smile (senyuman), taste (rasa), touch (sentuhan) sudah dapat terwakili.

Hal yang lebih utama bagi wisawatan now, biasanya sangat memperhitungkan kemudahan akses. Apakah ia mesti berjalan kaki jika turun dari pesawat, untuk naik kendaraan lain. Ataukah ia harus menaiki moda penghubung lainnya dan harus mengeluarkan biaya ekstra. Selain itu wisatawan now juga memerlukan peta-peta yang detail, jelas, ada nama, ada nomor yang mudah diakses secara cepat dengan HP dan teknologi yang ada ditangannya.

Jadi mereka tidak perlu bertanya berulang-ulang dan yang ke tiga adalah apakah lokasi objek wisata yang akan dikunjungi sudah terkoneksi dengan tuor operator, travel online..

Yang tidak boleh ditinggalkan adalah kerjasama antar kota wisata yang terdekat. Sehingga wisatawan akan datang ke kota-kota terdekat dengan objek wisata dan daya tarik yang berbeda. Tentu sangat diperlukan masing-masing kota punya destinasi yang berbeda dengan kota lainya, sebagai identitas dari kota tersebut (icon).

Perbedaan antar kota/nagari daya tarik tentu akan membangkitkan hasrat mereka untuk dapat melihat lagi. Merasakan yang belum dirasakan dan dinikmati atau dilihat pada kota pertama, kota kedua yang ia kunjungi.

Saat ini dalam proses pengembangan wisata bahari minat khusus (ekowisata), tetap harus mempertanyakan kanapa lama tinggal wisatawan asing di beberapa kota Sumatera Barat hanya dua-tiga hari (selain Mentawai atau resort yang di kelola asing). Karena daya tarik yang sesunggunya tentang alam, laut, budaya, kuliner dan daya tarik lainya berada di luar pusat kota utama, dimana ia pertama kali menginjakan kakinya.

Untuk itu mari kita berbenah secara bersama dengan mazhab ecotourism dengan menghargai perbedaan masing-masing kota sebagai sebuah "icon" yang menjadi daya tarik. Serta melanjutkan program pengembangan kawasan wisata yang terintegrasi, ndak bisa masing-masing daerah jalan sendiri-sendiri, tanpa koordinasi pada level propinsi, semoga berhasil. salam konservasi (hd, 11.12.2017)