Skip to main content
Dunia Hukum

follow us

Perbaikan Ekosistem-Lingkungan Secara Alamiah

Oleh Dr Harfiandri Damanhuri

Pascasarjana Univ Bung Hatta

Tahun 2018, TWP Pieh, Pak Wawan Darmawan mendiskusikan dan menyampaikan hasil perbaikan kondisi lingkungan secara alamiah dengan melakukan pengawasan, penjagaan dan monitoring terhadap komponen biotik dan abiotik lingkungan dalam kawasan konservasi.

Penyampaian hasil monitoring setelah terjadinya peristiwa pemanasan global yang mengakibatkan terjadi pemutihan terhadap ekosistem karang (coral bleaching). Serta membludaknya musuh utama karang dalam laut.

Salah satunya adalah CoT'S (Crown of Thorns/Starfish) atau bintang laut berduri. Biota penghisap utama alga pada karang, yang hidup-tumbuh subur pada asosiasi antara coral, alga dan coral polip.

Yenafri @ Kanti Sanari Dive mendapati kondisi ekosistem terumbu karang dari hasil penyelaman bersama timnya. Ditemukan ada recovery alami terumbu karang didalam kawasan. Saran beliau, sebaiknya pada setiap pulau mesti disiapkan adanya zona inti (protection zone) kawasan konservasi.

Hal itu merupakan langkah tepat dan terbaik dalam menjaga ekosistem sumberdaya lautan pantai barat. Dalam upaya menyelamatkan ekosistem terumbu karang, ikan karang, biota yang berasosiasi serta secara tidak langsung akan ikut menjaga kebersihan laut dari berbagai cemaran.

Saat ikut kegiatan pengamatan penyu dan lumba-lumba, banyak ditemukan sampah plastik yang bersumber dari nelayan. Plastik makanan ringan ukuran kecil yang dibuang ditengah laut.

Juga adanya aktifitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, berada dalam kawasan yang dilindungi, dijaga untuk keberlanjutan sumberdaya perairan dan kelautan pantai barat Sumatera.

Andriyatno Hanif menyatakan bahwa tingkat keberhasilan konservasi penyu in-situ dengan pengawalan dan monitoring ketat, berada diangka 87 %.

Ternyata penyu yang naik ke Pulau Pandan, TWP Pieh, KKPN lebih didominasi oleh penyu hijau (86 %) dari penyu sisik (14%) dari total pendaratan sebanyak 305 ekor individu penyu.

Pulau Pandan, salah satu pusat konservasi penyu alami-in-situ, dengan jumlah rilis anakan (tukik) penyu sebanyak 22.631 ekor, dari data TWP Pieh KPPN sampai 30 November 2018.

Tukik penyu berenang bebas dari pantai barat Samudera Hindia, menuju laut lepas dengan sendirinya dengan adanya cadangan makanan yang telah disiapkan sejak menetas, dibagian bawah tubuhnya yaitu "yolk".

Tukik re-lokasi sebaiknya dilepaskan diwaktu pagi sekali atau sore hari. Dimana tidak ada pengaruh cahaya matahari, yang dapat mengganggu mata tukik penyu, ketika tukik merangkak ke laut secara pelan dan pasti.

Selain pengaruh cahaya matahari terhadap mata penyu, cahaya juga akan menyerap kadar air yang ada ditubuh tukik penyu. Jika jarak perjalanan tukik penyu itu jauh, antara lokasi sarang alami tukik penyu dan bibir pantai (laut), akan dapat mengakibatkan tukik terhidrasi.

Sehingga akan mengurangi kemampuan olah gerak tukik dan dapat memperlambat dan menghentikan gerakanya. Pergerakan tukik penyu pelan. Akibat cahaya panas, tukik penyu akan mengalami dehidrasi hebat, tukik dapat menggalami gangguan dan dapat mengakibatkan kematian pada tukik.

Ketika tukik penyu menetas didalam pasir yang lembab, setelah 55-60 hari diinkubasi (eramkan). Tukik menetas akan berjuang naik ke atas permukaan sarang pasir, dengan kemampuan merekam (imprinting) suasana dan kondisi lingkungan.

Ketika tukik mulai bergerak, ia akan merekam segala informasi dengan menciuman, yaitu bau pantai, bau aroma daun atau pun vegetasi sekitar, khususnya aroma bau daun pandan.

Tukik penyu juga akan merekam arah angin. Merekam aroma laut yang asin, bunyi gerakan dan gulungan ombak. Semuanya masuk dalam sifat dan tingkah laku penyu "beaconing", yang hanya ada pada hewan penyu. (Pagi Sabtu, 22 Juni 2019)-(hd/UBH)

You Might Also Like: