Beberapa Prinsip Good Governance Dalam Adat dan Budaya Minangkabau

Oleh Helmida 

Prinsip-prinsip pokok dari Good Governace ternyata bisa ditemukan dengan mudah dalam  adat dan budaya Minangkabau. Partisipasi masyarakat merupakan bagian dari prinsip good governance bila ditinjau dari perspektif adat dan budaya Minangkabau, banyak sekali berperan aktif masyarakat dalam pembentukan nilai budaya dan nilai- nilai adat ditengah-tengah masyarakat Minangkabau, diantaranya dalam menentukan kepemimpinan atau tokoh–tokoh yang jadi panutan masyarakat adat setempat karena bagi masyarakat tersebut kepemimpinan itu ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah artinya dalam budaya adat Minangkabau pemimpinya tidaklah otoriter atau sewenang-wenang terhadap warga masyarakat apalagi tata kelolanya yang sangat buruk, mereka sangat meyakini pemimpin mereka itu bertindak adil dan baik tercemin bahwa dalam sikap dan jiwa pemimpin mereka adalah orang yang dipandang mulia, disegani jadi panutan masyarakat, karena sedikit berbuat salah akan berdampak besar atas keputusan yang diambil, maka pemimpin bagi masyarakat adat Minagkabau orang-orang yang berilmu, orang-orang yang terpandang dan orang-orang akan mengerti agama. sehingga setiap tindakan dari seorang pemimpin akan jadi pedoman bagi masyarakat adat tersebut.

Masyarakat adat Minangkabau membudayakan pendidikan, dimana pendidikan sangat utama bagi mereka, karena bagi mereka belajar atau menuntut ilmu bisa didapatkan dari mana saja tidak hanya dibangku sekolah atau formal maupun informal melainkan alam takambang jadi guru artinya masyarakat belajar dari alam, makna alam disini merupakan ilmu yang mudah dipahami dan dimengerti oleh masyarakat adat Minangkabau setempat, dengan alam masyarakat belajar, alam memberikan tanda baik dan tanda buruk dan alam tersebut juga bisa membawa bencana bagi mereka yang tidak bisa menjaga kelestraian alam karena diamana bumi dipijak disitu langit dijunjung antara daerah adat yang satu dengan adat yang lain sangat berbeda budaya dan bahasanya sehingga masing-masing dari daerah tidak akan sama memperlakukan adat istiadatnya, begitu pula jiwa kewirausahaannya yang sangat tinggi, masyarakat adat Minangkabau tercemin dari segala usaha mereka yang beraneka ragam mulai usaha home industri, Usaha Kecil Menegah ( UKM ) maupaun usaha besar, semuanya telihat pada pengusaha yang sukses di perantauan diluar pulau sumatera, banyak yang sukses menjalankan usahanya yang berasal dari masyarakat Minangkabau. Mereka berkembang dengan usahanya dibidang masing- masing , ada yang sukses dibidang perhotelan, perkebunan maupun pertanaian, hal ini tercemin dalam sikap adat yang suka bermusyawarah dalam mengambil keputusan karena Bulat aie dek pambuluh bulek kato dek mufakek, karena keterbukaan dalam mengambil keputusan merupakan bagian dari good governance adat dan budaya Minangkabau, dengan keterbukaan akan melahirkan keputusan yang dikehendaki masyarakat adat Minangkabau oleh karena itu kata mufakat menciptakan suasana kondusif, damai dan bermatabat, keputusan yang diambil dengan cara tidak mufakat akan berdampak pada masyarakat yang terpecah belah karena tidak terpenuhinya harapan meraka sesuai yang mereka inginkan, akan tetapi kata sepakat lahir karana ada kata mufakat, baik dalam pengelolaan harta pusako tinggi secara turun temurun, harta pusako tinggi ini boleh digadai jika memenuhi syarat-syarat tertentu ( anak gadih alun balaki, mayaik tabuju ditangah rumah dan rumah gadang ketirisan serta mambakik batang tarandam ) pusako tinggi tidak boleh diperjual belikan, seperti sawah dan ladang , sawah biasa diartikan air dan ladang bisa diartikan dengan tanah aturan ini sampai saat ini masih di taati oleh pemengang harta pusako tinggi tersebut, dan tidak ada masyarakat adat yang melanggar aturan adat dan budaya ini meskipun tahun telah berganti tapi aturan ini tidak lekang oleh waktu terus berlaku sampai saat ini.

Bila dilihat dari arsitektur rumah gadang di Minangkabau berbentuk panggung dan hanya menggunakan kayu dengan pasak tiang penyangga dan diatas batu tertanam artinya ke kokohan rumah adat ini sagat baik untuk mengatasi bila terjadi gempa bumi karena pulau sumatera rentan sekali akan gempa bumi, begitu luar biasanya pemikir masyarakat Minangkabau telah memberikan solusi yang terbaik dan mengatasi masalah sebelum terjadinya masalah gempa bumi dan bila dilihat dari segi efisien dan efektifitasnya maka rumah adat Minangkabau ini selain di nilai dari seni ukiran dan bergonjongnya maka sangat efektifitas sekali, jika ditinjua dari segi kesehatan sangat bagus karena bahan dasar terbuat dari kayu bukan semen, kayu sangat baik untuk kesehatan , terhindar dari sakit biri-biri ataupun rematik, dinginnya tembok sangat mempengaruhi otot-otot tubuh manusia.

Bila dilihat dari segi kuliner / masakannya sangat khas sekali hingga mendunia dan viral di dunia mensos karena dimasak mengunakan bahan bakar kayu pilihan seperti masakan rendang, rendang salah satu contoh makanan yang sangat disukai masyarakat luas, tradisi ini sepertinya akan diwarisi secara turun temurun bagi keluarga yang memiliki usaha dibidang rumah makan, rendang tersebut akan lezat bila dimasak dengan tungku atau kayu karena akan mempengaruhi citra rasa atas rendang tersebut. Tidak ada satupun rumah makan Minangkabau bila tidak menyediakan rendang, oleh karena itu rendang merupakan icon masakan Minangkabau seperti telah berbudaya kemana- mana baik didalam negara sendiri ataupun dimanca negara. Masih banyak masakan adat Minangkabau yang perlu di publikasikan disebabkan masakan tersebut lahir dari masing- masing daerah seperti nasi kapau, dendeng tokok balado, samba lado tanak dan gulai kapalo ikan karang, semua masakan tersebut sangat diminati di Minangkabau. Selain kulinernya masyarakat adat Minangkabau sangat suka berpantun dan berpepatah dan petitih, disini maksudnya adalah bahwa kiasan dalam berpantun sangat bermakna bagi mendidik generasi muda atau masyarakat adat setempat dengan cara komunikasi dalam berpantun seperti pangka jagung baurek mati, umpan tangkariak anai-anai, dimano sajo kampung dihuni, disinan pulo adaik dipakai. artinya pantun ini mengajak kita dimana saja kita tinggal adat itulah yang kita pakai, kita tidak boleh memandingkan adat yang satu dengan adat yang lainnya sehingga apapun adat istiadatnya diadaerah tersebut berarti itu pedoman yang kita pakai, adat tersebut yang kita jalankan dan adat tersebut yang kita laksanakan, dari sisi good governance dapat kita lihat persepektifnya transparansi dan dapat dipertanggung jawabkan karena telah menjadi kebiasaan dimasyarakat Minangkabau.

Kata berpepatah dan petitih dapat kita jumpai dengan pidato adat, pidato pemerintahan nagari, saat meminang pasangan dari ninik mamak, acara pengangakatan gelar datuk, acara berdoa dihari baik atau dihari kemalangan/ berduka ciata dan lain- lain sebagainya. Contoh pepatah Minangkabau yang sering terpakai ditengah- tengah masyarakat adalah : balabihan ancak-ancak kurang sio-sio maknanya adalah segala sesuatu yang diperbuat tidak boleh berlebihan dan tidak boleh pula sangat kurang hal itu juga tidak baik artinya harus seimbang antara pendapatan dengan pengeluaran. Kata seimbang disini harus sesuai porsi kebutuhan tidak boleh mendahulukan keinginan karena berdampak pada keharmonisan dalam suatu hubungan. Untuk itu segala sesuatunya harus diperhitungkan secara baik dan benar. Masyarakat Minangkabau telah memikirkan prinsip-prinsip good governance dan dapat dikatakan telah menjadikan budaya dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat adat dan dapat dilihat dari urain di atas dan jika terjadi diluar uraian di atas maka dapat dipastikan bagaian kecil tersebut tidak bisa memahami adat istiadat Minangkabau secara benar dan baik. (mhs-pps-ubh/ed-dh1)